THE GREAT BUTON 4

PULAU LIWUTONGKIDI

Pulau Liwutongkidi merupakan salah satu pulau yang terdapat di Kabupaten Buton. Pulau seluas sekitar 1.000 km persegi ini memilliki iklim tropis dengan curah hujan rata-rata 1.000 mm per tahun.

Pulau Liwutongkidi oleh pemerintah daerah Kabupaten Buton dimasukkan sebagai salah satu kawasan pengembangan terpadu BASILIKA (Batauga, Siompu, Liwutongkidi, dan Kadatua). Tujuannya adalah untuk mengembangkan objek wisata bahari (bawah laut) di kabupaten yang kaya dengan aneka wisata baharinya itu. Diharapkan dengan adanya kawasan BