Wisata Kepulauan Spermonde

April 5, 2012

Selat  Makassar dengan  Pulau kecil ini sebagian besar berada di wilayah Kota Makassar, termasuk dalam jajaran gugus pulau-pulau kecil. Untuk menjangkaunya cukup mudah, yang Anda perlukan adalah tiket perjalanan menuju Kota Makassar, dan dari Kota Makassar telah tersedia 3 dermaga penyeberangan yang saling berdekatan, yaitu : dermaga Kayu Bangkoa, dermaga wisata Pulau Kayangan dan dermaga milik POPSA (Persatuan Olahraga Perahu motor dan Ski Air) Makassar. .

Kota Makassar yang terkenal dengan wisata bahari memang menawarkan berjuta pesona keindahan alami, khususnya pantai. Namun, jarang orang yang tahu sebetulnya banyak sekali pulau-pulau kecil yang sangat indah di sekitar Makassar, salah satunya Pulau Samalona.

Pulau Samalona

Cara untuk sampai ke Pulau Samalona cukup mudah Anda hanya perlu menyewa perahu dari penduduk sekitar pantai Losari Makassar yang biasanya berprofesi sebagai nelayan atau jasa penyewaan perahu. Harga perahu mulai dari 300 sampai 600 ribu rupiah, pulang pergi untuk 10 orang. Namun, ingat jangan lupa tawar-menawar dengan pemilik perahu.

Waktu tempuh untuk sampai ke Pulau Samalona dari Pantai Losari sekitar setengah jam. Sepanjang perjalanan, Anda dapat menikmati hamparan laut biru terbentang luas seakan tak ada batasnya. Anda juga bisa melihat perahu-perahu nelayan yang sedang menangkap ikan.

Ketika tiba di Pulau Samalona, Anda akan disuguhi pemandangan hamparan luas pasir putih pantai, udara sejuk nan bebas polusi, dan pemandangan alam yang masih alami. Bayangkan, air laut yang begitu bening membuat Anda tidak pernah kesulitan untuk melihat indahnya biota laut di dalam sana.

Pulau kecil ini hanya berpenghuni sekitar 16 kepala keluarga dan luasnya tidak lebih dari 100 meter persegi. Serasa memiliki pulau pribadi, bukan? Anda pun bisa menyewa baruga (rumah singgah) yang hanya sekitar 250 ribu rupiah per harinya.

Anda juga bisa menunggu keindahan matahari terbenam di pesisir pantai sambil mengitari pulau kecil itu. Rasakan lembutnya butiran-butiran pasir putih di telapak kaki sambil sesekali memungut kerang yang terseret ombak. Belum lagi kegiatan voli pantai dan sepak bola di pasir tentu seru dan mengasyikkan.

 

Dini hari Anda Dapat menikmati  indahnya matahari terbit di Pulau Samalona. Sungguh panorama yang begitu sulit untuk dilupakan.

Berenang di laut. Beningnya air laut dan perairan yang dangkal membuat Anda aman untuk berenang , dengan menggunakan kacamata selam dan alat bantu pernapasan a,Anda bisa bersnorkle ria, menyapa ikan-ikan kecil yang beraneka warna dengan terumbu karang yang masih terjaga keasliannya. Jika beruntung, Anda akan menemukan kuda laut yang cantik dan bintang laut yang indah di sana.

Pulau Bonetambung

Pulau ini berbentuk bulat, dengan luas 5 Ha, atau berjarak 18 km dari Makassar. Posisinya berada di sebelah timur P. Langkai. Perairan sebelah utara dan timur merupakan alur pelayaran pelabuhan, dengan kedalaman lebih dari 40 meter (± 900 meter dari pantai), perairan sebelah barat terdapat rataan terumbu karang, pada bagian luar sekitas 1 km terdapat kedalaman besar dari 20 m, dan pada sebelah baratdaya sekitar 1 km terdapat daerah yang sangat dangkal dengan kedalaman kurang dari 5 meter. Belum tersedia transporatasi reguler ke pulau ini, dapat menggunakan perahu carteran (sekoci) 40 PK dengan biaya sebesar Rp. 600.000,- (pergi-pulang).

Pemukiman penduduk tersebar merata di pulau ini, dengan jumlah 481 jiwa. Vegetasi umum dijumpai adalah pohon kelapa. Beberapa kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat, adalah upacara Lahir bathin yakni mensucikan diri sebelum masuk bulan Ramadhan, Upacara Songkabala yakni upacara untuk menolak bala yang akan datang, dan upacara Pa’rappo yakni upacara ritual yang dilaksanakan oleh para nelayan sebelum turun ke laut, serta upacara karangan yakni upacara ritual yang dilakukan oleh para nelayan ketika pulang melaut dengan memperoleh hasil yang berlimpah.

Kondisi ekonomi masyarakat relatif baik dimana mata pencaharian utamanya adalah sebagai nelayan (90%) khususnya nelayan ikan kerapu Untuk mendukung sarana transportasi laut dipulau ini, telah dibangun dermaga pada sisi selatan pulau, selain fasilitas dermaga, terdapat 1 buah sekolah dasar (SD) dan 1 buah Puskesamas pembantu dengan tenaga medis 1 orang mantri, 1 orang suster dan 1 orang dukun, sanitasi lingkungan di pulau ini belum tersedia.

Kita juga dapat menjumpai sebuah masjid hasil swadaya masyarakat dan fasilitas olahraga yakni lapangan bola dan volley. Sebuah instalasi lidtrik dengan generator yang beroperasi pada pukul 18.00 – 22.00 wita melengkapi fasilitasv di pulau ini. Kepiting, crustasea, molusca, cacing pasir, kerang-kerangan, bintang laut, bulu babi, beberapa jenis ikan, seperti ; cumi-cumi, baronang, papakulu (ayam-ayam), mairo (teri), katamba, dan banyar merupakan biota yang umumnya dijumpai diperairan pulau ini. Sejumlah terumbu karang telah rusak, namun masih dapat dijumpai panorama bawah laut yang masih asri untuk lokasi snorkling. Disamping itu, upacara ritual masyarakatnya dapat menjadi atraksi wisata budaya bagi wisatawan.

Pulau Lumu-Lumu

Pulau Lumu-lumu berjarak 28 km dari kota Makassar, termasuk Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah. Posisi pulau ini berada di sebelah timur P. Lanjukang, dan merupakan pulau terdekat dari tiga pulau terluar Makassar. Untuk menuju pulau ini, belum tersedia transportasi reguler, hanya tersedia perahu carteran (sekoci) 40 PK dengan biaya Rp. 600.000,- (pergi-pulang).

 
 
Pulau Lumu-Lumu

Pulau ini berbentuk bulat, memanjang barat laut-tenggara. Sebaran terumbu karang yang mengelilingi pulau ini dengan kedalaman kurang dari 1 m, dan sebagian besar berubah menjadi daratan pada kondisi surut minimum. Perairan sebelah timur dan utara, merupakan alur pelayaran dengan kedalaman besar 30m, sedangkan perairan sebelah selatan sekitar 2 km dari pulau merupakan daerah gosong dengan kedalaman 5 m, kedalaman perairan antara gosong dan perairan sebelah barat P. Lumu-lumu hingga mencapai besar dari 30 m.

Walaupun luas pulau ini hanya 3,75 ha, atau hampir setengah dari luas P. Lanjukang, namun jumlah penduduknya mencapai 984 jiwa atau 30 kali dari P. Lanjukang. Pulau ini merupakan pulau terpadat penduduknya dengan tingkat kepadatan 262 jiwa setiap ha dan tersebar merata di seluruh pulau. Tidak banyak pohon dijumpai di pulau ini. Pohon yang terdapat di pulau ini: pohon kelapa, pohon kayu cina yang menempati sisi utara, barat dan selatan.

Jumlah masyarakat sejahteranya mencapai 90%, dengan mata pencarian utamanya sebagian nelayan, yang hanya menangkap ikan yang memiliki nilai jual tinggi seperti ikan sunu (grouper) dan ikan karang lainnya. Tingkat kesejahteraan masyarakat pulau ini juga tercermin dari peralatan tangkap yang digunakan sudah lebih maju dibanding nelayan tradisional, dengan menggunakan jaring insang (gill net).

Sebuah dermaga kayu terletak pada sisi timur untuk menunjang aktifitas keluar masuknya perahu. Terdapat sebuah masjid permanen, sebuah Sekolah Dasar dan sebuah puskesmas pembantu dengan satu orang suster, pos yandu 1 buah dan dukun beranak sebanyak 2 orang. Banyak dijumpai sumur dengan air payau dan hanya digunakan untuk kebutuhan mencuci dan mandi, sementara rumah penduduk belum banyak dilengkapi dengan jamban. Instalasi listrik dari PLN dengan 2 buah generator yang beroperasi antara pukul 18.00 – 22.00 Wita, dan tersedia fasilitas telekomunikasi.

Biota yang terdapat di pesisir pulau, adalah: padang lamun, rumput laut, kepiting, keong laut, cacing pasir, teripang, sedangkan diperairan sekitar pulau.terdapat beberapa jenis ikan, karang lunak, karang keras, dan padang lamun.

Pulau Barrang Lompo

Pulau Barrang Lompo termasuk wilayah Kecamatan Ujung Tanah, dan berada di sebelah utara P. Barrang Caddi, dan berjarak 13 km dari Makassar. Pulaunya berbentuk bulat, dengn luas 19 Ha. Vegetasi yang umum tumbuh di pulau ini adalah pohon asam, pohon pisang dan pohon sukun, sedangkan pohon kelapa hanya dijumpai disisi timur dan barat pulau ini.

Pulau Barrang Lompo

Konsentrasi pemukiman penduduk berada pada sisi Timur, Selatan, dan Barat dengan jumlah penduduk mencapai 3.563 jiwa dari 800 KK. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan, dilengkapi kurang lebih 50 kapal kayu motor dan sekoci. Kondisi ekonomi masyarakatnya relatif sejahtera.

Fasilitas umum di pulau ini cukup maju dibanding pulau lainnya, tersedia transportasi reguler dari dan ke Makassar dengan kapal motor, biayanya Rp. 6.000,- per orang sekali jalan, sanitasi yang cukup baik, fasilitas pendidikan : 1 buah Taman Kanak-kanak (TK), dan 2 buah Sekolah Dasar. Pulau ini dilengkapi juga dengan fasilitas kessehatan berupa 1 buah Puskesmas dan sebuah lagi puskesmas pembantu dengan tenaga medis yang terdiri dari 1 orang dokter, 1 orang perawat, 1 orang mantri, dan 1 orang bidan. Instalasi listrik dengan 2 generator yang berkapasitas 360 KVA yang beroperasi pada pukul 18.00 – 06.00 WITA. Jalan-jalan utama dibuat dari paving blok. Fasilitas air yang baik dan memiliki 2 buah dermaga (tradisional dan semi permanen), dan di pulau ini terdapat “Marine Field Stasiun Universitas Hasanuddin”.

Tradisi masyarakat yang masih dijumpai di pulau ini adalah upacara Lahir Bathin yakni mensucikan diri sebelum masuk bulan Ramadhan, upacara Songkabala yakni upacara untuk menolak bala yang akan datang, upacara Pa’rappo yakni upacara ritual yang dilaksanakan oleh para nelayan sebelum turun ke laut, dan upacara Karangan yakni upacara ritual yang dilakukan oleh para nelayan ketika pulang melaut dengan memperoleh hasil yang berlimpah.

Selain makam-makam tua dari abad ke XIX yang terdapat di pulau ini sebagai obyek wisata budaya yang menarik dikunjungi, juga kios tempat pembuatan cindera mata dari kerang laut, berada tepat didepan dermaga utama. Pada beberapa spot di perairan pulau ini, kehidupan karang dan ikan karang umumnya masih baik, walaupun ada sebagian karangnya sudah ikut hancur akibat eksploitasi yang tidak ramah lingkungan.

Pulau Kodingareng Keke

Pulau ini terletak disebelah utara Pulau Kodingareng Lompo, dan berjarak 14 km dari Makassar. Bentuk pulaunya memanjang timurlaut – baratdlaya, dengan luas ± 1 Ha. Pada sisi selatan pulau, pantainya tersusun oleh pecahan karang yang berukuran pasir hingga kerikilan, sedangkan pada sisi utara tersusun oleh pasir putih yang berukuran sedang-halus dan bentuknya berubah mengikuti musim barat dan timur. Tidak tersedia transportasi reguler menuju pulau ini, namun dapat menngunakan perahu motor carteran (sekoci), 40 PK dengan biaya Rp. 500.000,- (pergi-pulang)

 

Pulau Kodingareng Keke

Tidak tercatat adanya penduduk di pulau ini, namun dalam 7 tahun terakhir ini terdapat beberapa bangunan peristirahatan semi permanen bagi wisatawan yang berkunjung ke pulau ini. Bangunan dikelola oleh seorang warga negara Belanda, dan telah menanam kembali beberapa pohon pinus. Namun belakangan bangunan tersebut hancur terkena badai dan tinggal puing²nya saja. Pada sisi barat terdapat dataran penghalang yang terbentuk akibat proses sedimentasi yang tersusun atas material pecahan koral. Ada pasang terendah, terdapat dataran yang cukup luas dibagian barat pantai. Perairan sebelah baratlaut merupakan daerah yang cukup luas dengan kedalaman kecil dari 5 meter hingga mencapai 2,5 km dari garis pantai, sedangkan di perairan sebelah timur dan selatan merupakan alur pelayaran masuk dan keluar dari pelabuhan samudera Makassar.

Perairan di sekitar pulau ini merupakan tempat yang ideal bagi mereka yang menyenangi snorkeling. Kondisi terumbu karangnya umumnya terjaga dengan baik, dengan ikan-ikan karangnya yang cantik membuat panorama bawah lautnya semakin asri. Bagi anda yang tidak menggemari snorkling/diving, dapat anda menikmati hamparan pasir putihnya.

Pulau Kapoposan – Pangkep
Bisa jadi salah satu pulau terindah. Pasir putih dan biota lautnya sangat menakjubkan.
MASYARAKATNYA terbuka kepada siapa saja. Syarat untuk masuk ke pulau ini juga tidak sulit. Cukup bersedia tidak merusak lingkungan dan jangan merugikan masyarakat.

Secara administrasi, Pulau Kapoposan memang tercatat dalam wilayah Desa Mattiro Ujung, Kecamatan Liukang Tupabbiring. Wilayah ini merupakan salah satu dari empat kecamatan yang dimiliki Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) yang wilayahnya berada di pulau. Selain Liukang Tupabbiring, kecamatan lain yang wilayahnya juga berada di kepulauan, yakni Liukang Tupabbiring Utara, Liukang Kalmas, dan Liukang Tangaya.

Warga Pulau Kapoposan sangat ramah kepada setiap pendatang. Jangan heran jika Anda mencoba menelusuri jalan-jalan di pulau itu, setiap warga yang ditemui atau sedang berada di teras rumahnya, akan menyapa dan mengajak mampir.

Jalan-jalan di pagi hari mengelilingi pulau memang menjadi salah satu pilihan menarik. Kicauan burung-burung serta indahnya mentari pagi bisa disaksikan di bibir pantai. Sejuknya udara pagi di hutan-hutan mini pulau ini menambah lengkap perjalanan refreshing Anda. Memang, di Pulau Kapoposan, masih terdapat areal hutan yang belum terjamah. Hutan itu menjadi keindahan tersendiri bagi pulau.

Di hutan inilah sebagian peneliti dari kalangan pelancong ditemukan sejenis burung yang konon hanya ada di Pulau Kapoposan. Namun bagi warga setempat, burung itu dianggap biasa-biasa saja. Pelancong yang kerap ke sana menyebutnya Burung Konde karena memiliki jambul di bagian kepala mirip konde. Burung tersebut mirip Burung Maleo di Sulawesi Utara, namun jambul dan bulunya berbeda.

Namun tidak disadari bahwa burung inilah yang dapat menarik wisatawan ke  Kapoposan . Itu salah satu kekayaan yang dimiliki Pulau Kapoposan. .

Topografi Pulau Kapoposan memang sangat mendukung untuk wisata bawah laut. Makanya olahraga diving atau menyelam sangat cocok di pulau ini. Konstruksi laut yang landai dipenuhi terumbu karang indah. Di bawah pulau ini terdapat beberapa gua yang bisa menambah daya tarik bagi pecinta petualangan bawah laut. Bagi yang suka olahraga berburu ikan dengan panah juga cocok di pulau ini.

Terumbu karangnya sangat bagus dan berwarna-warni. Biar pun tidak menyelam sampai ke dasar laut, terumbu karangnya sudah bisa dilihat.

Bagi Anda yang ingin berwisata ke pulau ini, bisa ke sana saat cuaca bagus. Maklum, kondisi geografis pulau ini yang berbatasan langsung dengan laut lepas, sehingga ombak relatif tinggi terutama di musim hujan. Perjalanan ke sana, khususnya dari Makassar dan Pangkajene bisa ditempuh selama tiga hingga lima jam, tergantung jenis perahu yang digunakan.

Untuk tempat menginap, saat ini terdapat bungalow atau sejenis penginapan milik Pemerintah Kabupaten (pemkab) Pangkep yang bisa disewa. Penginapan lainnya saat ini sedang dibangun .

Pulau Lanjukang,

Pulau Lanjukang, atau disebut juga Pulau Lanyukang, atau Pulau Laccukang, merupakan pulau terluar yang berjarak 40 km dari kota Makassar, termasuk Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah. Untuk menuju pulau ini dari kota Makassar, belum ada transportasi reguler, namun bagi wisatawan dapat menggunakan perahu carteran (sekoci) dengan mesin 40 PK untuk 10 penumpang dengan biaya sewa Rp. 1.OOO.OOO,- (pulang-pergi) .

Bentuk pulau ini memanjang baratdaya – timurlaut, dengan luas mencapai lebih 6 ha, dengan rataan terumbu yang mengelilingi seluas 11 ha. Pada timur merupakan daerah yang terbuka dan terdapat dataran yang menjorok keluar (spit). Sedangkan di sisl barat bagian tengah, terdapat mercusuar. Vegetasi di pulau ini cukup padat, dengan sebaran pohon merata, didominasi oleh pohon pinus dan pohon kelapa serta pohon pisang dibagian tengah pulau.

Sarana umum yang tersedia masih relatif sangat terbatas. Fasilitas pendidikan dan kesehatan belum tersedia. Instalasi listrik dengan 2 buah generator hanya beroperasi antara pukul 17.30 – 21 .00 Wita. Terdapat sebuah sumur air payau di bagian tengah pulau untuk kebutuhan sehari-hari. Kita juga dapat menjumpai 2 buah warung kecil dengan barang dagangan yang sangat terbatas. Selain itu terdapat sebuah mushallah semi permanen. Pemukiman penduduk terkonsentrasi di sisi utara pulau yang relatif lebih aman pada musim timur dan barat.

 

Resort Pulau Lanjukang

Pulau ini belum dilengkapi dengan fasilitas dermaga kapal. Disisi bagian barat, pada surut terendah terdapat rataan terumbu karang yang mencapai jarak 1 km dan pada jarak 2 km terdapat daerah yang mempunyai kedalam yang curam hingga lebih 100 m. Wilayah perairan disisi selatan, timur, dan utara pulau ini merupakan alur pelayaran kapal.

Fasilitas resort sudah tersedia berupa 2 buah bangunan rumah batu semi permanen sebagai guest house bagi wisatawan ke pulau ini. Walaupun fasilitas sangat terbatas, bagi mereka yang menyenangi suasana alami, pulau ini ini salah satu tempat yang ideal bagi mereka yang ingin melakukan camping atau sekedar berjemur di pantai pasir putih yang indah dan bersih, atau bagi mereka yang gemar bersnorkling disekitar perairan pulau ini, panorama taman laut dan keanekaragaman biotanya dengan laut yang bersih menjadi daya tarik tersendiri.

Kondisi terumbu karang di sekitar pulau umumnya masih baik dan sangat menarik untuk kegiatan snorkling. Kita dapat menjumpai berbagai jenis spesies karang, karang lunak, ikan karang, dan ikan hias, serta biota lautnya. Umumnya, pulau ini dimanfaatkan oleh wisatawan pemancing sebagai tempat transit, sebelum meneruskan ke perairan Pulau Taka Bakang dan Pulau Marsende (wilayah perairan Kabupaten Pangkajene Kepulauan) untuk kegiatan “sport fishing”.

Mangrove di Tanah Keke – Takalar

 
Tanah Keke merupakan Pulau yang sangat besa, Pulau ini merupakan pulau yang terdiri dari daratan dan rawa-rawa, pulau ini masih memiliki banyak hutan mangrove yang luas dan padat. Penduduk di pulau ini memanfaatkan mangrove sebagai kayu bakar n kulit batang mangrove di jadikan timbunan.
Pulau ini bisa dikatakan kekayaan alamnya masih terjaga, terumbu karang dan mangrovenya. di pulau ini jg bisa ditemukan penyu sisik, Dugong dan kuda laut (Seahorse).
 

Di Pulau ini memiliki beberapa jenis mangrove, seperti Rhizophora, Soneratia, Ceriops dan Mangrove Jenis Lainnya. Di Pulau ini yang paling mendominasi adalah Jenis Mangrove Rhizophora dari Spesies Rhizophora stylosa, hampir 70% mangrove jenis ini yang mendominasi dari keseluruhan mangrove yang ada di Pulau ini.

Gambar dan Jenis Mangrove
1. Rhizophora stylosa

Sumber : Kepulauan Spermonde 

lihat juga menjelajah-sulawesi-selatan-melalui-wisata-jalur-selatan

THE GREAT BUTON 5

March 4, 2012

MESJID AGUNG KERATON (MASIGI OGENA)

Masjid Agung Keraton terletak di sebelah utara dalam benteng keraton, mesjid yang didirikan pada tahun 1712 pada masa pemerintahan Sultan Sakiyuddin Durul Alam/La Ngkariyiri. Mesjid ini berukuran 20,6 x 19,40 meter terdiri dari 2 lantai ini selain berfungsi sebagai tempat ibadah juga sebagai tempat pengukuhan setiap sultan yang baru dilantik. Di dalam masjid terdapat suatu bentuk pemerintahan keagamaan yang disebut Sara Kidhina yang bertugas mengatur dan menjalankan kegiatan keagamaan. Sara Kidhina ini masih tetap dipertahankan sampai sekarang, demikian pula adat serta tata cara yang berlaku dalam masjid. Setiap Hari Jum’at para perangkat mesjid menggunakan pakain adat. Pemugaran mesjid ini sudah dilakukan sebanyak 4 kali, tahun 1929 atap daun nipah diubah menjadi seng dan lantainya disemen. Pemugaran kedua tahun 1978, ketiga 1986 dan terakhir 2002.

BENTENG KERATON BUTON

Benteng yang merupakan bekas ibukota Kesultanan Buton ini memiliki bentuk arsitek yang cukup unik, terbuat dari batu kapur/gunung dan direkatka dengan telur. Saat pembangunnya, semua warga Buton bekerja bakti untuk benteng tersebut. Seorang perempuan yang kaya dan dermawan bernama Wa Ode Bau, menyumbangkan perhiasan satu tudung saji diserahkan kepada kerajaan Buton untuk terlaksananya pekerjaan benteng itu akhirnya diselesaikan pada tahun 1647. Benteng yang berbentuk lingkaran ini dengan panjang keliling 2.740 meter. Benteng terpanjang di Indonesia dan di dunia ini memiliki 12 pintu gerbang yang disebut Lawa dan 16 emplasemen meriam yang mereka sebut Baluara. Letaknya pada puncak bukit yang cukup tinggi dengan lereng yang cukup terjal memungkinkan tempat ini sebagai tempat pertahanan terbaik di zamannya. Dari tepi benteng yang sampai saat ini masih berdiri kokoh anda dapat menikmati pemandangan kota Bau-Bau dan hilir mudik kapal di selat Buton dengan jelas dari ketinggian,suatu pemandangan yang cukup menakjukkan. Selain itu, di dalam kawasan benteng dapat dijumpai berbagai peninggalan sejarah Kesultanan Buton. Benteng ini terdiri dari tiga komponen yaitu:

BADILI (MERIAM)
Obyek wisata ini merupakan meriam yang terbuat dari besi tua yang berukuran 2 sampai 3 depa. Meriam ini bekas persenjataan Kesultanan Buton peninggalan Portugis dan Belanda yang dapat ditemui hampir pada seluruh benteng di Kota Bau-Bau.

LAWA
Dalam bahasa Wolio berarti pintu gerbang. Lawa berfungsi sebagai penghubung keraton dengan kampung-kampung yang berada disekeliling benteng keraton. Terdapat 12 lawa pada benteng keraton. Angka 12 menurut keyakinan masyarakat mewakili jumlah lubang pada tubuh manusia, sehingga benteng keraton diibaratkan sebagai tubuh manusia. Ke-12 lawa memiliki masing-masing nama sesuai dengan gelar orang yang mengawasinya, penyebutan lawa dirangkai dengan namanya. Kata lawa diimbuhi akhiran ‘na’ menjadi ‘lawana’. Akhiran ‘na’ dalam bahasa Buton berfungsi sebagai pengganti kata milik “nya”. Setiap lawa memiliki bentuk yang berbeda-beda tapi secara umum dapat dibedakan baik bentuk, lebar maupun konstruksinya ada yang terbuat dari batu dan juga dipadukan dengan kayu, semacam gazebo diatasnya yang berfungsi sebagai menara pengamat. 12 Nama lawa diantaranya : lawana rakia, lawana lanto, lawana labunta, lawana kampebuni, lawana waborobo, lawana dete, lawana kalau, lawana wajo/bariya, lawana burukene/tanailandu, lawana melai/baau, lawana lantongau dan lawana gundu-gundu.

BALUARA
Kata baluara berasal dari bahasa portugis yaitu ‘baluer’ yang berarti bastion. Baluara dibangun sebelum benteng keraton didirikan pada tahun 1613 pada masa pemerintahan La Elangi/Dayanu Ikhsanuddin (sultan buton ke-4) bersamaan dengan pembangunan ‘godo’ (gudang). Dari 16 baluara dua diantaranya memiliki godo yang terletak diatas baluara tersebut. Masing-masing berfungsi sebagai tempat penyimpanan peluru dan mesiu. Setiap baluara memiliki bentuk yang berbeda-beda, disesuaikan dengan kondisi lahan dan tempatnya. Nama-nama baluara dinamai sesuai dengan nama kampung tempat baluara tersebut berada. Nama kampung tersebut ada didalam benteng keraton pada masa Kesultanan Buton. 16 Nama Baluara : baluarana gama, baluarana litao, baluarana barangkatopa, baluarana wandailolo, baluarana baluwu, baluarana dete, baluarana kalau, baluarana godona oba, baluarana wajo/bariya, baluarana tanailandu, baluarana melai/baau, baluarana godona batu, baluarana lantongau, baluarana gundu-gundu, baluarana siompu dan baluarana rakia.

KAMPUA MATA UANG KESULTANAN BUTON

Mata uang kampua merupakan jenis alat tukar (pembayaran) yang terbuat dari kain tenun Buton. Mata uang kampua ini sudah berlaku sejak masa pemerintahan Raja Buton yang ke II Bulawambona. Untuk dapat melihat mata uang kampua bisa ditemui pada Pusat Kebudayaan Wolio (Istana Kesultanan Buton ke XXXVIII), perpustakaan Faoka Mulku Zahari yang terapat di Kelurahan Baadia Kecamatan Betoambari sekitar 4 km dari pusat Kota Bau-Bau

RUMAH ADAT BUTON (MALIGE/KAMALI)

Istana Sultan Buton (disebut Kamali atau Malige) meskipun didirikan hanya dengan saling mengait, tanpa tali pengikat ataupun paku, bangunan ini dapat berdiri dengan dengan kokoh dan megah di atas sandi yang menjadi landasan dasarnya.
Rumah adat Buton atau Buton merupakan bangunan di atas tiang, dan seluruhnya dari bahan kayu. Banguanannya terdiri dari empat tingkat atau empat lantai. Ruang lantai pertama lebih luas dari lantai kedua. Sedangkan lantai keempat lebih besar dari lantai ketiga, jadi makin keatas makin kecil atau sempit ruangannya, tapi di lantai keempat sedikit lebih melebar.
Seluruh bangunan tanpa memakai paku dalam pembuatannya, melainkan memakai pasak atau paku kayu. Tiang-tiang depan terdiri dari 5 buah yang berjajar ke belakang sampai delapan deret, hingga jumlah seluruhnya adalah 40 buah tiang. Tiang tengah menjulang ke atas dan merupakan tiang utama disebut Tutumbu yang artinya tumbuh terus. Tiang-tiang ini terbuat dari kayu wala da semuanya bersegi empat. Untuk rumah rakyat biasa, tiangnya berbentuk bulat. Biasanya tiang-tiang ini puncaknya terpotong. Dengan melihat jumlah tiang sampingnya dapat diketahui siapa atau apa kedudukan si pemilik. Rumah adat yang mempunyai tiang samping 4 buah berarti rumah tersebut terdiri dari 3 petak merupakan rumah rakyat biasa. Rumah adat bertiang samping 6 buah akan mempunyai 5 petak atau ruangan, rumah ini biasanya dimiliki oleh pegawai Sultan atau rumah anggota adat kesultanan Buton. Sedangkan rumah adat yang mempunyai tiang samping 8 buah berarti rumah tersebut mempunyai 7 ruangan dan ini khusus untuk rumah Sultan Buton.
Adapun susunan ruangan dalam istana ini adalah sebagai berikut:
1 Lantai pertama terdiri dari 7 petak atau ruangan, ruangan pertama dan kedua berfungsi sebgai tempat menerima tamu atau ruang sidang anggota Hadat Kerajaan Buton. Ruangan ketiga dibagi dua, yang sebelah kiri dipakai untuk kamar tidur tamu, dan sebelah kanan sebagai ruang makan tamu. Ruangan keempat juga dibagi dua, berfungsi sebgai kamar anak-anak Sultan yang sudah menikah. Ruang kelima sebgai kamar makan Sultan, atau kamar tamu bagian dalam, sedangkan ruangan keenam dan ketujuh dari kiri ke kanan dipergunakan sebagai makar anak perempuan Sultan yang sudah dewasa, kamar Sultan dan kamar anak laki-laki Sultan yang dewasa.
2 Lantai kedua dibagi menjadi 14 buah kamar, yaitu 7 kamar di sisi sebelah kanan dan 7 kamar di sisi sebelah kiri. Tiap kamar mempunyai tangga sendiri-sendiri hingga terdapat 7 tangga di sebelah kiri dan 7 tangga sebelah kanan, seluruhnya 14 buah tangga. Fungsi kamar-kamar tersebut adalah untuk tamu keluarga, sebagai kantor, dan sebagai gudang. Kamar besar yang letaknya di sebelah depan sebagai kamar tinggal keluarga Sultan, sedangkan yang lebih besar lagi sebagai Aula.
3 Lantai ketiga berfungsi sebagai tempat rekreasi
4 Lantai keempat berfungsi sebagai tempat penjemuran. Disamping kamar bangunan Malige terdapat sebuah banguan seperti rumah panggung mecil, yang dipergunakan sebagai dapur, yang dihubungakan dengan satu gang di atas tiang pula. Di anjungan bangunan ini di pergunakan sebagai kantor anjungan. Pada bangunan Malige terdapat 2 macam hiasan, yaitu ukiran naga yang terdapat di atas bubungan rumah, serta ukiran buah nenas yang tergantung pada papan lis atap, dan dibawah kamar-kamar sisi depan. Adapun kedua hiasan tersebut mengandung makna yang sangat dalam, yakni ukiran naga merupakan lambang kebesaran kerajaan Buton. Sedangkan ukiran buah nenas, dalam tangkai nenas itu hanya tumbuh sebuah nenas saja, melambangkan bahwa hanya ada satu Sultan di dalam kerajaan Buton. Bunga nenas bermahkota, berarti bahwa yang berhak untuk dipayungi dengan payung kerajaan hanya Sultan Buton saja. Nenas merupakan buah berbiji, tetapi bibit nenas tidak tumbuh dari bibit itu, melainkan dari rumpunya timbul tunas baru. ini berarti bahwa kesultanan Buton bukan sebagai pusaka anak beranak yang dapat diwariskan kepada anaknya sendiri. Falsafah nenas in dilambangakan sebagai kesultanan Buton, dan Malige Buton mirip rongga manusia.

THE GREAT BUTON 4

March 4, 2012
PULAU LIWUTONGKIDI

Pulau Liwutongkidi merupakan salah satu pulau yang terdapat di Kabupaten Buton. Pulau seluas sekitar 1.000 km persegi ini memilliki iklim tropis dengan curah hujan rata-rata 1.000 mm per tahun.

Pulau Liwutongkidi oleh pemerintah daerah Kabupaten Buton dimasukkan sebagai salah satu kawasan pengembangan terpadu BASILIKA (Batauga, Siompu, Liwutongkidi, dan Kadatua). Tujuannya adalah untuk mengembangkan objek wisata bahari (bawah laut) di kabupaten yang kaya dengan aneka wisata baharinya itu. Diharapkan dengan adanya kawasan BASILIKA, gairah para wistawan untuk berkunjung ke Kabupaten Buton meningkat.

Walaupun pulau ini tidak begitu besar bila dibandingkan dengan pulau-pulau lain yang ada di Kepulaun Buton, pulau ini mampu memberikan nuansa yang unik melalui keindahan pantai dan pesona bawah lautnya. Garis pantai di sepanjang pulau ini dipenuhi hamparan pasir putih yang menakjubkan dan nuansanya menjadi lebih indah ketika berpadu dengan deburan ombak laut yang menyisir pasir tersebut.

Di samping itu, kekayaan alam bawah laut yang ada di pulau ini juga menarik untuk dikunjungi. Keanekaragaman terumbu karang dan biota bawah laut berpadu secara teratur dalam simponi keindahan panorama alam bawah laut.

POSUO

Tradisi Upacara Posuo yang berkembang di Sulawesi Tenggara (Buton) sudah berlangsung sejak zaman Kesultanan Buton. Upacara Posuo diadakan sebagai sarana untuk peralihan status seorang gadis dari remaja (labuabua) menjadi dewasa (kalambe), serta untuk mempersiapkan mentalnya.
Upacara tersebut dilaksanakan selama delapan hari delapan malam dalam ruangan khusus yang oleh mayarakat setempat disebut dengan suo. Selama dikurung di suo, para peserta dijauhkan dari pengaruh dunia luar, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Para peserta hanya boleh berhubungan dengan bhisa (pemimpin Upacara Posuo) yang telah ditunjuk oleh pemangku adat setempat. Para bhisa akan membimbing dan memberi petuah berupa pesan moral, spiritual, dan pengetahun membina keluarga yang baik kepada para peserta.
Dalam perkembangan masyarakat Buton, ada 3 jenis Posuo yang mereka kenal dan sampai saat ini upacara tersebut masih berkembang. Pertama, Posuo Wolio, merupakan tradisi Posuo awal yang berkembang dalam masyarakat Buton. Kedua, Posuo Johoro yang berasal dari Johor-Melayu (Malaysia) dan ketiga, Posuo Arabu yang berkembang setelah Islam masuk ke Buton. Posuo Arabu merupakan hasil modifikasi nilai-nilai Posuo Wolio dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. Posuo ini diadaptasi oleh Syekh Haji Abdul Ghaniyyu, seorang ulama besar Buton yang hidup pada pertengahan abad XIX yang menjabat sebagai Kenipulu di Kesultanan Buton di bawah kepemimpinan Sultan Buton XXIX Muhammad Aydrus Qaimuddin. Tradisi Posuo Arabu inilah yang masih sering dilaksanakan oleh masyarakat Buton.
Keistimewaan Upacara Posuo terletak pada prosesinya. Ada tiga tahap yang mesti dilalui oleh para peserta agar mendapat status sebagai gadis dewasa. Pertama, sesi pauncura atau pengukuhan peserta sebagai calon peserta Posuo. Pada tahap ini prosesi dilakukan oleh bhisa senior (parika). Acara tersebut dimulai dengan tunuana dupa (membakar kemenyan) kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa. Setelah pembacaan doa selesai, parika melakukan panimpa (pemberkatan) kepada para peserta dengan memberikan sapuan asap kemenyan ke tubuh calon. Setelah itu, parika menyampaikan dua pesan, yaitu menjelaskan tujuan dari diadakannya upacara Posuo diiringi dengan pembacaan nama-nama para peserta upacara dan memberitahu kepada seluruh peserta dan juga keluarga bahwa selama upacara dilangsungkan, para peserta diisolasi dari dunia luar dan hanya boleh berhubungan dengan bhisa yang bertugas menemani para peserta yang sudah ditunjuk oleh pemangku adat.
Kedua, sesi bhaliana yimpo. Kegiatan ini dilaksanakan setelah upacara berjalan selama lima hari. Pada tahap ini para peserta diubah posisinya. Jika sebelummnya arah kepala menghadap ke selatan dan kaki ke arah utara, pada tahap ini kepala peserta dihadapkan ke arah barat dan kaki ke arah timur. Sesi ini berlangsung sampai hari ke tujuh.
Ketiga, sesi mata kariya. Tahap ini biasanya dilakukan tepat pada malam ke delapan dengan memandikan seluruh peserta yang ikut dalam Upacara Posuo menggunakan wadah bhosu (berupa buyung yang terbuat dari tanah liat). Khusus para peserta yang siap menikah, airnya dicampur dengan bunga cempaka dan bunga kamboja. Setelah selesai mandi, seluruh peserta didandani dengan busana ajo kalembe (khusus pakaian gadis dewasa). Biasanya peresmian tersebut dipimpin oleh istri moji (pejabat Masjid Keraton Buton).
Semua Upacara Posuo dimaksudkan untuk menguji kesucian (keperawanan) seorang gadis. Biasanya hal ini dapat dilihat dari ada atau tidaknya gendang yang pecah saat ditabuh oleh para bhisa. Jika ada gendang yang pecah, menunjukkan ada di antara peserta Posuo yang sudah tidak perawan dan jika tidak ada gendang yang pecah berarti para peserta diyakini masih perawan.

TARI KALEGOA

Tarian ini adalah suatu tari tradisional yang menggambarkan suka duka gadis-gadis Buton sewaktu dalam pingitan dengan spesifikasi berupa gerakan memakai sap tangan.

Sudah menjadi suatu tradisi sejak zaman lampau seorang gadis yang menjelang dewasa haruslah menjalani masa Pingitan / Posuo. Selama 8 (delapan) hari 8 (delapan) malam.

Posuo sebagai suatu arena tempaan adat bagi mereka yang diikat dengan aturan dan tata krama serta sopan santun yang ketat untuk meninggalkan masa kegadisan bebas dan gembira karena telah dewasa dalam tempaan serta siap menerima kenyataan hidup.




TUKANG BESI BINONGKO

Jika mampir ke Pulau Binongko, jangan ragu mengunjungi lokasi para pengrajin besi. Dari para pengrajin inilah, Wakatobi dikenal sebagai kepulauan Tukang Besi.
Teng, teng, teng, teng…
BUNYI tempaan besi dipukul berkali-kali, terdengar bersahutan. Dari kebun berbukit di belakang perkampungan warga, suara itu berasal. Ada sejumlah gubuk kayu di sana. Di tiap gubuk, dua orang pandai besi tampak sibuk membuat bermacam alat dari logam, dari parang yang berukuran besar sampai pisau. Satu orang menahan parang yang baru dipanaskan, seorang lagi memukulnya keras-keras.
Itulah kegiatan sehari-hari para pandai besi di sebuah desa di Kecamatan Togo Binongko, Pulau Binongko. Di antara empat pulau utama di Kepulauan Wakatobi, Pulau Binongko terletak di paling ujung tenggara. Pulau ini juga paling jauh jaraknya
Warga Binongko telah menjadi pandai besi secara turun-temurun. Orang tua dan kakek mereka juga tukang besi. Memang, sebagian besar warga pulau ini menjadi tukang besi. Parang yang kuat dan tajam buatan mereka–kini disebut parang Binongko, dijual hingga ke daerah lain di Pulau Buton dan daratan Sulawesi. Bahkan dahulu kesultanan Buton memesan parang di sini.
Karena banyaknya warga yang menjadi tukang besi di Pulau Binongko, sejak puluhan tahun lalu pulau ini dinamai “Pulau Tukang Besi”. Penamaan itu kemudian melebar. Beberapa pulau lain–sekarang Kepulauan Wakatobi–juga dinamai “Kepulauan Tukang Besi”.
Pulau Binongko terbagi dua: Kecamatan Binongko dan Togo Binongko. Mulanya, pusat perajin besi itu berada di wilayah Kecamatan Binongko sekarang. Namun di daerah berpenduduk 10 ribu orang ini jumlah tukang besi itu semakin sedikit. Hanya tinggal beberapa orang.

PEKANDE KANDEA

Pekakande-kandea adalah salah satu acara tradisional yang diadakan oleh masyarakat dalam rangka menyambut kedatangan para Pahlawan negeri yang kembali dari medan juang dengan membawa kemenangan gemilang. Disamping itu acara ini merupakan pula acara pertemuan muda mudi karena hanya pada acara seperti inilah remaja putera dan puteri memperoleh kesempatan bebas untuk saling pandang.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat menyiapkan talam yang berisikan makanan tradisional seperti nasu wolio, kado minya, lapa-lapa, kasuami, dan makanan tradisioanal Buton lainnya, kemudian secara bersama berkumpul dalam satu arena yang telah ditetapkan.

Disinilah gadis remaja dengan menggunakan busana tradisional pula duduk menghadapi talam masing-masing. Setelah tiba saatnya, tampillah dua orang pelaksana untuk mengucapkan WORE, sebagai satu pertanda bahwa acara Pekakande-Kandea siap dimulai, selanjutnya disusul dengan irama KADANDIO dan DOUNAUNA dengan pantun awal:

“ Maimo sapo lapana puuna gau “
“ Katupana Mia bari ‘ amatajamo “

Selanjutnya terbukalah kesempatan bagi siapa saja untuk duduk menghadapi talam. Distulah remaja Putera menyampaikan isi hatinya melalui irama lagu berupa pantun, seraya menunggu saatnya pria melaksanakan tompa. Kemudia sebagai tanda terima kasih sang pemuda memBerikan hadiah pada sang Puteri yang memberikan suapan atau sipo kepadanya.

Sebagai rentetan dari acara ini kadangkala terjadilah kontak yang membawa nikmat antara kedua insan remaja, berupa proses adat tanah leluhur yang berbentuk pinangan.

TARI LARIANGI

Tari Lariangi merupakan bentuk tarian hiburan bagi masyarakat Wakatobi, tarian ini biasanya dimainkan oleh dua belas orang gadis remaja desa setempat. Tarian ini sangat eksotik terutama kostumnya. Nama kostum tarian ini sama dengan nama tarian yaitu Lariangi. Tarian ini dilakukan sambil bernyanyi. Dahulu tarian ditampilkan untuk menyambut para tamu kerajaan.

Dulunya, Lariangi dimainkan di istana raja yang berfungsi sebagai penerangan. Karena itu, Lariangi diwujudkan dalam gerakan dan nyanyian. Mereka bernyanyi dengan menggunakan bahasa Kaledupa kuno. Saat ini, bahasa ini sudah tidak dipergunakan dalam percakapan sehari-hari.

Lariangi terdiri dari dua suku kata. Lari dan Angi. Lari berarti menghias atau mengukir. Angi berarti orang-orang yang berhias dengan berbabagai ornamen untuk menyampaikan informasi, dengan maksud untuk memberikan nasehat. Bisa juga menjadi hiburan dengan gerakan tari dan nyanyian.

Sebagai perwujudan dari Lari adalah pakaian para penari yang terdiri dari kain, manik-manik, hiasan sanggul, logam berukir untuk gelang, kalung, dan hiasan sarung. Misalnya saja, hiasan sanggul yang dinamakan pantau seperti sebuah radar. Atau hiasan rambut yang rumit sekali membuatnya. Hanya orang tertentu yang bisa membuat hiasan rambut ini. Angi diwujudkan dalam bentuk gerakan dan nyanyian.

Tari ini bedurasi 10 menit. Selama sepuluh menit in, kami akan melihat sepuluh orang perempuan cantik menari dan bernyanyi. Tarian didominasi oleh gerakan duduk dan melingkar dengan mengibaskan lenso atau kipas.

Klimaks tarian ini ada di akhir. Yaitu gerakan yang dinamakan dengan nyibing. Nyibing dilakukan oleh dua orang penari lelaki. Mereka menari mengelilingi dua orang penari perempuan. Ini mengandung maksud, para lelaki, dalam kondisi apapun harus tetap melindungi para perempuan.

KARIA

Masyarakat di kecamatan kaledupa kabupaten wakatobi sulawesi tenggara punya tradisi tersendiri dalam menanamkan nilai-nilai etika moral dan spiritual terhadap anak laki-laki dan perempuan yang mulai beranjak remaja. Melalui tradisi karia setiap anak laki-laki dan perempuan yang akan melepas masa usia anak-anaknya dan akan memasuki usia remaja dikumpul bersama dan selanjutnya diantar keliling kampung oleh para pemangku adat dan masyarakat menuju kesebuah tempat penobatan. selain memberi makna spiritual tradisi ini juga menjadi ritual tiga tahunan yang mempertemukan seluruh masyarakat didaerah itu.
Dalam tradisi yang digelar setiap tiga tahun ini, seluruh sarahuu atau pemangku adat di kecamatan kaledupa mulai dari wilayah barat hingga wilayah timur datang dan berkumpul bersama untuk merayakan tradisi yang dianggap sebagai hari bergembira dan bahagia ini. tarian tamburu menjadi pembuka tradisi ini. Para pemangku adat yang datang dari berbagai kampung memainkan tarian tamburu yang berbeda pula. Pemangku adat dari wilayah timur memainkan tarian tamburu liumbosa sedangkan dari wilayah barat memainkan tarian tamburu liukosa. kedua tarian ini pada hakekatnya memiliki makna yang sama sebagai gambaran suka duka para anak-anak yang mengikuti tradisi karia ini dan sebentar lagi akan memasuki masa usia remaja.
Setelah seluruhnya berkumpul para pemangku adat selanjutnya memanjatkan doa di dalam masjid yang diikuti oleh para orang tua dan anak-anak yang ikut dalam tradisi ini. Sesuai adat yang diyakini oleh masyarakat kaledupa setiap anak laki-laki dan perempuan yang akan memasuki usia remaja diwajibkan menjalani tradisi karia ini. biasanya tradisi karia ini berlangsung dua hari bertuturt-turut. Hari pertama untuk anak laki-laki dan hari berikutnya khusus anak perempuan. Tradisi ini secara filosofis bertujuan untuk membekali anak laki-laki dan perempuan dengan nilai-nilai etika moral dan spiritual baik statusnya sebagai seorang anak ibu istri maupun sebagai anggota masyarakat.
Menariknya sebelum prosesi karia ini digelar terlebih dahulu diadakan selamatan dengan mengundang sanak keluarga kerabat dan handai taulan baik yang berada diwilayah wakatobi maupun yang berada diluar kota. Setelah semua prosesi dilakukan seluruh anak-anak baik laki-laki maupun perempuan kemudian diantar oleh para pemangku adat para orang tua anak dan seluruh masyarakat dengan berjalan kaki sepanjang lima kilometer diperkampungan menuju tempat penobatan terakhir berbagai tradisi lainnya juga ditampilkan saat dalam perjalanan.
Selain menyuarakan yel-yel para pemuda adat yang berada dibarisan paling depan juga menampilkan atraksi tarian balumpa. tak hanya itu para pemangku adat juga menggelar takbir disepanjang jalan yang diikuti dengan pembagian uang koin bagi masyarakat yang tidak ikut dalam barisan adat ini. selain untuk mempertebal nilai spiritual sang anak setelah memasuki usia remaja nanti kegiatan ini juga untuk mendoakan sang anak agar terhindar dari bala dan malapetaka. Tingginya animo masyarakat untuk merayakan tradisi tiga tahunan ini membuat suasana disepanjang jalan kecamatan kaledupa disesaki oleh ribuan manusia. bagi masyarakat kaledupa suasana seperti inilah yang dinantikan dimana semua masyarakat yang berasal dari seluruh penjuru berkumpul bersama dan merayakan tradisi berbahagia ini.
Tak heran hampir masyarakat rela berdesak-desakan saat memasuki tempat penobatan terakhir. sebagai simbol prosesi penobatan telah dilakukan seorang pria yang telah beranjak akil balik ditempatkan diatas sebuah kursi sambil diiringi alunan ayat suci alqur’an dari para pemangku adat

SUKU BAJO DI WAKATOBI

Masyarakat asli yang tinggal di sekitar taman nasional Wakatobi yaitu suku laut atau yang disebut suku Bajau (Bajo). Catatan Cina kuno dan penjelajah Eropa, menyebutkan bahwa manusia berperahu adalah manusia yang mampu menjelajahi Kepulauan Merqui, Johor, Singapura, Sulawesi, dan Kepulauan Sulu. Dari keseluruhan manusia berperahu di Asia Tenggara yang masih mempunyai kebudayaan berperahu tradisional adalah suku Bajau. Melihat kehidupan mereka sehari-hari merupakan hal yang menarik dan unik, terutama penyelaman ke dasar laut tanpa peralatan untuk menombak ikan.

TAMAN NASIONAL WAKATOBI

Taman Nasional Wakatobi seluas 1.390.000 hektar memiliki potensi sumberdaya alam laut yang bernilai tinggi, baik jenis dan keunikannya, yang menyajikan panorama bawah laut yang menakjubkan. Secara umum, perairannya mempunyai konfigurasi mulai dari datar, melandai ke arah laut, dan bertubir curam. Kedalaman airnya bervariasi hingga mencapai 1.044 meter dengan dasar perairan sebagian besar berpasir dan berkarang.

Taman nasional ini memiliki 25 buah gugusan terumbu karang dengan keliling total pantai sepanjang 600 km. Lebih dari 112 jenis karang dari 13 famili dijumpai di sini di antaranya:
- Acropora formosa,
- Hyacinthus,
- Psammocora profundasafla,
- Pavona cactus,
- Leptoseris yabei,
- Fungia molucensis,
- Lobophyllia robusta,
- Merulina ampliata,
- Platygyra versifora,
- Euphyllia glabrescens,
- Tubastraea frondes,
- Stylophora pistillata,
- Sarcophyton throchelliophorum, dan
- Sinularia spp.

Kekayaan jenis ikan yang dimiliki taman nasional ini sebanyak 93 jenis ikan konsumsi perdagangan dan ikan hias di antaranya:
- argus bintik (Cephalopholus argus),
- takhasang (Naso unicornis),
- pogo-pogo (Balistoides viridescens),
- napoleon (Cheilinus undulatus),
- ikan merah (Lutjanus biguttatus),
- baronang (Siganus guttatus),
- Amphiprion melanopus,
- Chaetodon specullum,
- Chelmon rostratus,
- Heniochus acuminatus,
- Lutjanus monostigma,
- Caesio caerularea, dan lain-lain.

Selain itu terdapat beberapa jenis burung laut seperti:
- angsa-batu coklat (Sula leucogaster plotus),
- cerek melayu (Charadrius peronii),
- raja udang erasia (Alcedo atthis);

Terdapat tiga jenis penyu yang sering mendarat di pulau-pulau yang ada di taman nasional yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Pulau Hoga (Resort Kaledupa), Pulau Binongko (Resort Binongko) dan Resort Tamia merupakan lokasi yang menarik dikunjungi terutama untuk kegiatan menyelam, snorkeling, wisata bahari, berenang, berkemah, dan wisata budaya.

Taman Nasional Wakatobi dapat dicapai melalui :
Kendari – Bau-bau (kapal cepat regular, dua kali/hari, 5 jam atau kapal kayu, 12 jam) – Lasalimu (berkendaraan , 2 jam) -Wanci (kapal cepat, 1 jam atau kapal kayu 2,5 jam). Wanci merupakan pintu gerbang pertama memasuki kawasan Taman Nasional Wakatobi.

Waktu yang disarnakan untuk berkunjung adalah bulan April s.d. Juni dan Oktober s.d. Desember.

TENUNAN BUTON

A. Asal-Usul

Sampai tahun 1960 yang dimaksud dengan orang-orang Buton menurut JW Schoorl, sebagaimana dikutip Yamin Indas, adalah mereka yang tinggal di Kesultanan Buton, yang meliputi pulau Buton, Muna, Kabaena, Kepulauan Tukang Besi, Rumbia dan Poleang di daratan besar jazirah Sulawesi Tenggara (Kompas, 22 Jul 2005). Saat ini, wilayah Kesultanan Buton telah terbagi-bagi ke dalam beberapa kabupaten dan kota, yaitu kota Bau-Bau, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana, dan Kabupaten Buton sendiri. Tidak hanya itu, seiring meningkatnya mobilitas orang akibat semakin mudahnya alat-alat transportasi, masyarakat Buton juga ternyata telah mendiami daerah-daerah di luar kawasan Kesultanan Buton. Uniknya, walaupun berbeda secara geografis dan administrasi pemerintahan, secara kultural mereka tetap satu. Hal ini terjadi karena masyarakat Buton mempunyai nilai-nilai budaya yang berfungsi sebagai pengikat dan perekat hubungan sosial antarmasyarakat Buton di manapun mereka berada. Menurut Indas, salah satu perekat sosial itu adalah kain tenun tradisional Buton (Indas, Kompas, 22 Juli 2005).

Tenun Buton mampu menjadi perekat sosial bagi masyarakat Buton karena dua hal. Pertama, tenun Buton merupakan pengejawantahan dari penghayatan orang-orang Buton dalam memahami lingkungan alamnya. Hal ini dapat dilihat dari corak dan motif yang terdapat pada tenun Buton. Menurut Hasinu Daa, sebagaimana dikutip Indas (Kompas, 22 Jul 2005), motif tenun Buton dibuat berdasarkan pengamatan dan penghayatan orang Buton terhadap alam sekitarnya. Misalnya, motif betano walona koncuapa yang terinspirasi dari abu halus yang melayang-layang hasil pembakaran semak saat membuka ladang; motif colo makbahu atau korek basah, motif delima bongko (delima busuk), motif delima sapuua, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, dengan melihat tenun Buton kita akan mengetahui bagaimana pemahaman orang Buton terhadap alamnya, dan pada saat bersamaan kita diajak bertamasya menikmati alam Buton.

Kedua, tenun Buton sebagai identitas diri dan sosial. Bagi orang Buton, pakaian tidak semata-mata berfungsi sebagai pelindung tubuh dari terik matahari dan dinginnya angin malam, tetapi juga berfungsi sebagai identitas diri dan stratafikasi sosial. Dengan melihat pakaian yang dikenakan oleh wanita Buton misalnya, kita bisa mengetahui apakah dia telah menikah atau belum. Melalui pakaian, kita juga dapat mengetahui apakah seorang perempuan dari golongan awam atau bangsawan. Misalnya, motif tenun kasopa biasanya dipakai oleh perempuan kebanyakan, sedangkan motif kumbaea yang didominasi warna perak biasanya dipakai oleh perempuan dari golongan bangsawan dengan gelar Wa Ode. Menurut Hasinu Daa sebagaimana dikutip oleh Indas (Kompas, 22 Jul 2005), dengan melihat tenun yang dipakai orang Buton, kita dapat mengetahui kedudukan seseorang dalam masyarakat Buton, seperti sapati atau kenepulu. Sebagai simbol kedirian orang Buton, maka sudah sewajarnya jika orang Buton menjaga agar simbol jati diri sosialnya tetap lestari. Salah satu cara yang digunakan untuk menjaga kelestariannya adalah dengan mengajari perempuan Buton tetanu (menenun) sejak mereka masih kecil, yaitu sekitar umur 10 tahun. Oleh karenanya, tidak heran apabila sebagian besar perempuan Buton, termasuk para istri sultan, mahir menenun (Kompas, 22 Juli 2005 dan 23 Januari 2009; http://produkboeton.blogspot.com).

Selain sebagai perekat sosial, faktor lain yang menjadikan tenun Buton tetap terjaga kelestariannya adalah fungsinya yang sangat vital dalam menopang keyakinan masyarakat Buton, yaitu sebagai pelengkap dalam pelaksanaan ritual masyarakat Buton. Sejak dilahirkan sampai meninggal dunia, orang Buton selalu menggunakan tenun Buton dalam setiap ritual yang dilakukan. Tanpa tenun Buton, kesakralan upacara adat Buton menjadi berkurang (http://orangbuton.wordpress.com).

Problem yang dihadapi oleh tenun Buton sebagaimana kain tradisional lainnya adalah serbuan produk-produk kain yang dihasilkan oleh peralatan modern. Mesin modern tidak saja menghasilkan kain-kain dengan corak yang lebih variatif dan atraktif, tetapi juga lebih efisien dalam waktu pengerjaan dan harganya jauh lebih murah. Dalam kondisi demikian, tenun Buton akan semakin tersisih. Mungkin sebagai perekat solidaritas sosial dan pelengkap ritual tenun Buton akan tetap lestari, tetapi ia akan kesulitan untuk berkembang. Ketika tenun sudah tidak lagi berkembang, maka ia akan tersisih digantikan oleh produk tenun lain dan segera dilupakan orang. Artinya, jika kondisi ini terus menerus dibiarkan bukan tidak mungkin tenun Buton akan hilang sama sekali.

Melihat fungsinya yang sangat besar bagi orang-orang Buton, maka sudah seharusnya semua pihak berpartisipasi untuk melakukan revitalisasi fungsi Tenun Buton. Jika selama ini tenun Buton hanya menjadi simbol perekat sosial orang Buton, penanda stratifikasi sosial, dan pelengkap ritual adat, maka perlu juga dilakukan eksplorasi lebih jauh terhadap nilai ekonomis yang terkandung dalam tenun Buton. Dengan kata lain, perlu upaya kreatif agar tenun Buton tidak sekedar menjadi identitas dan kebanggaan sosial, tetapi juga mampu menjadi sumber penopang ekonomi masyarakat Buton. Jika tenun Buton mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat Buton, maka dengan sendirinya masyarakat akan kembali bergiat untuk belajar menenun dan mengembangkan tenun Buton.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memunculkan potensi ekonomi tenun Buton. Pertama, mendokumentasikan dan memperkenalkan motif tenun Buton. Tenun Buton memiliki potensi ekonomi yang sangat besar untuk potensi ekonomisnya, karena tenun ini mempunyai yang sangat kaya. Konon, motif tenun Buton berjumlah ratusan, tapi belum terdokumentasi dan diketahui oleh masyarakat luas (http://www.sultra.go.id; http://profilesmakassar.blogspot.com; Kompas, 23 Januari 2009). Oleh karenanya, yang perlu dilakukan segera oleh segenap stake holder adalah melakukan inventarisasi terhadap semua motif tenun Buton dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas. Dengan cara ini, tenun Buton tidak saja akan lesatri, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai penopang kesejahteraan masyarakat Buton secara lahir dan batin.

Kedua, meningkatkan mutu dan kualitas tenun Buton agar bisa bersaing dengan produk tenun lainnya, misalnya dengan membuat tenunan Buton dari benang sutra. Dengan cara ini, tidak saja kualitas tenun Buton yang meningkat, tapi juga penghasilan para penenun juga akan naik. Harga kain sarung Buton misalnya, paling tinggi harganya Rp 150.000 per lembar, tapi jika dibuat dari benang sutra maka harganya bisa mencapai Rp 400.000 per lembar (http://profilesmakassar.blogspot.com).

Ketiga, memperbanyak jenis derivasi produk tenun Buton. Jika dulunya kain Buton hanya digunakan untuk busana, maka perlu kreativitas agar tenun Buton dapat multifungsi, seperti digunakan untuk membuat gorden, taplak meja, dan alat dekorasi. Semakin banyak fungsi yang dimiliki oleh Tenun Buton, maka semakin banyak manfaat yang bisa diambil dari tenun Buton. Jika tenun Buton semakin bermanfaat, khususnya sebagai penopang ekonomi masyarakat, maka akan semakin banyak orang atau kelompok yang akan ikut menjaga, melestarikan, dan mengembangkannya.

Keempat, memperluas wilayah pemasaran. Agar mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat Buton, maka hasil produk tenun Buton harus dapat diterima oleh masyarakat non Buton. Jika tenun Buton telah diterima oleh masyarakat non Buton, maka dengan sendirinya jumlah permintaan terhadap tenun Buton akan semakin banyak. Bertambahnya jumlah permintaan akan menjamin keberlangsungan produksi tenun Buton. Oleh karena itu, segenap stake holder harus bekerjasama agar tenun Buton bisa dikenal dan diterima oleh masyarakat non Buton, misalnya menjadikan tenun Buton sebagai souvenir resmi pemerintah daerah, aktif mengikuti pameran kain adat, dan lain sebagainya.

Keempat cara untuk menumbuhkan nilai ekonimis yang dikandung tenun Buton di atas akan berhasil jika masyarakat Buton sendiri mempunyai rasa bangga terhadap tenun mereka. Artinya, sebelum orang lain menggunakan tenun Buton, masyarakat Buton sendiri harus menjadi pengguna utama Tenun Buton. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa bangga dan memiliki terhadap tenun Buton, yaitu: pertama, melalui pendidikan, baik formal maupun non formal. Anak-anak Buton harus dikenalkan kembali terhadap khazanah kebudayaan mereka, misalnya melalui mata pelajaran muatan lokal. Mereka harus diajarkan bagaimana bentuk dan motif tenun Buton, makna filosofis yang dikandungnya, dan bagaimana membuatnya. Dengan cara ini, anak-anak akan mempunyai kecintaan dan kepedulian terhadap tenun Buton; kedua, mobilisasi secara formal. Cara ini dapat dilakukan, misalnya, dengan menjadikan tenun Buton sebagai seragam wajib pegawai pemerintah.

GUA LAKASA

Selain dikenal sebagai daerah eks kesultanan yang menyimpan banyak peninggalan sejarah masa lalu, Kota Bau-Bau juga kaya akan potensi wisata alam dan minat khusus. Salah satu lokasi permandian alam yang ada di Kota Bau-Bau adalah Gua La Kasa. Gua ini berada di Kelurahan Sulaa Kecamatan Betoambari, Bau-Bau.

Lokasi permandian gua La Kasa ini pertama kali ditemukan salah seorang warga yang bernama La Kasa. Itulah sebabnya gua yang memiliki kedalaman sekitar 100 meter tersebut diberi nama Gua La Kasa.

Untuk mengunjungi permandian Gua La Kasa sangatlah mudah. Jalur yang menghubungkan lokasi dengan jalan raya kini telah dibuka oleh pemerintah Kota Bau-Bau.

Hanya saja permandian alam yang indah ini berada di dalam perut bumi. Pintu masuknya hanya seukuran badan orang dewasa sehingga terkesan tertutup. Namun setelah masuk ke dalamnya ditemukan keindahan alam yang cukup mempesona. Di dalamnya terdapat hamparan air telaga yang jernih dan sejuk. Di sekelilingnya terdapat stalagtit dan stalagmite yang sangat indah. Ini menandakan proses kejadian telaga bawah tanah ini telah berusia berabad abad lamanya.

Menurut warga di kelurahan Sulaa kecamatan Betoambari, air dalam gua ini tak pernah kering dan diprediksi mampu mengakomodir kebutuhan air bersih bagi warga setempat.

Hanya saja, keindahan dan panorama alam serta sejuknya air di Gua La Kasa ini masih jarang dikunjungi masyarakat. Hal ini disebabkan lokasi yang berada di tengah hutan juga medannya yang cukup menantang. Jika berada di sekitar lokasi pintu masuk Gua La Kasa mungkin tak tampak ada tanda tanda jika dibawah pijakan kaki terdapat sebuah telaga biru yang memiliki panorama yang indah.

Meski jarang dikunjungi warga setempat, namun keberadaan Telaga biru di Gua La Kasa ini sudah sering dijadikan ajang rekreasi bagi masyarakat dari luar Kota Bau-Bau. para turis mancanegara pun tak melewatkan kesempatan untuk menikmati sejuknya air di telaga Gua La Kasa setiap kali berkunjung ke Kota Semerbak ini.

Jika selama ini, Kota Bau-Bau hanya dikenal memiliki beberapa lokasi wisata seperti Benteng Kraton yang terluas di dunia, Pantai Indah Nirwana yang memiliki dua warna yang sering digunakan warga Kota Bau-Bau sebagai klinik therapy air laut, pemandangan indah pantai Kokalukuna, permandian alam air jatuh di Kawasan Tirta Rimba, juga sebuah lokasi yang tak kalah menariknya adalah Telaga Biru di Gua La Kasa.

GUA MOKO

Gua Moko merupakan gua dengan permandian air payau memanjang sekitar 50 meter yang menyimpan keindahan dan misteri. Misteri? Eits… tunggu dulu, beberapa waktu lalu diadakan ekspedisi di gua ini dan ditemukan banyak keramik peninggalan Dinasti Ming. Seperti yang kita ketahui Buton dahulu merupakan kerajaan yang dipimpin seorang raja wanita yang berasal dari Negeri China. Kawasan gua moko yang baru dibuka oleh Pemkot Bau-Bau sebagai salah satu kawasan wisata kini jadi perhatian turis dari manca negara yang ada dari beberapa turis itu seperti Belanda dan Australia mengaku sudah kurang lebih 4 bulan melakukan penyelaman di kawasan wisata gua moko ini.Gua moko yang belum lama ini ditemukan ternyata memiliki keindahan yang luar biasa karena memiliki keunikan-keunikan yang tidak dimiliki oleh gua-gua yang lain. Karena itu, ke depan Pemkot Bau-Bau akan melakukan penelitian terkait benda-benda purbakala berupa keramik yang ditemukan di dalam gua moko. Memang sampai saat ini pertanyaan mengapa keramik-keramik itu ada di dasar Gua Moko masih menjadi misteri dan mungkin saja ada hubungannya dengan masa lalu Buton. Kita tunggu saja perkembangan berita selanjutnya.hubungannya dengan masa lalu Buton. Kita tunggu saja perkembangan berita selanjutnya.

PANTAI NIRWANA

Pantai nirwana sebuah kawasan obyek wisata bahari yang terletak di bibir pantai barat kota Bau-Bau yang dengan kekayaan dan keunikannya sebagai satu pantai yang memiliki berbagai keunggulan dalam dunia wisata bahari.
Lokasi wisata alam pantai Nirwana yang berada di kelurahan Sula kecamatan Betoambari Kota Bau-Bau selain memiliki panorama alam yang indah juga dapat dimanfaatkan untuk ajang olah raga Diving dan therapy untuk penyembuhan beberapa jenis penyakit.

Jika selama ini, warga Kota Bau-Bau hanya memanfaatkan lokasi Pantai Nirwana sebagai lokasi rekreasi dengan keindahan nyiur dan hamparan pasir putih sepanjang sekitar setengah kilometer kini warga juga dapat melakukan kegiatan penyelaman (Diving).
Hal ini terungkap setelah beberapa pekan terakhir mulai tampak aktivitas para turis mancanegara melakukan kegiatan Diving dan pemotretan bawah laut. Keindahan terumbu karang juga menjadi daya tarik tersendiri para turis untuk melakukan kegiatan wisata di Pantai Nirwana.

Bagi warga Kota Bau-Bau, pantai Nirwana tidak hanya sebatas lokasi rekreasi, namun ada yang memanfaatkannya sebagai kegiatan therapy untuk mengobati beberapa jenis penyakit seperti asma dan gangguan saluran pernapasan. Ini hanya dilakukan dengan cara berendam dalam kesegaran air laut Pantai. Meski belum banyak yang mengetahui, namun bagi mereka yang telah mencoba, khasiatnya telah dibuktikan.

Potensi wisata Pantai Nirwana tak cukup dengan pemandangan pantai dan indahnya terumbu karangnya. Namun, tak jauh dari lokasi pantai, juga terdapat sebuah Gua dengan permandian air payau memanjang sekitar 50 meter.

Masyarakat kelurahan Sula menyebutnya Gua Moko yang konon pada masa lalu lokasi ini digunakan sebagai sumber mata air yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari hari karena tak pernah kering. Lokasi gua ini berada pada bagian selatan Pantai Nirwana. Untuk menjangkau lokasi hanya dibutuhkan waktu tak kurang dari 10 menit dengan berjalan menelusuri pantai ke arah selatan.

Untuk memudahkan menjangkau lokasi Gua Moko, kini telah dibuka jalan masuk dari lokasi jalan umum dan dpat dilalui kendaraan. Jika ditelusuri, sepanjang kawasan Gua Moko menuju pantai nirwana terdapat terowongan memanjang dan dipenuhi sumber mata air payau. Anda penasaran? silahkan kunjungi Pantai Nirwana Bau-Bau dan nikmati pula segarnya air dalam Gua Moko.

PANTAI LAKEBA

Pantai ini memiliki ciri yang khas yaitu airnya yang jernih, pasir yang putih, dan lingkungan yang bersih. Pantai ini sangat baik untuk benjemur pada waktu siang, berenang, menyelam serta menikmati indahnya matahari terbenam. Selain sebagai obyek wisata, pantai ini juga mejadi tempat aktivitas nelayan pada saat akan melaut sehingga aktivitas nelayan dapat diamati oleh setiap wisatawan di pantai ini. Fasilitas yang ditawarkan di pantai ini yaitu resort dengan arsitektur rumah adat Buton yang menyediakan Children Play Ground, Banana Boat, Jet Ski, Parasailing, dan Restauran dengan live music. Menu yang disediakan yaitu Indonesian Food, American Food, dan Chinese Food. Lokasi berada lebih kurang 4 km dari pusat kota Bau-Bau dapat ditempuh dengan menggunakan taksi ataupun mobil sewaan.

HUTAN TIRTA RIMBA

Hutan Tirta Rimba merupakan hutan yang terdapat di Kota Baubau. Di hutan ini terdapat air terjun yang indah, serta keeksotikan flora dan faunanya.

MONUMEN NAGA

Monumen naga terdapat di pantai kamali. Mengapa naga? Sebab naga dan buah nanas adalah lambang Kesultanan Buton. Monumen ini di bangun untuk membangkitkan kembali semangat kejayaan Buton. Seperti yang diketahui, sebelum menjadi kesultanan yang didirikan oleh bebrapa tokoh Melayu dan Arab, Buton merupakan sebuah kerajaan. Raja pertamanya adalah seorang wanita dari negeri China, yang bernama Wa Kaa Kaa. Maka dari itu kebudayaan Buton memiliki banyak kemiripan dengan kebudayaan China diantaranya pakaian adat yang bernama Lonjo, memiliki kerah seperti Cheongsam dan berkancing khas China, serta rok sedada yang mirip Hanbok, pakaian nasional Korea Selatan Selain pada pakaian kemiripan dengan kebudayaan China lainnya seperti yang disinggung sebelumnya yaitu lambang dari Kerajaan dan Kesultanan ini yaitu naga dan nanas. Naga sendiri lambang dari kekuatan, kegigihan, dan kejayaan. Sedangkan nanas, memiliki filosofi sendiri yaitu buah nanas mudah tumbuh di mana saja, tahan banting seperti ciri khas orang Buton. Nanas juga memiliki payung dan sisik yang berarti raja memayungi rakyatnya. Selain itu buah nanas juga manis dan kaya manfaat yang melambangkan kemakmuran Buton.


BAUBAU LETTER

Baubau letter merupakan tempat wisata di Kota Baubau yang disediakan untuk anda yang ingin mengabadikan momen di belakang tulisan Baubau sebagai tanda pernah menginjakkan kaki di kota semerbak ini. Tempat ini berada di atas tebing sehingga kita dapat melihat panorama kota baubau beserta pulau Makassar di hadapannya.

WANTIRO



Jika menginginkan ketenangan menikmati indahnya panorama alam di Baubau, Wantiro adalah jawabannya. Seperti halnya pantai kamali, Wantiro juga merupakan merupakan kawasan wisata kuliner pada malam hari. Bedanya, wantiro menawarkan bukan panorama pantai tapi keindahan dari atas tebing. Dari tebing ini kita bisa melihat aktifitas Kota Baubau dan juga Pulau Makassar di depannya.

Area publik baru pelataran Wantiro di zona Warumuiso, Kecamatan Kokalukuna berubah menjadi lebih artistik. Dengan wajah itu, Kota Baubau semakin memamerkan diri sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia.

Keindahan pelataran Wantiro memang tak kalah menarik dibanding ruang publik lainnya di Kota Baubau. Di situ juga menjadi sentra kegiatan olahraga air seperti jet sky, banana boat, flying fish, lomba renang antar Pulau Makasar-Kota Baubau, perahu naga dan kegiatan atraktif lainnya.

Akses jalan menuju Wantiro hanya dapat dilalaui oleh taksi atau kendaraan pribadi sebab tidak ada angkot yang melewati tempat ini. Tempat ini menjadi tempat alternatif bagi mereka yang ingin menikmati pemandangan Kota Baubau dari atas tebing dan panorama laut dengan suasana bebas bising. Fasilitas yang disediakan yakni meja dan kursi yang nyaman. Kawasan ini juga bebas dari pungutan biaya.

PANTAI KAMALI



Pantai Kamali terletak di jantung Kota Baubau di dekat Pelabuhan Murhum merupakan kawasan wisata kuliner pada malam hari. Menu yang disediakan beraneka ragam mulai dari snack hingga makanan berat dengan harga terjangkau. Pantai ini merupakan pantai kebanggaan masyarakat Baubau layaknya Pantai Losari milik Kota Makassar, Sulawesi Selatan dan Kawasan Boulevard milik Kota Manado, Sulawesi Utara. Event-event penting sering diadakan di sini. Terdapat pula aneka jajanan khas kota ini di Pantai Kamali.

Pantai Kamali dapat diakses dengan menggunakan angkot, taksi, becak, dan kendaraan pribadi maupun sewaan. Fasilitas yang disediakan hotspot, arena bermain anak, bus wisata yang mengantar dari Pantai Kamali ke Benteng Keraton dan kembali ke Pantai Kamali, dan lantai refleksi. Di pantai ini pula terdapat Monumen Naga sebagai maskot Kota Baubau. Tidak perlu membeli tiket untuk ke kawasan ini.

TIANG BENDERA (KASULANA TOMBI)

Tiang bendera yang terletak di sebelah kiri Masjid Agung Keraton ini terbuat dari kayu berbentuk bulat dengan tinggi sekitar 21 meter terbuat dari kayu jati. Didirikan bersamaan dengan Mesjid Agung Keraton. Pada tahun 1870-an pada masa Sultan Muhammad Isa Kaimuddin tiang bendera ini disambar petir sehingga mengalami kerusakan, namun kemudian diperbaiki Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Salihi Kaimuddin tiang bendera ini digunakan kembali untuk mengibarkan bendera Kesultanan Buton yang disebut “Tombi Longa-longa” yang berarti “bendera warna-warni”.

Sumber

THE GREAT BUTON 3

March 4, 2012

TARI GALANGI

Tarian Galangi hingga kini masih menjadi kebanggaan masyarakat Buton. Tarian ini sudah ada sejak masa kesultanan. Pasukan Galangi merupakan pasukan pengawal Sultan Buton

PINDUAANO KURI

Piduaano kuri adalah sebuah ritual budaya yang di lakukan oleh masyarakat Wabula, Kecamatan Wabula Kabupaten Buton. Kegiatan ini merupakan kegiatan penutup dari keseluruhan rangkaian kegiatan adat dan budaya masyarakat wabula selama satu tahun.

Secara harafiah Pidoaano Kuri berarti pembacaan doa untuk keselamatan hidup, sehingga keseluruhan acara tersebut dilandasi oleh doa syukur kepada Allah atas Rahmat dan Hidayah-Nya sejak tahun lalu hingga sekarang dan permohonan doa untuk tahun yang akan datang.











KADAL TERBANG

Foto-foto kadal terbang yang ditemukan di hutan Lambusango, Buton, Indonesia. Bagian yang seperti sayap adalah bagian dada yang melebar. Karena ukurannya yang kecil, kadal ini sering pula disebut cicak. Corak tubuhnya menyerupai kulit kayu, yang berfungsi untuk melindungi diri dari cekaman musuh. Buton memang merupakan salah satu daerah yang masuk dalam zona Wallacea yang terkenal akan fauna endemik salah satunya ialah kadal terbang ini.




HUTAN MANGROVE BUTON UTARA


Sekitar 8.000 hektare areal hutan bakau dari 25.000 hektare luas hutan di Kabupaten Buton Utara (Butur), akan dikembangkan menjadi kawasan wisata andalan guna menarik arus wisatawan ke daerah tersebut. Hutan bakau, dapat memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat sekitarnya. Disamping juga memberi manfaat ekologis seperti mencegah abrasi, meminimalisasikan dampak gelombang pasang, dan terpenting adalah dapat membantu mengurangi pemanasan global. Kawasan hutan bakau yang berada di dua kecamatan yakni di Teluk Kulisusu Dalam dan wilayah Buranga pusat ibukota kabupaten, kini dalam tahap desain penetapan wilayah sekaligus akan mengubah kabupaten itu sebagai pusat kawasan budi daya laut “marine culture estate”. Program budi daya laut dimaksudkan agar bakau yang ada di kawasan itu tetap terjaga kelestariannya dengan memadukan program diversifikasi untuk pengembangan kepiting bakau, keramba apung tikus dan budidaya rumput laut (agar-agar).

BONGKAANA TAO

Secara harfiah, Bongkaana Tao berarti membongkar tahun. Acara tersebut merupakan pesta panen dan ritual menolak bala (bahaya. Akan ada upacara melabuhkan sesajen ke lautan sambil berdoa agar segala bencana bisa lenyap dan hilang di lautan lepas. Ada dua maksud digelarnya acara tersebut. Pertama adalah ungkapan rasa syukur atas rezeki yang dicurahkan Allah kepada warga sekitar. Kedua adalah memanjatkan doa agar dijauhkan dari segala bahaya dan sial yang bisa datang sewaktu-waktu. Jadi Bongkaana Tao artinya menutup masa panen dengan penuh suka cita sambil berharap agar tahun berikutnya lebih mendatangkan rezeki dan pengharapan.

Sesajennya berbentuk perahu dan di haluan terdapat kayu berbentuk kepala buaya, sedangkan di bagian buritan atau belakang perahu sesajen tersebut, terdapat patung ekor buaya. Menurut hikayat, dahulu di dasar sumur itu berdiam seekor buaya yang sakti sehingga sumur itu dianggap keramat. Hingga satu saat, buaya tersebut lenyap kemudian ada warga yang seakan mendapatkan wangsit agar setiap tahun diadakan ritual di sumur tersebut agar membuang sial dan mendoakan semua warga agar selalu bahagia dan bertambah rezekinya. Warga yang mendapatkan wangsit itu, selanjutnya menjadi pemimpin doa. Hingga bertahun setelah dia meninggal, posisinya akan digantikan oleh keturunannya.

Isis sesajen biasanya berupa makanan khas Buton seperti lapa-lapa, telur, dan aneka lauk-pauk. Setelah itu, seorang moji datang membawa tempat dupa, kemudian acara itu dimulai. Mereka lalu membakar dupa di kemenyan lalu sama-sama berdoa. Doa disampaikan dalam bahasa Arab dan diselingi dengan bahasa Indonesia. Saya mendengar beberapa kalimat yang diucapkan seperti jamaliyah, jalaliyah, yang kesemuanya adalah manifestasi sifat-sifat Tuhan. Kata tersebut sering diucapkan mereka yang mendalami tasawuf dan tarekat.

Usai berdoa, mereka lalu mengusung sesajen tersebut, kemudian membawanya ke laut. Mereka lalu berjalan menuju ke dekat lapangan tempat pekande-kandea, lalu ke dekat laut dan melepaskan perahu sesajen tersebut secara bersama-sama.

BENTENG PATUA


Sebelum memasuki benteng, terdapat gapura sederhana bertuliskan welcome to Patua, yang belakangan baru dibuat masyarakat setempat. Untuk menjangkau benteng, bisa menggunakan ojek dan angkot. Benteng pertahanan Patua menggambarkan adanya prajurit (militer) terorganisir ketika itu, prajurit salah satu negara di Jazirah Sulawesi Tenggara dengan pusat pimpinan di Wolio. Tomia masuk dalam wilayah Bharata Kaledupa (Kahedupa) daerah otonom di Bawah Pemerintahan Kesultanan Buton.
Hefafoa atau lazimnya disebut henangkara, kini tinggal sebuah bekas perkampungan tak berpenghuni karena sudah berabad-abad lamanya ditinggalkan. Pemimpin ketika itu La Ode Abu, memilih membangun benteng di bukit terjal di sebelah Timur Desa Kollo Patua. Benteng yang kira-kira seluas satu setengah lapangan sepak bola itu, berada di ketinggian kira-kira 100 meter di atas permukaan laut.
Sekedar untuk diketahui, La Ode Abu merupakan bontona Waha, putra kandung La Burukeni Taeni yang merupakan keturunan langsung dari La Ode Guntu asal Wolio dari golongan bangsawan Tanailandu. “Tahun 1830, distrik pertama dipimpin putra kandung La Ode Abu yang dikenal dengan nama La Mboge. La Mboge mempunyai lima orang anak dari hasil perkawinannya dengan Wa Ana, yakni La Hatibi, Tambusae, Lamasinae, La Taudu, dan Wa Tairu. Selanjutnya Kepala Distrik secara terus-menerus dijabat oleh keturunannya. Mulai dari La Masinae (H Ismail), dan H Muh Isa (anak La Hatibi).
Beralih ke Benteng Patua. Jika berada di atas benteng, dengan mudah kita dapat melihat bentangan laut banda, indahnya karang atol yang tampak putih muncul mungil dari kedalaman laut, teguhnya Pulau Runduma, Kaledupa, Wangi-Wangi, dan tampak samar Pulau Buton. Rupanya tempat itu cukup strategis untuk pencitraan jauh, melihat setiap lalu-lintas bajak laut dan kapal-kapal musuh yang dapat diantipasi jika sewaktu-waktu mengancam eksistensinya ketika itu.
Pulau Tomia yang terletak di Laut Banda, merupakan jalur menuju Barat dan Timur Nusantara menjadi salah satu tempat yang disinggahi oleh pelaut dan pedagang dari daerah lain ketika itu. Karena memiliki sebuah pemerintahan, maka didirikanlah benteng yang dijaikan sebagai fasilitas untuk mempertahankan eksistensi, sekaligus bisa dikatakan sebagai satu-satunya bangunan megah di sana beberapa abad yang lalu.
Konstruksi Benteng Patua terdiri dari batu gunung yang disusun menyerupai dinding, ketebalan satu hingga 1,5 meter dengan ketinggian berfariasi dari 0,5 hingga 3 meter. Pintu masuk benteng menghadap Timur dengan bentuk zigzag. Jika anda datang tanpa dipandu, salah-salah anda masuk hutan dan tak dapat masuk ke bagian dalam benteng.
Bisa dikatakan kekuasaan ketika itu sudah tersentuh oleh Islam. Karena di salah satu bagian benteng, terdapat bekas masjid. Entah bagaimana arsitekturnya, namun bisa dibayangkan mesjidnya tidak terlalu megah, namun sisa lantai yang rata dari kapur masih ada. Menurut tokoh budaya, La Maode, yang secara sengaja saya berkunjung ke rumahnya tahun lalu, saya masih ingat ia mengatakan masjid di dalam benteng ketika itu konstruksinya sagat sederhana. Yakni beratapkan daun nipa serta berdinding jalaja.
Di dalam benteng juga terdapat kuburan keramat orang nomor satu ketika itu. Di bagian tengah, terdapat takhta raja yang terdiri dari lempengan batu yang licin dan terlihat sangat istimewa. Ya bisa dipastikan jika batu itu adalah altar raja yang membelakangi tebing dan gorong-gorong yang tampak aman untuk dijadikan tempat berlindung. Sejurus dengan takhta itu, terdapat jalan pintas berbentuk rongga tembus ke hutan belantara menuju arah selatan benteng.
Sebuah rongga yang menembus dasar benteng. Sepanjang rongga itu, terdapat batu halus berwarna cerah tersusun rapi menyerupai pengerasan jalan dari kerikil, namun lebih artistik tak bercampur tanah sedikit pun. Ketika wartawan koran ini mencoba memasuki rongga itu, sekitar 10 meter lebih dengan instan tiba-tiba kami sudah berada di balik benteng dan berada di hutan dengan pokok kayu besar dan banyak. Spontan saya bayangkan, jika dalam keadaan darurat, betapa mudahnya untuk menyelamatkan diri dengan melewati lorong rahasia itu.
Di bagian Selatan benteng dengan ketinggian hingga tiga meter, terdapat sejumlah lubang mengintai serta bekas dudukan meriam (stan) meriam. Dari sejumlah stan meriam, hanya satu terdapat meriam. Meriam yang tersisa bernama bhadili La Faturumbu. Konon La Faturumbu jika membidikkan bedilnya, Pulau Tomia bergetar hingga piring-piring di rumah warga berbunyi gemerincing.
Bedil-bedil serupa banyak ditemukan di beberapa desa dan kelurahan di Tomia. Tapi yang pasti salah satu meriam dari Patua kini sedang berada di Pulau Runduma. Menurut cerita masyarakat setempat, bedil tersebut dipindahkan oleh Danramil Tomia pada tahun 70-an. Kini bedil itu diletakkan di depan Masjid Runduma.
Benteng Patua hanya bisa dikenang dari kebesaran namanya, sejauh ini belum pernah mendapat sentuhan, apalagi pemugaran. Bahkan pos jaga prajurit yang konstruksinya juga dari batu, telah ludes diambil oleh orang yang tak bertanggung jawab dan tidak paham apa arti dari situs bersejarah itu. Entah untuk pelebaran jalan, atau untuk membangun rumah, yang jelas semua bebatuan di pinggir benteng terancam.
Yang perlu dijaga, jangan sampai kumpulan batu yang membentuk benteng itu pun ikut diratakan untuk dijual. Maka dari itu, perlu uluran tangan pemerintah dan instansi terkait. Karena bagaimana pun juga, benteng patua merupakan situs bersejarah dan memiliki nilai sejarah dan daya tarik yang kuat. Bahkan berkali-kali benteng yang ditumbuhi semak-semak itu dikunjungi toris mancanegara, bahkan pelajar sejumlah pelajar untuk untuk tugas ekstrakurikuler dan mempelajari peninggalan peradaban masalalu masyarakat Tomia.

TARI MERERE


Tari Merere merupakan tari tradisional yang berasal dari Kulisusu. Sedangkan kata merere dalam bahasa Kulisusu disebut, membuat dinding pembatas yang berarti seseorang yang belum balig harus melaksanakan prosesi merere.
Merere adalah pelaksanaan prosesi adat untuk mengislamkan agar diberi pengetahuan ilmu keagamaan dengan diajarkan mengucapkan dua kalimat sahadat sebagai pertanda telah sah menjadi penganut agama Islam sejati.
Konon, sebelum acara merere digelar terlebih dahulu dilaksanakan upacara kegembiraan pada siang dan malam hari, yakni pertunjukan seni budaya balumpa, ngibi, dan pencak silat. Usai kegiatan tersebut, dilanjutkan dengan berziarah ke Mata Morawu sebagai simbol asal mula nama Kulisusu yang letaknya terdapat di dalam Benteng Keraton. Ritual ini menandakan bahwa seseorang telah tiba di Kulisusu.
Setelah seluruh ritual adat dilaksanakan, maka dimulailah upacara merere yang dilaksanakan pada malam hari. Itupun masih melalui beberapa tahapan, seperti mebulili (memutar), mehungki (pertanda acara memere telah selesai), moato (diarak keliling kota yang diiringi dengan bunyi-bunyian alat musik tradisional), me uhu (pemberian doa selamat kepada orang yang telah melaksanakan merere).
Sedangkan puncak dari pagelaran Tari Merere, saat dua penari putra, mengusung dan mengarak-arak seorang gadis. Gadis ini menutupi wajahnya dengan sehelai selendang berwarna biru sehingga raut wajahnya tidak terlihat jelas membuat penonton penasaran. Sepanjang mengitari panggung, gadis itu dipayungi dengan kain sutera berwarna kuning keemasan. Selanjutnya diikuti enam penari cantik, Sambil diiringi dengan musik tradisional, enam wanita cantik ini terus menerus menampilkan setiap gerakan Tari Merere. Proses selanjutnya, gadis itu diturunkan dan secara perlahan-lahan selendang yang menutupi wajahnya dibuka.

TARI LULO ALU

Tari Lulo Alu yang merupakan tarian khas masyarakat Kabaena. Tarian ini dibawakan 12 penari yang dibagi atas dua peranan. Delapan penari putra memegang alu (Penumbu Padi) yang menggambarkan pria yang menumbuh padi dan empat orang penari perempuan memagang nyiru sebagai alat penapis beras, ditambah sapu tangan yang menggambarkan proses penapisan.
Tari tersebut memiliki kaitan erat dengan Kesultanan Buton. Katanya, pada zaman dahulu Kabaena merupakan bagian dari Kesultanan Buton dan penghasil beras sebagai pilar penguat Kesultanan Buton yang jaya pada masanya. Oleh karena daerah tersebut merupakan penghasil beras yang sangat signifikan maka putra Kabaena berinisiatif menciptakan tari tersebut sebagai tarian yang melambangkan kesukuran kepada tuhan yang maha esa atas melimpahnya rezki dari hasil panen.
Dilihat dari gerakan yang dilakukan penari, tari lulo alu sesungguhnya simbolisasi kepemimpinan. Pasalnya, gerakan yang digunakan sangat energik yang berarti untuk mencapai hasil yang maksimal diperlukan energi yang tinggi. Pakaian yang digunakan dalam tari tersebut merupakan ciri khas Kabaena yang memiliki kaitan erat dengan pakaian adat Buton. Misalnya dasar pakaian yang berwarna hitam ditambah warna kekuning-kuningan dan kemerah-kemerahan.
Kabaena memang memiliki kaitan erat dengan Pulau Buton. Bahkan daerah ini memang sulit terpisahkan dengan Buton.

BATU POARO

Merupakan batu yang menjadi pertanda hilangnya penyiar agama islam di Buton yang bernama Syech Abdul Wahid di pesisir pantai Buton. Disebut Batu Poaro karena oleh masyarakat Buton menyebutkan bahwa Syech Abdul Wahid “Apoaromo te Opuna” yang artinya ia telah berhadapan dengan tuhannya dan batu ini dianggap sebagai makam beliau. Obyek Wisata ini terletak di Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum 2 Km dari Pusat Kota Bau-Bau.

KABURABURANA


Kaburaburana berarti busa air yang ditimbulkan gesekan aliran sungai, mengalir dan jatuh di setiap teras hingga tujuh tingkatan. Alirannya sangat lembut terasa bagai air syurga ketika kaki ini mulai melangkah di atas bentukan endapan kapur dialiri air yang tipis, hanya kira-kira sampai mata kaki.

Sungguh indah ciptaan Tuhan yang satu ini. Hanya kecebong dan berbagai ikan kecil bermain lincah menikmati air jernih tampak di beberapa kolam yang terdapat hampir di setiap tingkatan. Terpesona aku melihat mahakarya yang hampir terlupakan itu, dialah permandian yang mepunyai nama besar dan cukup akrab di hati masyarakat Metro Baubau dan Buton Raya. Terletak di Desa Lawela Selatan, Kecamatan Batauga, hanya 20 menit perjalanan menggunakan sepeda motor dari Kota Baubau.

Kaburaburana mempunyai ruas aliran air yang cukup lebar kira-kira 30 meter. Akses masuk masih berupa pengerasan, jaraknya kurang lebih 1 km dari tepi jalan poros Batauga. Lahan lapang beberapa meter dari tangga turun cukup luas untuk menampung ratusan sepeda motor dan kendaraan roda empat. Dari kejauhan, suara desahan air terasa bagai memanggil untuk menjamahnya dan menikmati kelembutannya. Terdapat 104 anak tangga, di kaki bukit terdapat bangunan tua yang telah usang tempat berganti pakaian yang mulai dirimbuni semak belukar. Di depannya terdapat prasasti yang juga di balik semak-semak bertuliskan TMD Tentara Manunggal Desa 1992/1993.

Fasilitas Kaburaburana sangat sederhana dan apa adanya. Meski demikian, tetap saja memiliki aura cantik sejak dulu inilah alasan kenapa permandian alam Lawela ini ramai dikunjungi. Pemerintah baru menyadari Kaburaburana memiliki potensi menambah PAD. Sejauh ini baru tahap membuat rancangan perda tentang penarikan retribusi.

BANGKA MBULE MBULE

Bangka Mbule-Mbule adalah upacara melarung hasil bumi ke laut yang dilakukan oleh masyarakat Desa Mandati. Berbagai hasil bumi itu diantaranya padi, jagung, dan pisang. Sebelum dilarung ke laut, ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, hasil bumi diletakkan dalam perahu kayu yang dihiasi dengan sepasang orang-orangan sebagai simbol kejahatan. Kedua, perahu yang sudah berisi hasil bumi ini kemudian diarak keliling kampung guna mengusir mara bahaya yang akan mengganggu desa. Nah, perahu yang membawa hasil bumi yang akan dilarung ini disebut Mbule-Mbule.
Tujuan dari acara Bangka Mbule-Mbule adalah untuk mengucapkan syukur sekaligus menghindari bencana, seperti bencana alam, mewabahnya penyakit, atau persoalan sosial yang dapat mengakibatkan gangguan di masyarakat.

BALIARA

Baliara ialah tempat peristirahatan raja-raja. Baliara ini kurang lebih setinggi 3 m dengan luas juga kurang lebih 12 m x 12 m yang dahulu kala digunakan sebagai tempat pertemuan khusus para raja-raja. Baliara terletak di Desa Liya Kabupaten Wakatobi

LAWA LARO TUGO


Pintu masuk ini merupakan salah satu pintu gerbang benteng keraton liya yang seluruhnya terdapat sebanyak 12 buah ditambah 1 buah pintu rahasia yang keseluruhannya masih diperlukan sentuhan para arkiologis guna merenovasi dan meningkatkan kembali kondisinya sesuai aslinya dalam rangka pelestarian nilai-nilai budaya Liya di Wakatobi

Masjid Tua Mubaraq


Masjid Tua Mubaraq Desa Liya merupakan campur tangan Kesultanan Buton setelah Buton (Wolio) menganut Islam ± Tahun 1500 abad ke 15. SyekhAbdul Wahid mengislamkan Sultan Buton pertama Murhum dan mengutus Ulama ke Pulau Wangi-Wangi dan pertama tiba di Pulau Oroho, sebagai tempat pemukiman pertama masyarkat Liya pada tahun 1401. Ulama mengajarkan Islam di Pulau Oroho. Masyarakat di Pulau Oroho pindah di daerah Liya Togo karena kekurangan air. Dan setelah mereka tiba di Liya Togo maka didirikanlah masjid dan benteng ternama ini. Bahan-bahan perekat pondasinya dibuat dari kapur yang ditumbuk, dicampur dengan benalu di sebuah batu yang berbentuk yang dalam bahasa Wangi-Wangi dinamakan “Tumbu’a”(Lesung). Alat ini masih ada di depan masjid. Masjid Mubaraq memiliki ukuran Panjang Pondasi seluruhnya 15.80 m, Lebar 15.70 m, Tinggi 2.20 m, Panjang Badan Masjid 13.50 m, Lebar Badan Masjid 13.35 m, Panjang Mimbar Masjid 1.85 m danLebar Mimbar Masjid 4.00 m.

TUTURANGIANA ANDALA

Tutturangiana Andaala (persembahan ke laut), merupakan ritual kesyukuran masyarakat Pulau Makasar pada Sang Pencipta, atas keluasan rezeki yang terhampar luas disektor kelautan. Seperti ritual lainnya, yang banyak menggunakan penganan sebagai sesaji ritual, sesaji diletakkan disebuah perahu yang akan dilepas kelaut kemudian diiringi ratusan kapal/armada nelayan menuju “kolam laut” antara Pulau Makasar dan Kota Bau-Bau. Disanalah, sesaji itu dilepaskan diiringi doa-doa para tetua adat. Penyelenggaraan sesajen ini dilaksanakan diempat titik, yakni Sukanayo-Liwutu, ujung timur Pulau Makasar, dan kawasan Bukit Kolema.

MATAA

Pesta adat ini merupakan ritual adat yang umumnya digelar masyarakat etnik Laporo (Cia-cia), sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil panen yang diperolehnya dalam kurun waktu satu musim panen. Ritual adat ini, diselenggarakan disebuah Baruga (aula pertemuan) dipimpin oleh para tetua adat setempat, dengan pakaian khas dan tetabuhan irama yang mengiringi syahdunya ritual.

Masyarakat yang terlibat langsung pada ritual ini biasanya menyuguhkan berbagai panganan hasil panen mereka untuk dinikmati secara bersama-sama.Ritual Mataa ini umumnya diselenggarakan selama tujuh hari (sepekan) siang dan malam, dengan kegiatan-kegiatan atraktif dari masyarakat seperti tarian Linda dan Pencak Silat yang diperagakan oleh tua-muda etnik Laporo.

KABUENGA

Kabuenga ialah salah satu tradisi yang cukup sering diadakan di Pulau Wangi-Wangi dan hanya ada di pulau ini. Peminat dan penontonnya sangat banyak sampai berjubel dan memanjat daerah ketinggian. Inti sari acara ini adalah mempertemukan para perjaka dan perawan yang ingin mencari jodoh. Tiang bambu yang berdiri ini adalah tiang ayunan yang sudah didirikan satu bulan sebelum acara ini diselenggarakan yang diperuntukkan buat muda-mudi untuk saling mengenal satu sama lain. Kemudian pada acara puncak ini para lelaki akan saling mengungkapkan perasaan sukanya melalui bingkisan yang dibawa. Ada yang membawa kebutuhan wanita dan ada juga yang menunjukkannya melalui rupiah. Pot bunga yang dihiasi uang seratus ribuan itu asli. Sementara mereka yang berkeliling menjajakan minuman adalah para puteri yang belum sempat saling mengenali dengan calon pasangannya sehingga harus menebar pesona dengan menjajakan minuman. Lelaki yang menaruh minat akan memberikan uang yang cukup banyak untuk menarik perhatian sang pujaan hati.
Masyarakat di Wakatobi, punya cara dan tradisi tersendiri dalam mencari pasangan hidup. Melalui tradisi kabuenga, kaum muda-mudi di daerah itu dipertemukan secara langsung dilapangan terbuka. Dalam tradisi ini, kaum laki-laki dan perempuan yang telah akil balik dan telah berikrar bersama untuk menempuh jalan hidup bersama disandingkan diatas ayunan yang ditempatkan ditengah lapangan terbuka sehingga semua masyarakat bisa menyaksikannya.
Prosesnya, altar atau ayunan kabuenga lebih dulu dipersiapkan untuk menjadi media pertemuan bagi muda-mudi di kabupaten kepulauan itu saat tradisi Kabuenga dirayakan. Tradisi pencarian pasangan hidup yang dinanti-nantikan oleh seluruh masyarakat di kecamatan wangi-wangi, kabupaten Wakatobi ini selain telah menjadi ritual tahunan tradisi ini juga menyuguhkan tontotan unik dan menarik. Para pasangan mudi-mudi yang selama ini tidak memiliki saluran untuk berkomunikasi melalui tradisi ini mereka secara langsung bisa saling bertemu dan menyatakan ikrar untuk menjadi pasangan hidup.
Dalam tradisi kabuenga ini, kaum perempuan yang sudah akil balik berkumpul melingkari altar kabuenga sambil menggunakan pakaian adat khas wakatobi dan menyiapkan sajian makanan tradisional yang dihiasi dengan beragam aksesoris namun nilai naturalnya tetap terjaga. Tarian pajoge yang diiringi irama gendang dan bunyi gong mengawali proses sakral ini. Selain kaum muda mudi, kalangan orang tua juga memainkan tarian ini. Bagi laki-laki yang ikut serta dalam tarian ini, diwajibkan untuk merogoh kocek dan memberikan uang kepada kaum perempuan.
Makna filosofis tarian pajoge ini, menceritakan kehidupan setiap kaum laki-laki di kabupaten kepulauan wakatobi yang sebagian besar hidupnya selalu menjadi perantau. Dalam perantauan, kaum laki-laki bernazar saat pulang kampung halaman wajib menyumbangkan sebagian pendapatannya kepada para penari-penari yang menyambutnya. Untuk mengiringi prosesi kabuenga, para pemangku adat kemudian mengelilingi ayunan kabuenga yang berdiri ditengah lapangan terbuka sambil mengalunkan irama lagu tradisional. Prosesi ini sebagai sebuah simbol penghayatan nilai-nilai sakral ritual ini yang melambangkan kekuatan jiwa dan kebersamaan masyarakat wakatobi.
Proses selanjutnya, para kaum wanita baik tua dan muda berjalan bersama mengelilingi altar kabuenga sebanyak 7 kali sambil melantunkan syair dan pantun serta membawa minuman ringan yang akan dipersembahkan kepada setiap laki-laki yang nantinya akan menjadi calon pasangan hidup kaum wanita didaerah ini. Selain dalam momentum seperti ini , biasanya tradisi balas pantun ini dilakukan saat memasuki puncak bulan purnama dimana para kaum wanita hanya berada didalam rumah sedangkan kaum laki-laki hanya berada diluar rumah. Proses akulturasi masyarakat didaerah ini lambat laun telah mengubah tradisi kabuenga yang diwariskan oleh nenek moyang masyarakat dikepulauan wakatobi ini. Pencarian pasangan hidup tidak lagi dilakukan seperti dulu dimana seluruh prosesi harus dilakukan secara tertutup.
Kini tradisi itu mulai berubah dan dilakukan secara terbuka. Meski demikian, tradisi ini tetap dianggap sakral karena tradisi ini tidak semata hanya menjadi ajang pencarian pasangan hidup, tetapi menjadi wahana untuk memperkuat nilai kebersamaan masyarakat di kepulauan wakatobi. Kaum perempuan yng berada dalam barisan ini disebut sebagai kelompok kadandio. Setiap perempuan yang membawa minuman ringan dipersembahkan kepada seorang laki-laki yang diyakininya akan menjadi pasangan hidupnya. Dalam tradisi ini, setiap perempuan harus memperlihatkan prilaku sopan santun kepada seorang laki-laki yang akan mendapat suguhan minuman persembahan sang perempuan. Tradisi ini disebut sebagai adat posambui. Setelah kaum perempuan kini giliran kaum laki-laki yang mengelilingi altar kabuenga. Bila para kaum perempuan membawa minuman ringan para kaum laki-laki pun melakukan hal serupa, namun bedanya para laki-laki mempersembahkan beragam sajian makanan dan barang seperti sarung dan pakaian. Dalam proses ini kaum laki-laki juga mengelilingi altar sebanyak 7 kali sambil melantunkan pantun.
Setelah balas pantun antara kaum laki-laki dan perempuan digelar setiap laki-laki dan wanita yang telah mengikrarkan diri untuk menempuh pasangan hidup diantar menuju ayunan kabuenga. Setiap pasangan duduk diatas ayunan sambil diayun oleh pemangku adat yang sejak awal telah mengelilingi altar ini. Irama syair dan pantun yang dinyayikan oleh para pemangku adat terus bersahutan mengiringi setiap pasangan yang berada diatas ayunan. Khusus untuk perempuan ayunan kabuenga ini menjadi ajang penilaian bagi setiap laki-laki yang akan menjadi calon pasangan hidupnya. Calon laki-laki pasangan mereka masing-masing sudah bisa melihat apakah sicalonnya memiliiki etika dan moral yang santun atau memiliki karakter yang lemah lembut termasuk sifat baik dan buruknya.
Inti sari acara ini adalah mempertemukan para perjaka dan perawan yang ingin mencari jodoh. Tiang bambu yang berdiri ini adalah tiang ayunan yang sudah didirikan satu bulan sebelum acara ini diselenggarakan yang diperuntukkan buat muda-mudi untuk saling mengenal satu sama lain. Kemudian pada acara puncak ini para lelaki akan saling mengungkapkan perasaan sukanya melalui bingkisan yang dibawa. Ada yang membawa kebutuhan wanita dan ada juga yang menunjukkannya melalui rupiah. Pot bunga yang dihiasi uang seratus ribuan itu asli. Sementara mereka yang berkeliling menjajakan minuman adalah para puteri yang belum sempat saling mengenali dengan calon pasangannya sehingga harus menebar pesona dengan menjajakan minuman. Lelaki yang menaruh minat akan memberikan uang yang cukup banyak untuk menarik perhatian sang pujaan hati. Bagi calon pasangan laki-laki dan perempuan, setelah melalui proses kabuenga ini selanjutnya tinggal menunggu pembicraan lebih lanjut ditingkat keluarga untuk menuju kepelaminan.

TIKAR LIPAT WAKATOBI

Satu lagi kerajinan asli Kepulauan Wakatobi yang rasanya pantas untuk dibicarakan adalah seni anyaman tikar lipat dari Feruke. Dengan bahan dasar daun pandan yang dikeringkan, dan kemudian dianyam menjadi tikar. Banyak penduduk desa Feruke mencoba menjualnya ke turis yang biasa datang ke sana. Biasanya baru setelah dijemur selama tiga hari. Daun pandan siap untuk dianyam menjadi tikar liap. Harganya juga tidak terlalu mahal,berkisar antara 25 – 50 ribu saja, kita telah memiliki sebuah tikar lipat seukuran badan orang dewasa. Rasa sejuk yang keluar saat kita tidur di atasnya, menjadi daya tarik tersendiri di tengah teriknya udara lautan di sana

SUAKA MARGA SATWA BUTON UTARA

SM Buton Utara terletak pada ketinggian 0-600 m (dpl). Topografi datar, landai bergelombang hingga berbukit-bukit, dengan kelerengan 0-30%. Jenis tanah mediteranian dan podzolik merah kuning, di beberapa tempat sering dijumpai batu karang atau coral, dengan top soil tipis. Tipe iklim C, musim hujan biasanya jatuh pada bulan Januari-Juni dan musim kemarau pada bulan Juli-Desember dengan curah hujan tahunan sebesar 2.286 mm, dengan jumlah hari hujan rata-rata 106 hari. Suhu tertinggi mencapai 34°C, suhu terendah hingga 22°C, dengan kelembaban sebesar 80 %.
Kawasan konservasi jni memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan yang cukup tinggi. Jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan antara lain dolipo (Terminalia copelandil), soni (Dillepia megalantha), gito-gito (Diospyros pilosenthera), cendrana (Pterocarpus indicus), kaba (Canangium odoratum), bengkali (Anthocephallus indicus), Kenari (Canarium vulgaris), Bintangur (Dillenia serrata), dao (Dracontomelon dao), dan beberapa jenis anggrek (Acanthepipium sp, Bulbophyllum sp, Dendrobium sp, dan Eria floribunda).
Sedangkan satwaliar yang berhabitat dalam kawasan antara lain: anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), anoa pegunungan (B. quarlesi), rusa (Cervus timorensis), monyet Buton (Macaca brunnences), kus-kus (Phalanger sp.), dan maleo senkawor (Macrocephalon maleo).
Kekayaan jenis flora dan fauna ini didukung oleh tipe ekosistem yang ada, yaitu hutan bakau, hutan pantai, hutan dataran rendah, dan hutan pegunungan rendah.

HUTAN LAMBUSANGO

Hutan Lambusango merupakan salah satu hutan lindung yang terdapat di Sulawesi Tenggara dengan luas 65.000 ha. Hutan ini secara geografis terletak pada 05°13‘05°24‘ Lintang Selatan (LS) dan 122°47‘122°56‘ Bujur Timur (BT) dengan ketinggian antara 5 m sampai 300 m dari permukaan laut (dpl). Hutan ini memiliki topografi alam datar hingga berbukit dengan curah hujan yang turun per tahun rata-rata berkisar 1.980 mm, suhu udara berkisar di antara 20°C hingga 34°C serta kelembapan sekitar 80%.
Pada tahun 1982, melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian Nomor 639/Kpts/9/Um/1982 tertanggal 1 September 1982, kawasan Hutan Lambusango ditetapkan sebagai hutan lindung.

Keputusan tersebut mengatur kawasan hutan ini untuk dikelola sebagai Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, seperti konservasi alam dan penelitian hutan. Melalui surat keputusan itu juga, kawasan Hutan Lambusango dibagi ke dalam 3 wilayah, yaitu Suaka Margasatwa dengan luas area sekitar 28.510 ha; Cagar Alam Kakenauwe dengan luas sekitar 810 ha; dan Kawasan Hutan Lindung dan Produksi yang terletak di sekitar kawasan konservasi hutan dengan luas area sekitar 35.000 ha. Semenjak tahun 1984, oleh pemerintah setempat kawasan Hutan Lambusango dipercayakan pengelolaannya pada Resort KSDA (Konservasi Sumber Daya Alam) Lambusango yang ditugaskan untuk menjaga kelestarian hutan serta melakukan upaya konservasi pada area yang dipergunakan untuk hutan produksi.

Hutan Lambusango memiliki keindahan alam yang menawan. Keindahannya tercipta dari perpaduan hamparan aneka flora dan fauna yang menjadi ciri khas satwa dan tumbuhan di Sulawesi Tenggara. Jenis flora yang terdapat di hutan tersebut mewakili jenis tumbuh-tumbuhan, seperti kayu besi (mitocideros petiolata), kuma (palaquium obovatum), wola (vitex copassus), bayam (intsia bijuga), cendrana (pterocarpus indicus), bangkali (anthocephallus macrophyllus), kayu angin (casuarina rumpiana), sengon (paraserianthes falcataria), dan rotan (calamus spp.). Sementara, aneka jenis fauna di hutan ini meliputi, anoa, kera hitam, rusa, kus-kus, sapi liar, biawak, merpati hutan putih dan abu-abu, musang sulawesi, serindit sulawesi, dan beraneka satwa lainnya.

Oleh karena memiliki kekayaan flora dan fauna yang beragam, Hutan Lambusango juga sering dimanfaatkan oleh para ahli sebagai tempat penelitian. Penelitian dilakukan dalam rangka mencermati kehidupan hayati, kondisi ekologi, sampai upaya konservasi alam. Para peneliti yang datang ke kawasan Hutan Lambusango tidak hanya berasal dari dalam negeri, melainkan juga datang dari luar negeri.

THE GREAT BUTON 2

March 4, 2012
Ngkaringkari, The Little Bali On Buton Raya

Kelurahan Ngkaringkari, Kecamatan Bungi, Kota Baubau menyimpan pesona budaya dari etnis pendatang. Masyarakat Bali yang datang ke Kota Baubau melalui program transmigrasi, turut membangun daerah ini serta tetap menjaga kebudayaan mereka. Masyarakat etnis Buton dan Bali hidup rukun di sini. Ngkaringkari sering disebut sebagai “The Little Bali”. Ini bisa dikatakan nilai plus bagi para wisatawan yang datang ke Buton Raya sebab, bila Anda ke Bali, anda cuma melihat budaya Bali. Tapi, jika berkunjung ke Baubau dan menyempatkan diri ke Ngkaringkari, Anda bukan hanya bisa melihat budaya Buton Raya tapi juga budaya Bali. Di Ngkaringkari, Anda bisa melihat pemandangan indahnya sawah dan lahan pertanian lainnya yang terlihat sejauh mata memandang. Suasana pedesaan beserta keramahan warganya merupakan hal menarik yang tak boleh Anda lewatkan. Waktu yang tepat untuk mengunjungi daerah ini ialah saat perayaan hari besar agama Hindu.
Mengarak Butha Kale dari ujung kampung ke ujung lainnya adalah salah satu ritual yang dilakukan oleh umat Hindu di Kelurahan Ngkaringkari, Kecamatan Bungi, Kota Baubau menjelang ritual nyepi. Semua umat Hindu di seluruh Indonesia melakukan hal serupa.
Ritual Ogoh-ogoh merupakan acara tahunan. Acara ini menjadi perhatian warga setempat bahkan sangat ramai karena warga dan wisatawan Kota Baubau berdatangan ke Ngkaringkari untuk menyakasikannya.
Butha Kale pada ritual ogoh-ogoh itu tidak hanya sekedar diarak oleh sepuluh pria berpakaian serba putih dan berikat kepala. Tetapi mereka juga melakukan gerakan menari diiringi gendang dan alat musik tradisional. Gerakan itu dilakukan sepanjang jalan dari ujung timur ujung barat lalu kembali lagi ke timur.
Setiap tempat yang dilalui Butha Kale diyakini bisa menghilangkan sial yang oleh masyarakat Kelurahan Ngkaringkari disebut aura negatif alam. Butha Kale adalah perwujudan iblis yang sangat besar (raksasa) berwarna merah, bertaring, memegang kapak, kuku kaki dan tangan tajam, berambut panjang dan ditemani dua ekor monyet.
Sehari sebelum ritual ogoh-ogoh digelar, umat Hindu Ngkaringkari melakukan melasti di Pantai Lamboro. Melasti adalah ritual membuang segala kekotoran alam semesta yang tertanam dalam jiwa manusia. Usai melasti, digelar pirse lalu sawer pesange yang bertujuan untuk memberi persembahan kepada Butha Kale.
Butha Kale bisa diartikan sebagai mahluk yang berada di bawah manusia. Sedangkan persembahan untuk Butha Kale bertujuan untuk menciptakan keseimbangan alam semesta sekaligus bisa dijauhi dari semua ganguan dalam bentuk apapun pada saat ritual nyepi.
Butha Kale pada ogoh-ogoh di Ngkaringkari terbuat dari gabus menyerupai raksasa setinggi kurang lebih 3 meter. Butha Kale diletakkan di atas beberapa bambu-bambu yang diikat menyatu menyerupai salah satu permainan dalam pramuka, lalu diarak sejauh kurang lebih 7 km
Selain Butha Kale ternyata ada dua orang pelengkap memakai topeng yang menyerupai Butha Kale ikut menari-nari. Dua orang ini juga menjadi salah satu pusat perhatian setiap orang yang menonton. Kebanyakan anak-anak takut untuk mendekatinya.
Butha Kale di penghujung ritual harus dibakar. Maksudnya, agar seluruh kesialan yang mengikut bersamanya ikut terbakar.
sumber: http://www.baubaupos.com

BATU YIGANDANGI/BATU WOLIO

Batu Yigandangi (biasa juga disebut batu Wolio ataupun batu Igandangi), terletak di tengah kawasan Benteng Keraton di kelurahan Melai kecamatan Murhum kota Baubau. Batu Yigandangi merupakan batu yang digunakan dalam rangkaian prosesi pelantikan Raja/Sultan yang dilantik pada hari Jumat. Sebelum pelantikan Sultan, tepatnya Kamis sore, empat orang Bonto Siolimbona mengambil air dari salah satu mata air sebanyak delapan ruas bambu. Air tersebut kemudian disiramkan ke Batu Yigandangi dan dipukulkan gendang. Air tersebut juga kemudian dicampurkan ke air mandi calon Sultan sebelum berangkat shalat Jum’at. Pelantikan Sultan dilakukan di dalam Masjid Agung Keraton Buton dan di Batu Popaua. Kini masyarakat setempat menganggap belum sampai ke tanah Buton jika belum menyentuh batu ini.
sumber: http://wolio.wordpress.com/

Liana Latoondu / Gua Arupalaka

Gua ini merupakan sebuah cerok kecil bentukan alam setinggi kurang lebih 1,5 m. gua ini pernah dijadikan sebagai tempat persembunyian Latoondu (Arupalaka) seorang raja Bone yang cukup berpengaruh ditanah Bugis. Ia melarikan diri ke Buton tahun 1660 dan menetap untuk waktu yang tidak begitu lama. Kemudian kembali ke Sulawesi selatan memimpin perlawanan menghadapi Gowa. (sumber: http://azulfachri.wordpress.com/)

BATU POPAUA
Batu Popaua, Batu pelantikan yang terletak di depan Masjid Agung, berbentuk batu ponu atau simbol kewanitaan, tempat Raja/Sultan dilantik oleh Dewan Mentri dengan cara memutarkan payung di atas kepalanya, batu ini dianggap suci dan keramat dan di percaya tempat pertama kalinya Raja Buton pertama Ratu Waa Kaa Kaa menginjakkan kakinya.
GORAANA OPUTA/MALUDJU WOLIO

Goraana Oputa atau Maludju Wolio merupakan akulutasi budaya dan Islam dalam menyambut kelahiran Nabi Muhamma SAW setiap malam 12 Rabiul Awal pukul 00.00 WITA hingga pukul 03.00 WITA dini hari. Maludju Wolio pada masa Kesultanan Buton selalu digelar di istana sultan. Kini digelar di Rujab Walikota Baubau.
sumber: baubaupos.com

PUNCAK INDAH MARDADI

Puncak yang terbentuk dari karang alami ini perlahan tapi pasti mendapatkan perhatian dari masyarakat sekitar, dan rata-rata tak kurang dari 100 orang mengunjungi tempat yang selain menyewakan gazebo dan pondok ini juga menjual makanan dan minuman. Nama Mardadi sebetulnya diambil dari nama daerah keramat yang berada tak jauh dari Puncak. Dari kejauhan, Puncak Indah Mardadi (PIM) ini terlihat seperti sebuah kapal dengan buritan kapal yang menghadap ke arah timur sehingga bagian depan dilengkapi dengan beberapa kanopi tempat anak muda bercengkerama sambil menikmati matahari terbenam. PIM pun dipercantik dengan aksesoris jangkar raksasa yang digantung di bagian depan sehingga memperkuat citra tempat ini sebagai puncak karang alami yang menyerupai sebuah kapal.(sumber: aci.detik.com)

MASJID BENTE KALEDUPA


Kepulauan Wakatobi dikenal sebagian besar penduduknya beragama Islam, sehingga tak heran jika bangunan masjid tua banyak ditemukan di sana. Di salah satu pulau terbesar di Wakatobi, Kaledupa tepatnya di Desa Ollo terdapat masjid tua yang sarat akan sejarah dan makna budaya setempat.

Menurut keterangan sesepuh setempat, terdapat beberapa kisah yang berkaitan dengan masjid tersebut diantaranya yaitu bahwa masjid ini dibangun oleh orang yang sama dengan pembangun masjid di Keraton Buton dan Ternate dalam waktu bersamaan. Tepat di titik tengah bangunan masjid ini terdapat tanda khusus yang sampai sekarang masih dijaga keasliannya yang menyerupai lafaz muhammad. Titik tengah ini juga diriwayatkan pernah menjadi lokasi pemakaman secara hidup-hidup putri setempat yang berbaju daerah sesaat sebelum dibangunnya masjid ini. Masyarakat setempat juga percaya bahwa masjid ini pernah dicoba untuk direnovasi 3 kali, namun ketiga orang yang mencoba merenovasi tersebut meninggal dunia.

Selain penuh dengan cerita yang berbau legenda, masjid ini pun memiliki banyak makna pada setiap bagian bangunannya. Contohnya adalah adalah jumlah anak tangga menuju halaman masjid yang berjumlah tujuh, melambangkan 4 unsur tingkatan derajat manusia sesuai budaya setempat ditambah dengan 3 unsur pengawal raja. Batu penyusun anak tangga tersbut pun terbuat dari bahan yang berbeda-beda, menyesuaikan dengan filsafat tiap anak tangganya. Jumlah pintu dan jendela masjid ini pun berjumlah 17 yang melambangkan jumlah kewajiban rakaat yang harus dipenuhi setiap muslim.

Seakan tak ada habisnya memang jika mencoba untuk menguak setiap detil yang ada di masjid bersejarah warga Ollo ini, tapi warga setempat tidak terlalu ambil pusing dengan sejarah yang rumit atas masjid tersebut dan mengembalikan ke fitrahnya sebagai sebuah tempat ibadah sehari-hari, sebuah sikap sederhana yang terkadang patut ditiru.(sumber: aci.detik.com)

PEMANDIAN BUNGI


Kota Bau-Bau kian hari semakin berkembang, seiring ekonominya yang semakin meningkat tentu kebutuhan warganya akan tempat rekreasi pun semakin meningkat. Salah satu alternatif tempat wisata di Bau-Bau adalah pemandian Bungi.

Sebetulnya tempat ini hanyalah tempat warga sekitar melakukan aktivitasnya yang berkaitan dengan kebutuhannya akan sebuah sungai. Tapi lama kelamaan seiring meningkatnya keinginan warga untuk mendapatkan tempat wisata yang baru, beberapa tahun belakangan ini tidak hanya warga setempat tapi juga dari wilayah lain di Bau-Bau juga mengunjungi tempat ini sehingga secara perlahan tempat ini dikenal sebagai salah satu tempat wisata di Bau-Bau.

Pada sore hari dan musim liburan biasanya banyak warga yang datang untuk menikmati Pemandian Bungi ini. Alasan lain warga berkunjung ke tempat ini adalah sebagai alternatif bagi warga yang kurang berkenan dengan keramaian di Air Terjun Tirta Rimba karena jarak kedua tempat ini yang berdekatan. Selain itu pemandian yang terletak di Kecamatan Bungi Kota Bau-Bau tidak memungut biaya sama sekali kepada pengunjung, lagi-lagi biaya menjadi faktor utama dalam pariwisata di Indonesia.(sumber: aci.detik.com)

AIR TERJUN TIRTA RIMBA


Orang Bau-Bau menyebut air terjun sebagai air jatuh, sedangkan yang dimaksud air jatuh disini adalah Air Terjun Tirta Rimba. Tidak banyak memang air terjun di kota ini, dan Tirta Rimba merupakan salah satu yang paling populer bagi warga sekitar.

Air Terjun yang merupakan aliran Sungai Kokalukuna ini mempunyai ketinggian hanya sekitar 6 meter dengan lebar aliran sungai sepanjang kurang lebih 5 meter. Air mengalir dari atas melalui batu-batu besar menuju kolam yang telah dibentuk dengan ukuran sekitar 10×7 meter lengkap dengan papan tempat meluncur layaknya kolam renang. Tempat ini menjadi favorit terutama bagi anak-anak dan biasanya dikunjungi pada hari libur, sehingga bila berkunjung pada hari kerja suasana sepi dan damai akan kita dapatkan disana karena hanya terdapat beberapa pengunjung saja.

Air Terjun yang terletak 4 km dari kota Bau-Bau ini menjadi favorit warga sekitar karena selain letaknya yang strategis juga murah meriah. Pengunjung hanya dikenakan tarif sebesar Rp.2.000 dan bahkan pada saat di luar musim liburan pengunjung tidak dikenakan tarif sepeser pun. “Biasanya hanya hari libur saja ada yang jaga dan mengutip (memungut uang retribusi), itu pun tidak tentu kadang dari Dispenda, kadang dari Kehutanan, kadang dari instansi lainnya”, tutur salah satu warga yang sering berkunjung ke sana.

Cara terbaik untuk menikmati Air Terjun Tirta Rimba ini adalah dengan berdiri di bawah aliran air dekat batu-batu besar, karena airnya tidak terlalu deras sehingga cukup nyaman untuk berdiri di bawahnya. Air di sini juga sangat jernih karena memang tempat ini merupakan salah satu daerah konservasi yang berada dalam pengawasan Kementerian Kehutanan. Beberapa meter dari air terjun ini telah dibangun saluran khusus yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mirip aliran sungai alami yang berundak-undak dan ketika musim hujan tiba, seluruh aliran tersebut tertutupi air sehingga musim hujan terkadang menjadi waktu terbaik untuk mengunjungi Air Terjun Tirta Rimba.(sumber: aci.detik.com)

PUSAT KEBUDAYAAN WOLIO

Berada tidak jauh di luar kompleks keraton, terdapat istana Sultan Buton ke-38 yang kini menjadi museum atau Pusat Kebudayaan Wolio. Gagasan pendirian museum datang dari putra Sultan Buton ke-38 Drs. H. La Ode Manarfa Kaimuddin KK pada 1980. Saat ini Museum Kebudayaan Wolio dikelola oleh keluarga keturunan Sultan Buton ke-38. Koleksi museum terdiri atas benda-benda peninggalan dari Kesultanan Buton ke-38, berupa alat-alat upacara seperti tempolong, altar, vas bunga, senjata atau alat-alat peperangan seperti tombak, meriam, alat kesenian, alat rumah tangga, keramik, foto-foto dan lainnya.

Jika ingin mengetahui seluk-beluk Kesultanan Buton, menghunjungi Pusat Kebudayaan Wolio merupakan pilihan yang tepat. Tempat ini memang sengaja menjaga sejarah keslutanan Buton tidak hanya dalam bentuk benda-banda besejarah tapi juga kisah-kisah yang siap diungkapkan oleh keluarga yang menjaganya serta tak kalah penting nilai-nilai falsafah kehidupan orang Buton sendiri.

Cukup banyak falsafah hidup orang Buton yang sarat akan makna, diantaranya adalah Empat Aturan Dalam hidup bernegara dan berbangsa mereka memegang teguh empat aturan, yaitu Inda inda mo arata somanamo karo artinya, korbankan harta demi keselamatan diri. Kemudian Inda inda mo karo somana mo lipu, artinya korbankan diri demi keselamatan negeri, kemudian Inda inda mo lupu somanamu syara, artinya korbankan negeri yang penting pemerintahan. Terakhir adalah Inda inda mo syara somanamu agama artinya biarlah pemerintahan hancur yang penting agama.

Falsafah perjuangan kerajaan Buton ini tidak menentukan agama apa yang harus dibela, karena agama apapun sama saja, jika itu sudah menjadi pilihan orang atau negara yang bersangkutan. Selain falsafah negara, Orang Buton mempunyai falsafah hidup, yakni Po Mae Maeka, artinya sesama manusia harus tenggang rasa. Po ma ma siaka, artinya tiap manusia harus saling menyayangi, Po angka angka taka artinya tiap manusia harus saling menghargai dan Po pia piara artinya tiap manusia harus saling memelihara. Karena falsafah ini maka pasangan suami istri di Buton sangat awet dan takut sekali bercerai, mungkin prinsip ini perlu diadopsi banyak orang jaman sekarang yang sedikit bermasalah dengan yang terakhir ini.(sumber: aci.detik.com)

TAKIMPO LIPUOGENA


Pada acara ritual puncak pesta adat tahunan Takimpo Lipuogena, Parabela selaku Ketua Adat memimpin acara yang diawali dengan pelepasan rombongan Ande-ande, Gilisoria, Lakadandio serta rombongan Kalambe yang akan berjalan mengelilingi kampung.
Ande-ande mengambarkan kelompok anak yang baru belajar merangkak dan masih berada dalam dekapan sang ibu. Hal tersebut disimbolkan dengan gerakan tangan sejajar dada dengan suara laksana bayi. Kelompok kedua yang disebut Gilisoria menggambarkan anak yang sudah dapat berjalan dan disimbolkan dengan gerakan tangan ke atas. Selanjutnya, kelompok ketiga yang disebut Lakadandio menggambarkan kelompok anak lelaki yang telah beranjak dewasa. Yang terakhir yaitu kelompok Kalambe, menggambarkan kelompok wanita yang telah dewasa
Empat rombongan yang dilepas oleh parabela mempunyai makna, kelak nantinya anak akan meninggalkan rumah. Prosesi pelepasan diiring dengan nasehat yang disebut Lakedo. setelah rombongan yang dilepas pergi mengelilingi kampung, mereka kembali ke Baruga. Kemudian Parabela dan pendampingnya yang disebut Waci menerima kembali keempat kelompok dan diberi nasehat kembali yang disebut “Lakedo”.
Prosesi selanjutnya yaitu, Lawapulu yang berati dialog antara parabela dengan parabela pemuda, yang dimulai dengan mengucapkan salam penghormatan dengan tokoh adat dan tokoh agama. dua rangkaian ritual adat berturut-turut yang dilakukan yaitu lantun syair Ndo-ndo yang dilagukan oleh syara adat dan syara hukumu. Kemudian ritual Pidao’a yang dianalogikan proses jual beli. Prosesi ini dilakukan dengan tukar menukar barang (barter). Pelaksanaan prosesi ini dilaksanakan oleh kelompok kalambe. Ritual adat yang terakhir dilakukan yaitu Posanga’a yang artinya pamitan parabela Ana moane. Seluruh rangkaian pesta adat tersebut diadakan untuk menghimpun doa kepada maha kuasa agar saat musim tanam mendapat berkah dan hasil yang baik.

SAMPARONA

Samparona yang terletak di Desa Kaesabu Kecamatan Sorawolio, Kota Baubau telah menjadi tempat pelaksanaan Perkemahan Putri Nasional (Perkempinas) I dan telah masuk ke dalam kategori standar Nasional yang dapat menampung 1500 peserta pramuka.

Lokasi ini sebelumnya merupakan areal hutan pinus. Dengan dijadikannya tempat ini sebagai kawasan perkemahan, selain dapat digunakan sebagai tempat rekreasi juga dapat dimanfaatkan sebagai arena outbond training.

TARI HONARI MOSEGA


HONARI MOSEGA adalah tarian perang asli asal Liya, Kabupaten Wakatobi yang dahulu kala dijadikan sebagai tarian pengintai musuh yang diperkirakan mulai terjadi sejak pertengahan abad XI di pulau Oroho. Tarian ini dahulu kala dikembangkan oleh para Hulubalang dan Bajak Laut yang bermukim di pulau tersebut dalam rangka mempertahankan wilayah kekuasaan mereka dari para musuh yang akan memasuki daratan. Dan pengintaian ini akan nampak pada pasukan pengawal sejumlah 40 orang yang seluruhnya membawa tombak dengan hulu tajam, yang mana dikomandoi oleh seorang pembawa bendera berwarna kuning dengan memakai topi yang berhiaskan cermin. Antara isyarat yang diberikan oleh gerakan HORANI MOSEGA dengan prajurit pengawal 40 orang ini merupakan suatu kesatuan komando yang dinampakkan pada saat penghormatan para panari tersebut.

Dalam lingkungan keraton Liya penari HONARI MOSEGA ini pertama-tama menghadap ke Mesjid Agung Keraton Liya dan memberi hormat, kemudian setelah itu mulai teriak dan menari samnil membuka penghormatan arah Makam Leluhur sebelah utara dan melanjutkan gerakan tarian arah selatan dan diujung memberi hormat para penduduk dan kemudian melanjutkan kerakan menuju makam leluhur kembali sambil memberi hormat terakhir dilanjutkan bergerak menuju arah Baruga (tempat pertemuan Raja) dan menyerahkan katompide ditamsilkan barat mayat seorang yang sudah ditombak.

Katompide ditaruh ditanah sambil di beri perhatian 3 kali apakah mayat ini masih bergoyang atau tidak dan terus diawasi dengan bergerak mundur memutar melingkar dan maju kembali untk menonbak sambil mengambil tangkisan tersebut dan meloncat teriak dan berpaling dan menuju ke arah mesjid menombak sambil memutar dan terakhir memberi hormat.

Pada masa lalu sering tarian HONARI MOSEGA ini diserta dengan Makandara, yakni setelah penari memberi penghormatan terakhir, lalu masuklah pasulan SARA sebanyak 40 orang yang mengawal HONARI MOSEGA ini lalu mereka Makandara melakukan gerakan-gerakan silat layaknya peperangan melawan musuh lalu dilakukannya penikaman antara sesama pasukan dengan senjata tombak dan keris namun kesemua perlakuan ini tak ada satupun yang cedera dimakan oleh senjata tombak atau keris.

Pada kondisi demikian ini seluruh warga Liya yang sedang menonton semuanya lari kocar kacir menyembunyikan diri karena mereka merasa takut melihat ujung-ujung tombak yang dihantamkan pada dada atau perut seseorang dengan diserta bunyi namun orang yang ditombak tersebut tidak dimakan senjata tombak ibarat bunyi gemercingan besi diterima oleh tubuhnya. Namun perlakuan Makandara semacam ini masa kini sudah tidak lagi bisa dipakai mengingat ilmu-ilmu kebal sudah mulai agak funah di Liya dan Sara yang mempunyai kemampuan untuk mengatasi mara bahaya dari kagiatan ini sudah pada meninggal dunia.

Dalam tarian aslinya simbol-simbol gerakan diciptakan dengan tujuan dan maksud-maksud tertentu dan ketika itu hanya para perajurit pengawal 40 orang dan para hulubalang dan bajak laut yang mengetahui isyarat-isyarat itu untuk pemberian sebuah komando apakah menyerang atau menyambut lawan dengan baik.

TARI LUMENSE


Tarian ini menampilkan sejumlah simbol perilaku sosial masyarakat tradisional di Kabaena, salah satu pulau besar setelah Buton dan Muna di Provinsi Sulawesi Tenggara. Klimaks dari tarian ini adalah sebagian penari menghunus parang tajam, lalu batang-batang pisang pun rebah ke tanah!

Seperti kebanyakan seni tari tradisional yang masih orisinal, tarian lumense kurang mengeksplorasi tubuh melalui gerakan-gerakan yang dapat lebih mengekspresikan simbol-simbol keseharian masyarakat pendukung kesenian tersebut.

Gerak para penari hanya mengandalkan gerakan dasar dengan dukungan irama musik dari tetabuhan gendang dan bunyi gong besar (tawa-tawa) dan gong kecil (ndengu-ndengu). Namun, secara artistik, gerak tari lumense tetap memenuhi kriteria tontonan.

Terdapat tiga penabuh gendang, tawa-tawa, dan ndengu-ndengu yang bertugas membunyikan instrumennya, sebaris penari, dan anakan pohon pisang dalam jarak tertentu. Jumlah pohon disesuaikan dengan jumlah pemain ”putra”.

Kelompok penari lumense biasanya berjumlah 12 wanita muda: enam berperan sebagai pemain putra, dan sisanya sebagai putri. Semua pemain menggunakan busana adat Kabaena dengan rok berwarna merah maron. Baju atasnya hitam. Baju ini disebut taincombo, yang bagian bawah mirip ikan duyung.

Khusus para penari lumense, taincombo dipadu dengan selendang merah. Kelompok putra ditandai adanya korobi (sarung parang dari kayu) yang disandang di pinggang sebelah kiri. Parang atau ta-owu yang disarungkan di korobi dibuat khusus oleh pandai besi lokal dan selalu diasah agar matanya tetap tajam.

Tarian ini diawali gerakan-gerakan maju mundur, bertukar tempat, kemudian saling mencari pasangan. Gerakan mengalir terus hingga membuat konfigurasi leter Z, lalu diubah lagi menjadi leter S. Pada tahap ini ditampilkan gerakan lebih dinamis yang disebut momaani (ibing).

Pada saat itu tarian ini akan terasa amat menegangkan. Pasalnya, parang telah dicabut dari sarungnya dan diarahkan ke kepala penari putri sambil masih terus momaani. Dalam sekejap parang itu kemudian ditetakkan (ditebaskan) ke batang pisang. Dalam sekali ayun semua pohon pisang rebah bersamaan.

Tarian lumense ditutup dengan sebuah konfigurasi berbentuk setengah lingkaran. Pada episode ini para penari membuat gerakan tari lulo, dengan jari yang saling mengait sedemikian rupa sehingga telapak tangan masing-masing saling bertaut, lalu secara bersama digerakkan turun-naik untuk mengimbangi ayunan kaki yang mundur-maju.

Sekadar diketahui, tari lulo adalah tari pergaulan masyarakat Sultra di zaman modern ini. Tari yang dimainkan secara massal itu adalah tari tradisional masyarakat Tolaki di daratan jazirah Sultra, juga masyarakat Kabaena dengan perbedaan pola atau versi gerakan yang tipis.

Sebagian besar penduduk Pulau Kabaena sampai saat ini adalah petani tradisional. Membuka hutan untuk berladang atau berkebun adalah pola pertanian yang masih berlaku, terutama di pedalaman. Korobi atau sarung parang yang disandang penari ”putra” merupakan pengungkapan dari aktivitas keseharian masyarakat agraris yang masih tradisional itu.

Ada pula pihak-pihak yang menyebut tarian lumense tidak ramah lingkungan, itu hanya karena menampilkan adegan menebas pohon pisang. Namun, bagi masyarakat Kabaena, pohon pisang tidak bisa diganti dengan properti lain. Pasalnya, pohon pisang dipersonifikasikan sebagai bencana yang harus dicegah.

Bencana bisa dalam bentuk banjir, tanah longsor, wabah penyakit, dan kerusuhan sosial. Maka, ketika pohon pisang telah rebah, artinya bencana telah dapat dicegah, dan warga pun akan hidup dalam suasana yang aman dan tenteram.

Kekompakan dan rasa kekerabatan juga menjadi komitmen dalam kehidupan sosial masyarakat tradisional Kabaena. Hal itu disimbolkan dengan konfigurasi tarian massal lulo tadi.

Pada zaman dahulu (tarian) lumense ditampilkan dalam suatu acara ritual yang disebut pe-olia, yaitu penyembahan dalam bentuk penyajian aneka jenis makanan kepada roh halus agar roh halus yang disebut kowonuano (penguasa/pemilik negeri) berkenan mengusir segala macam bencana bagi ketenteraman hidup manusia. Penutup atau klimaks dari upacara sesajen tersebut adalah penebasan pohon pisang.

Tarian ini juga sering ditampilkan pada masa Kesultanan Buton. Kabaena dan Buton memiliki hubungan yang kuat dan tidak dapat dipisahkan karena Kabaena merupakan salah satu wilayah kesultanan Buton.

TARI LINDA

Tari Linda merupakan salah satu tari tradisional Buton, yang ditarikan gadi-gadis sebagai bagian dari ritual Posuo, yakni setelah 7 hari 8 malam para gadis menjalankan ritual tersebut. Adapun tarian yang berasal dari Kelurahan Waborobo Buton ini memperagakan gerakan dengan mengenakan selendang.



PANTAI TOPA

Topa adalah sebuah kampung antara Pantai Nirwana dan Pantai Lakeba. Tempat ini berada di dekat Bandara Betoambari, Kota Baubau. Para masyarakat setempat menyebut tempat yang baru saja rampung ini dengan sebutan Pantai Topa. Di sini pengunjung dapat menikmati keindahan laut dan juga tentunya berenang.



DANAU TEI LALO

Danau Tei Lalo menjadi salah satu obyek wisata kebanggaan masyarakat Kadatua. Jauh dari bibir pantai, dengan mengandalkan pasang surut air laut, menjadikan danau berbentuk telapak ini menambah khazana obyek wisata di Kecamatan Kadatua, Kabupaten Buton. Jarak ratusan meter dari bibir pantai dengan sumber air yang bergantung pada pasang surutnya air laut membuat masyarakat Kadatua mensakralkan lokasi tersebut. Sesuai dengan namanya, Tei Lalo dengan sumber mata air yang berasal dari laut, rasa air danau tei lalo sama dengan asinnya air laut. Bentuknya yang mirik tapak kaki, danau tei lalo dikisahkan masyarakat Kadatua bahwa danau tersebut merupakan jejak atau tapak kaki orang-orang terdahulu saat menginjakan kakinya di pulau tersebut. Sejumlah pohon beringin yang tumbuh dengan rindangnya dibibir danau membuat suasana menjadi sejuk saat menikmati panorama danau yang tidak jauh dari Kantor Camat Kadatua ini. Hidup berbagai jenis ikan dan penyu atau kura-kura danaui ini menjadi menarik untuk jadi obyek wisata alam Kadatua. Sebagai obyek wisata yang belum dikenal dimasyarakat luas, danau tei lalo masih dikunjungi masyarakat sepulau Kadatua. Danau ini mulai ramai pengunjung saat lebaran. Untuk masayarakat Kadatua, danau tei lalo memiliki fungi ganda selain obyek wisata juga sebagai lokasi latihan olahraga renang. Tidak heran, sejumlah atlit renang Kadatua mampu mengharumkan nama Kabupaten Buton pada iven-iven olahraga renang baik ditingkat provinsi maupun skala nasional.

PANTAI WARAA


Pantai Waara dekat kawasan Pelabuhan feri Wamengkoli menyimpan potensi menjadi tempat wisata jika dikelolah dengan baik. Hal ini terlihat dari kondisi pantai dengan pasir putih serta air yang bening ditambah lagi terumbu karang yang ada di pantai tersebut punya daya tarik tersendiri. Setiap penumpang yang sedang menunggu feri pasti menyempatkan untuk pergi ke pantai tersebut apalagi jaraknya yang berdekatan dengan Pelabuhan feri. Ikan-ikan yang terdapat di kawasan pantai tersebut juga beragam dan unik. Rata-rata orang yang datang di pantai itu penumpang feri yang menghilangkan kejenuhan menunggu feri yang belum datang. Suasana di pantai ini sangat menyenangkan dan cocok sekali menjadi tempat bersantai. Apalagi pemandangan disekitar pantai cukup indah.

Pantai Membuku


Pantai kawasan wisata Membuku merupakan salah satu obyek wisata yang dibanggakan warga Buton Utara. Pantai Membuku yang terletak di tepi laut Banda akan menjadi tujuan wisata primadona.

BRI PARK BAUBAU (TAMAN BRI BAUBAU)


Taman inovasi Pemkot dan BRI Baubau ini merupakan pilihan alteranatif yang tepat untuk refresing sambil menikmati makanan ringan. Pemandangan laut, rindangnya pepohonan, dan aktifitas pelabuhan Murhum tampak dari atas menjadi keunggulan yang ditawarkan taman tersebut.

Taman hijau diseputaran Jalan Letter Buton ini dapat digunakan sebagai tempat santai dengan nuansa alam yang indah. Banyak pemandangan yang menyejukkan di sini. Selain itu tempat yang baru saja diresmikan sebagai salah satu taman wisata yang berada di Kota Baubau ini juga bisa digunakan sebagai tempat olah raga, baik secara pribadi maupun keluarga.

THE GREAT BUTON 1

March 4, 2012

MAKAM KUNO 12 NISAN

Makam ini terletak kira-kira 150 meter arah Timur dinding Benteng Koro bagian barat. Terletak di Kabupaten Buton Utara, tidak seorangpun masyarakat yang mengetahui nama-nama yang dimakamkan.  Dikisahkan bahwa yang dimakamkan adalah seorang leluhur yang sakti dan 6 orang wanita hamil yang memangku beliau saat menghembuskan nafas terakhir.

Makam ini berada satu tembok pagar dengan ukuran panjang 4,50 meter dan lebar 4,20 meter. Batu-batu nisan terbuat dari batu kapur (stalastik) yang tertinggi 43 cm dan terendah 20 cm.

Makam ini dilindungi oleh sebuah cungkup yang terbuat dari kayu dan tidak berdinding. Oleh karena itu, kondisi bangunan makam tampak sangat bersih, tidak ada gangguan dari lumut maupun rerumputan
sumber: http://www.butonutarakab.go.id

BENTENG KORO

Benteng Koro dan 3 buah kompleks makam kuno terletak  kira-kira 1 km arah tengggara ibukota kelurahan Bonelipu, Buton Utara.  Benteng ini didirikan oleh Lakoni Koro dengan tujuan mempertahankan diri dari serangan musuh. Benteng Koro merupakan pusat pertahanan dan pemukiman masyarakat koro.  Benteng ini dibangun dengan teknologi yang sangat sederhana yakni susunan batu-batuan gunung  tanpa menggunakan bahan perekat.  Tinggi tembok benteng tergantung pada kondisi tanah yakni antara 1 – 130 meter.  Tebal tembok  bagian atas antara 25 – 40 cm tergantung dari besar  kecilnya batu.  Benteng ini menyerupai huruf L membujur Utara- Selatan dengan panjang 300 meter.  Karena dinding benteng berukuran sangat kecil, maka tingkat kerusakannya juga terus berlangsung.   Kerusakan nyata pada dinding benteng yakni runtuh dan batunya berhamburan akibat desakan akar-akar pohon maupun gangguan dari binatang liar . sumber: http://www.butonutarakab.go.id

MAKAM WANGKOLO

Makam ini terletak kira-kira 50 meter arah Benteng Koro, Buton Utara. Dikisahkan bahwa Wangkolo adalah salah seorang leluhur masyarkat Koro yang sangat sakti.  Tidak diketahui dengan pasti kedudukan kedudukan beliau pada masa itu. Yang jelas, makam ini masih sering diziarahi oleh sebagian masyarakat.  Makam ini hanya merupakan sebuah batu lepas berukuran besar (agak bundar) tanpa ada benda/artefak lain disekitarnya.  Peninggalan semacam  ini mengingatkan kita pada peninggalan masa Megalitik  pada masa Neolitikum.
sumber: http://www.butonutarakab.go.id

MAKAM JIN

Makam ini berada  dalam lingkungan Benteng Koro, Buton Utara yaitu sisi Timur dinding bagian Barat. Masyarakat tidak  mengetahui nama asli, ataupun kedudukan beliau dalam masyarakat pada masa itu.  Posisi makam ini membujur arah Utara-Selatan seperti makam-makam Islam lainnya.  Batu Nisan terbuat dari batu gunung yang posisinya tidak asli lagi akibat pengrusakan oleh manusia.  Makam ini dikelilingi tembok batu yang masih utuh.  Masyarakat beranggapan bahwa situs ini adalah merupakan temapt menimbun benda-benda berharga masyarakat zaman dahulu. sumbe: http://www.butonutarakab.go.id

BENTENG PINGILIA

Benteng Pangilia terletak + 3 km ke arah Tenggara Benteng Lipu, Buton Utara. Benteng ini didirikan oleh Sangia Rau dengan tujuan untuk mempertahankan diri dari serangan Suku Tobelo. Benteng Pengilia terletak di atas sebuah bukit yang menghadap ke laut lepas. Pemandangan ke arah Timur sangat indah sebab kapal-kapal yang melintas tampak sangat jelas. Di dalam kompleks benteng tidak ada peninggalan lain, kecuali sebuah jurang yang berada pada sisi Selatan yang diduga untuk persembunyian. Pohon-pohon besar maupun kecil tumbuh sangat indah baik di dalam maupun di luar benteng.

Benteng Pangilia dengan panjang dinding 823 meter merupakan benteng pertahanan terdepan dan tidak dihuni oleh penduduk pada masa itu. Dinding benteng dibangun dengan teknologi sederhana yakni batu-batu gunung disusun beraturan tanpa menggunalkan bahan perekat. Benteng ini dilengkapi dengan beberapa buah bastion dan beberapa buah trap (tangga) bersusun 2 sampai 4 buah. Tinggi tembok bervariasi antara 2 – 5 meter, sedangakan tebal bagian atas antara 2 – 3 meter.

Dinding bangunan Benteng Pengilia masih banyak yang utuh (+ 60 %). Umumnya kerusakan disebabkan oleh desakan akar-akar pohon yang tumbuh di sisi dalam maupun di sisi luar. Selain itu, banyak pula pohon-pohon kecil yang tumbuh di permukaan dinding benteng. sumber: http://www.butonutarakab.go.id

BENTENG LIPU (KERATON KULISUSU)

Benteng Lipu merupakan benteng utama pertahanan masyarakat Kulisusu yang dibangun dalam pusat pemerintahan Lakino Kulisusu sekitar abad ke XVII. Benteng ini didirikan atas prakarsa Buraku (Gaumalanga) yakni seorang penyiar agama Islam dengan tujuan untuk melindungi diri dari seragam musuh utamanya suku Tobelo dan bangsa Belanda.

Benteng Lipu terletak + 1 km dari ibukota Kecamatan Kulisusu, Buton Utara, dan berada di atas perbukitan dengan ketinggian + 60 meter dari permukaan laut. Luas keseluruhan Benteng Lipu adalah + 12,95 hektar yang dimanfaatkan untuk perumahan penduduk (bagian Selatan), sedangkan pada bagian Utara adalah kompleks makam-makam kuno dan bangunan bersejarah lainnya.

Benteng Lipu dan beberapa bangunan peninggalan di dalamnya telah dipugar oleh pemerintah provinsi selama 6 tahap dan berakhir pada tahun 2007. Adapun data-data benteng adalah sebagai berikut:

  • Panjang dinding Benteng Lipu adalah 1.883 meter.
  • Tinggi dan tebal tembok bervariasi tergantung pada kondisi tanah atau lereng bukit.
  • Terdapat 7 buah Bastion yang dibuat pada beberapa titik yang strategis.
  • Pintu masuk benteng (bentuk asli) saling menutupi.
  • Pada permukaan tanah di dalam kompleks benteng banyak ditemukan sebaran pecahan keramik asing dan gerabah

sumber: http://www.butonutarakab.go.id

KULISUSU (KULIT LOKAN)
 

Benda ini adalah yang melatarbelakangi penamaan Kulisusu, kini tinggal sebelah dan tertimbun hampir seluruh bagiannya. Konon ceritanya bahwa pasangan dari kulit Lokan ini diambil oleh suku Tobelo setelah masyarakat Kulisusu menderita kekalahan. Adapun ukurannya sebagai berikut: panjang 60 cm dan tinggi dari permukaan tanah 25 cm. Wisata sejarah ini terletak di Kompleks Benteng Lipu, Keraton Kulisusu, Kabupaten Buton Utara.

sumber: http://www.butonutarakab.go.id

RAHA BULELENGA

Bangunan ini sebenarnya hanya mempunyai satu tiang penyangga, namun karena pertimbangan ketahanan bangunan maka saat dilakukan pemugaran bangunan dengan ditambahkan beberapa tiang pembantu. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat Mancuana (pemimpin kampung) untuk meminta berkah akan keselamatan rakyatnya. Ukuran bangunan ini adalah 6,10 meter x 6,10 meter, terletak di kawasan Keraton Kulisusu. (sumber: butonutarakab.go.id)

MASJID KERATON KULISUSU

Keadaan fisik bangunan ini tidak asli lagi, kecuali dasar bangunan yang masih dapat diidentifikasi. Masjid ini merupakan masjid pertama yang dibangun setelah masyarakat memeluk agama Islam. Ukuran dasar bangunan yakni: panjang 18 meter, lebar 17,25 meter, tinggi 1,50 meter, dan terendah 1,30 meter. (sumber: http://www.butonutarakab.go.id)

BARUGA KOMPLEKS KERATON KULISUSU

Menurut cerita turun temurun bahwa pada mulanya bangunan ini merupakan tempat pembuatan perahu pada masa pra Islam. Setelah perahu selesai, bangunan pelindungnya dijadikan tempat musyawarah masyarakatnya. Bangunan ini sudah beberapa kali mengalami perbaikan  oleh masyarakat. Pada tahun 1995 bangunan ini dipugar oleh pemerintah provinsi sesuai ukuran aslinya yakni : panjang 15,65 meter dan lebar 7,75 meter. (sumber: butonutarakab.go.id)

WISATA YANG DITAWARKAN DI NGKARING-NGKARING
Mengapa harus repot-repot ke Bali?
“Bali Kecil” ini terletak sekitar 15 kilometer dari Baubau. Topografi yang menonjol adalah luasnya areal persawahan disertai dengan beberapa daerah yang bergunung-gunung.  Seperti halnya di Bali, anda bisa pula menyaksikan beberapa rumah peribadatan khas Bali alias Pura dimana tempat itu biasa dilakukan ritual pada hari-hari besar keagamaan seperti Galungan dan Kuningan.   Anda bisa pula menikmati  aneka tarian khas Bali seperti Panyembrana, Nelayan, Manukrawa, dan masih banyak lagi. Sekitar bulan Februari atau Juni, anda bisa menyaksikan sekaligus belajar cara menanam padi dan sekitar 3 bulan kemudian anda bisa melihat dan belajar cara memanennya.  Desa ini merupakan salah satu penyuplai beras terbesar di Baubau dan menjadi salah satu tempat favorit bagi para pengunjung, terutama para peserta Sail Indonesia.
SULAA

Terletak sekitar 7 kilometer dari pusat kota Baubau, tidak jauh dari pantai Nirwana.  Disini anda bisa menyaksikan langsung proses pembuatan sarung tenun khas Buton.  Tenunan khas Buton ini sangat unik dari sisi pembuatan serta rancangannya dan menghasilkan beragam motif dan warna.  Namun, motifnya sangat khas sehingga kita masih bisa mengidentifikasinya sebagai tenunan khas Buton (bila kita membandingkan dengan motif tenunan daerah lain).  Ciri lain yang menonjol dari perkampungan ini adalah budidaya rumput lautnya.  Bila anda melihat banyak sekali benda-benda terapung (biasanya dari botol-botol plastik air mineral) yang diikatkan pada tali dan tetap mengapung di atas permukaan air, itu berarti dibawahnya ada rumput laut yang sedang dikembangbiakkan.  Ini merupakan salah satu komoditi penting kota Baubau, dan Pemerintah Kota Baubau selalu mendukung adanya iklim investasi, baik swasta maupun asing, untuk komoditi yang satu ini.
Sumber: http://www.osiymobaubau.com

SORAWOLIO

Daerah ini dikenal dengan salah satu kawasan penutur bahasa Cia-Cia.  Bahasa ini merupakan rumpun bahasa  Austronesia yang banyak digunakan di daerah Kecamatan Sorawolio, seperti Karya Baru, Bugi dan Gonda Baru.  Pada tahun 2009, bahasa Cia-Cia mendapat sorotan media internasional karena anak-anak di kota ini telah mulai diajarkan bahasa Cia-Cia dengan menggunakan aksara Korea Hangul, dan Pemerintah Kota Baubau tengah mengadakan penjajakan terhadap adanya kemungkinan menjadikan aksara Hangul ini sebagai aksara resmi bahasa Cia-Cia.  Sebenarnya, bahasa Cia-Cia digunakan disekitar kawasan Sulawesi Tenggara, khususnya di daerah Buton selatan, Pulau Binongko, dan Pulau Batu Atas.  Dialek Wolio, yang merupakan penutur mayoritas masyarakat Kota Baubau, tidak lagi digunakan sebagai bahasa tulis untuk bahasa Cia-Cia oleh karena menggunakan aksara Arab, sedangkan aksara resmi yang digunakan oleh orang Indonesia secara umum adalah aksara Latin.  Dialek-dialek utama komunitas bahasa Cia-Cia adalah Kaisabu, Sampolawa, Laporo (Mambulu), Wabula  (beserta sub-dialeknya), dan Masiri.  Diantara dialek utama ini, dialek Masiri memiliki jumlah kosa kata yang terbanyak. (Sumber: http://www.osiymobaubau.com)

MELAI
 


Terletak di dalam benteng Keraton, sekitar 3 kilometer dari pusat Kota Baubau.  Di tempat ini anda bisa melihat kediaman resmi sultan yang disebut Malige,  yang dibangun tanpa sama sekali menggunakan paku.  Anda bisa pula mencicipi aneka makanan khas Baubau seperti Kaholeo rore, Kasoami, Kaumbai, onde-onde, baruasa, waje, kalo-kalo, kapusu nosu, nasu Wolio, parende dan tuli-tuli.  Hal lain yang patut anda lihat di lokasi ini adalah aneka kerajinan tangan khas Baubau, seperti sarung Buton, Panamba dan kerajinan kuningan. (Sumber: http://www.osiymobaubau.com)

PANTAI PALABUSA

Lokasi ini merupakan pusat budidaya kerang mutiara yang produk utamanya adalah dua jenis mutiara standar internasional, yaitu Pinctada Maxima (mutiara bulat utuh) dan Pteria Penguin (mutiara setengah bulat).  Anda bisa melihat langsung proses budidaya mutiara di lokasi ini. Berjarak 20 kilometer dari kota Baubau. (Sumber: http://www.osiymobaubau.com)

AIR TERJUN SAMPARONA

Tingginya mencapai 30 meter dan berjarak sekitar 13 kilometer dari Baubau. Untuk mencapai lokasi unik ini, pengunjung akan ditemani oleh seorang pemandu menyusuri belantara sepanjang dua sungai kecil. Dua air terjun mempesona menanti anda disana, yaitu La Mogawuna dan Wa Samparona. Mitos masyarakat setempat percaya bahwa keduanya adalah pasangan suami istri. Petualangan anda akan disuguhi dengan aneka flora dan fauna yang masih terjaga kelestariannya.  Anda tidak disarankan untuk berpetualang di lokasi ini bila anda bukan seorang petualang sejati yang kuat berjalan kaki.
sumber: http://www.osiymobaubau.com

TERUMBU KARANG KOLAGANA

Terletak sekitar 18 kilometer dari pusat kota Baubau di Kecamatan Bungi. Spot ini sangat menarik untuk aktifitas snorkeling dan terutama pecinta selam. Anda ditantang untuk menikmati aneka terumbu karang dengan berbagai spesies ikan. (sumber: http://www.osiymobaubau.com)

BARUGA KESULTANAN BUTON


Di masa pemerintahan Sultan Syakiyuddin Darul Alam atau yang juga dikenal dengan nama sultan Laelangi, banyak melakukan pembangunan salah satunya adalah pada Benteng Keraton terdapat Baruga. Baruga pada zaman dahulu pemerintahan Sultan Syakiyuddin Darul Alam berfungsi sebagai tempat bekumpul para sultan untuk melakukan upacara ataupun untuk membahas maslah-masalah Ekonomi, Politik dan lain-lain. (sumber artikel: http://sammunawir.blogspot.com)

MAKAM MUJINA KALAU


Dahulu ada sembilan orang Wali yang di kirim oleh Rasul untuk menyebarkan Islam. Salah satunya adalah Syekh Abdul Wahid dengan salah satu muridnya bernama “Mujina” beliau yang menyebarkan Islam yaitu di Burangasi sebagai wilayah pertama masuknya Islam di pulau Buton.
Pada masa pemerintahan Sultan ke-29, Mujina menjadi salah satu penyebar Islam yang diperintahkan oleh sultan dan beliau juga pernah mengikuti perang melawan Tobelo. Mujina adalah seorang perempuan dengan ciri-ciri fisik putih berikat sanggul di kepala dan silsilahnya berhubungan dengan sultan ke-29. Beliau juga suka memakai jubah berwarna biru dengan kain selempang, memakai pedang dan berkuda.
Turunannya dari sultan 17-29, warna kesukaanya warna kuning emas campur merah dan itulah yang merupakan simbol dari tempat duduknya berbentuk tiga lekungan. Hanya saja di saat Istana/Keraton mengalami perpindahan dari keraton lama ke keraton baru yaitu dimasa kekuasaan Sultan Murhum, semua benda milikinya hilang begitu saja bersama dengan keraton lama.
Makam Mujina kalau ini bertempat di kelurahan Melai, Kota Baubau dan berada di dalam area perumahan masyarakat Melai. Di dalam area tersebut terdapat banyak makam dan salah satunya adalah makam Mujina Kalau, yang dibatasi dengan pagar beton dengan lambang berciri khas Rumah Baruga tepat diatas pintu masuk area pemakaman beliau.
(sumber: http://sammunawir.blogspot.com)

MAKAM SULTAN NASIRUDDIN


La Ibi atau Pouta Masabuna Yi Walalengke atau Sultan Nasiruddin memerintah pada tahun 1709 – 1711 Masehi. Di riwayatkan Sultan Nasiruddin sebenarnya berat menerima jabatan sebagai Sultan. Beliau terpaksa menerima jabatan itu demi kehormatan kaumnya yaitu aliran bangsawan Tanai Londu. Makamnya dapat dijumpai di Kompleks Keraton Buton.
(Sumber: http://sammunawir.blogspot.com)

LONGA-LONGA BENDERA KERAJAAN BUTON


Asal mulanya Bendera Kerajaan Buton (Longa-longa), dan Longa-longa sebutan akrab penduduk setempat Keraton. Longa-longa sudah di kibarakan sejak Raja Pertama Buton yaitu Raja Wakaaka (Seorang wanita dari Tiongkok yang diangkat menjadi raja).
Panjang Longa-longa kurang lebih 5 M dan lebarnya 1 M. Konon ceritanya, Longa-longa di kibarkan pada saat jatuhnya tahta atau upacara adat yang akan di laksanakan .
Longa-longa di buat sebelum Islam (Agama yang kita anut sekarang ini) masuk di dalam kerajaan Buton (yangkemudian ditandai dengan terbentuknya Kesultanan Buton).
Sampai saat ini, belum ada yang tahu siapa yang membuat Bendera Longa-longa tersebut (Bendera Kerajaan Buton).(Sumber: http://sammunawir.blogspot.com

MAKAM SULTAN MURHUM


Sultan Murhum adalah raja terakhir Kerajaan Buton sekaligus sultan pertama dalam Kesultanan Buton. Makam Sultan Murhum, Sultan Buton I terdapat di dalam Benteng Keraton Buton di Kota Baubau. Lokasi makamnya terletak di bukit kecil pada kompleks Benteng Keraton Buton.
Sumber: http://www.kabarindonesia.com

GUA KAISABU


Gua ini terletak hanya sekitar 1 km dari tepi jalan kabupaten. Gua ini terletak pada dinding sebuah gunung karts. Untuk mencapai mulut gua wisatawan harus memanjat dinding tebing yang cukup terjal dengan ketinggian ± 100 meter


sumber: http://tukangngegame.blogdetik.com

Kerajinan Arguci Buton Raya


Sepintas, namanya mirip nama-nama merk top dari negeri pizza, Italia. Tapi jangan salah, arguci adalah seni menjahit dari bahan polos yang diisi dan dijahit menggunakan mote-mote dengan meniru bentuk seperti tumbuhan, hewan, biji-bijian maupun benda-benda lainnya sehingga menghasilkan sulaman payet berwarna cerah.

Hasil kerajinan ini biasa digunakan masyarakat local pada latar pelaminan pernikahan, baju pengantin adat, atau juga perlengkapan tata hias kamar pengantin.

Arguci merupakan kerajinan yang menjadi cirri khas daerah Sulawesi, khusunya Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Hasil kerajinan ini tidak dapat dipisahkan dari adat perkawinan etnis Buton yang ada di Kota Bau-Bau dan Kabupaten Buton. (sumber: http://dekranasdasultra.com/

Kemilau Kuningan dari Kota Baubau


Di Indonesia, kini tidak banyak lagi ditemukan perajin kuningan. Salah satu daerah yang masih bertahan dengan kerajinan kuningnnya adalah Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara.

Dikenal sebagai Kota Sejarah, pemerintahan kesultanan Buton masa lampau ini menjadi daya tarik wisata di Sultra. Kerajinan kuningan telah ada dan berkembang pada masa kejayaan kesultanan tersebut.

Sentra usaha kerajinan kuningan Kota Bau-Bau terletak di Kecamatan Murhum, Kelurahan Melai. Pengerjaannya masih menggunakan cara tradisional warisan leluhur mereka, dengan mengandalkan kemampuan tangan. Sejak dari proses pemanasan hingga menjadi produk yang siap pakai.

Hasil produksi berupa alat-alat tradisional khas Daerah Buton dan sekitarnya, seperti tala beserta perlengkapan, asbak, perkakas rumah tangga, juga aneka perhiasan seperti anting, dan gelang.

Harga pasaran produk kuningan ini bervariasi, mulai dari harga Rp. 25. 0000, hingga ratusan ribu rupiah. Bergantung besar kecilnya suatu produk.
(sumber: http://dekranasdasultra.com/)

DOLE-DOLE


Dole-Dole merupakan salah satu bentuk tradisi budaya yang dilaksanakan atas lahirnya seorang anak. Selain itu juga sebagai bentuk pengobatan tradisional. Menurut kepercayaan, anak yang telah di Dole-Dole akan terhindar dari berbagai macam penyakit. Prosesinya sang anak diletakan diatas nyiru yang dialas dengan daun pisang yang diberi minyak kelapa. Selanjutnya anak tersebut digulingkan diatasnya sehingga seluruh badan anak tersebut berminyak. Acara ini biasanya dilaksanakan pada bulan Rajab, Sya’ban dan setelah lebaran sebagai waktu yang dianggap baik. (sumber: http://azulfachri.wordpress.com)

TARI MANGARU


Tarian ini menggambarkan kobaran semangat ksatria yang lincah dan gesitnya menggunakan parang, keris, tombak dan senjata lainnya di medan perang. Dengan Konsentrasi yang penuh serta ketajaman hati dan pikiran akan mampu mematahkan keampuhan senjata lawan. Tarian ini apabila ditampilkan selalu diawali dengan WORE sebagai pembakar semangat akan kecintaan dan kesetiaan terhadap tanah leluhur. Tari ini biasanya dipertontonkan pada saat musim tanam-tanaman yang syukuran hasil panen. Namun, saat ini lebih sering ditampilkan sebagai tari penyambutan tamu.

KABENGKA


Kabengka merupakan upacara adat khitanan atau sunatan. Sebelum anak-anak menginjak usia remaja di Kulisusu, Buton Utara harus melalui satu acara ritual yaitu Kabengka dengan tujuan anak tersebut dalam mengarungi kehidupan kelak menjadi anak yang taat kepada kedua orang tua, agama, murah rejeki dan panjang umur. (sumber: http://butonutara.multiply.com)

Gema Beduk Tandai Pembukaan Sail Wakatobi – Belitong 2011

November 13, 2011

Gema Beduk Tandai Pembukaan Sail Wakatobi – Belitong 2011

Pesta Adat Rambu Solo Nenek Tapuk

December 30, 2010
Pesta Adat Rambu Solo Nenek Tapuk
Berlangsung 15 Hari, Telan Biaya Rp3,5 M
RAMBU SOLO. Salah satu proses pesta adat Rambu Solo di Tana Toraja.
PESTA adat Rambu Solo siap mewarnai program Lovely December tahun ini. Khususnya, yang akan digelar Keluarga besar Bato’ Deri Silambi-To Pole.

Pesta kematian (Rambu Solo) akan digelar anggota keluarga almarhumah Theresia Tangdo Pole alias Nenek Tapuk. Acara yang dijadwalkan akan digelar selama 15 hari itu akan menelan biaya sedikitnya Rp3,5 miliar.

“Keluarga dan panitia Rambu Solo telah sepakat melaksanakan acara tersebut pada 27 Desember 2010 hingga 10 Januari 2011. Acara ini juga akan meramaikan salah satu agenda pariwisata Pemprov Sulsel Lovely December,”
Rambu Solo Nenek Tapuk ini,berlangsung besar-besaran. Anggaran untuk acara ini cukup besar sekitar Rp3,5 miliar. Acara ini akan dilaksanakan dengan lengkap sesuai adat karena akan menyembelih 108 ekor kerbau. Pihak keluarga penyelenggaraan telah menyiapkan ratusan kerbau dari 17 jenis, mulai dari lotong boko’, saleko, bonga tenge’, bonga tua, tekken langi’, ta’bu sura’, sokko’, balian pampang lalan, dan jenis lainnya yang jarang ditemukan di luar Toraja. 

Selain itu ,  acara ini, dihadirkan kerbau ta’bu sura’ yang paling mahal senilai Rp270 juta. Ada juga kerbau saleko seharga 195 juta dan kerbau bertanduk 1,3 meter seharga Rp160 juta. Selain itu juga ada hewan sembelihan lainnya seperti kuda hitam, kuda putih, kijang, anoa, dan ratusan babi.

Tujuan Rambu Solo ini adalah bagian dari komitmen keluarga Bato’ Deri Silambi-To Pole untuk melestarikan adat istiadat Toraja serta mendukung promosi pariwisata Toraja. Ini juga bagian dari penghormatan terakhir segenap anak-cucu kepada almarhumah. Salah satu yang akan menjadi tontonan khusus dalam Rambu Solo Nenek Tapuk, adalah batu simbuang (tempat menambatkan kerbau) yang akan ditarik warga ke lokasi acara (Rante) di Lembang Deri, kecamatan Sesean, Toraja Utara. Simbuang itu berukuran 12 meter dan merupakan simbuang terbesar yang pernah ada dalam upacara Rambu Solo’ di Toraja.

Acara yang seharusnya di laksanakan pada Oktober lalu ini diputuskan ditunda ke Desember sebagai bentuk sumbangsih bagi pengembangan pariwisata Toraja, khususnya Lovely December. (dikutip dari Laporan Yulhaidir Ibrachim)

Wisata Budaya Tana Toraja

November 30, 2010

Wisata Budaya Tana Toraja
Budaya Tana Toraja merupakan warisan budaya dunia ribuan tahun yang lalu ( Tongkonan, Kuburan batu Lemo, Kuburan gua Londa, Kuburan kuno Kete Kesu, kuburan bayi Kambira, Upacara Rambu Solo) yang masih ada dan tetap dilestarikan serta menjadikan Tana Toraja sebagai obyek wisata nusantara di kawasan Indonesia Timur khususnya di Sulawesi selatan terbanyak dikunjungi Wisman , bahkan menjadikan Tana Toraja sebagai Obyek Wisata Budaya Dunia. 

Budaya Tana Toraja memiliki kekhasan dan keunikan pada rumah adat Tongkonan dan tradisi upacara pemakaman yang biasa disebut Rambu Solo.
Di Tana Toraja masih ditemukan Tongkonan beratap batu, berumur 700 tahun dan masih berdiri kokoh serta mayat tidak di kubur melainkan diletakan di Tongkanan untuk beberapa waktu. Jangka waktu peletakan ini bisa bertahun-tahun sampai keluarganya memiliki cukup biaya untuk melaksanakan upacara yang pantas bagi si mayit. Setelah upacara, mayatnya dibawa ke peristirahatan terakhir di dalam Goa (Kuburan Gua Londa) atau dinding gunung terjal (Kuburan Batu Lemo) . Tengkorak-tengkorak tersebut tersusun rapi , menunjukan bahwa mayat itu tidak dikuburkan tapi hanya diletakan di batuan.

Lihat juga pesta-adat-rambu-solo-nenek-tapuk

Selengkapnya kunjungi Wisata Budaya Tana Toraja dan tempat wisata di Tana Toraja
atau Anda ingin mempersiapkan perjalanan anda  ke  Tana Toraja

Trans Studio Makassar

November 30, 2010

Trans Studio Makassar merupakan wahana indoor terbesar di dunia,  dibangun seluas 12,7 hektare , terletak dikawasan wisata terpadu Kota Makassar, Provinsi  Sulawesi Selatan, termasuk obyek wisata terbayak dikunjungi diantara tempat-tempat wisata  Kawasan Indonesia  Timur , sekaligus menjadikan kota Makassar sebagai Wisata Kota termegah.
Trans Studio yang  diresmikan pada 9 September 2009  (Tanggal 09 – 09 – 09, hari bersejarah dimana Trans Studio Makassar secara resmi dibuka).

Fasilitas yang ada dikawasan terpadu ini diantaranya pusat perbelanjaan yang meliputi Trans Walk dan Trans Rodeo Drive, Trans Studio, Trans Hotel, serta kantor Bank . Gedung Trans Studio dibangun seluas 22.000 m² dengan tinggi 20 meter yang merupakan taman hiburan, wahana indoor terbesar di Dunia. Read the rest of this entry »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.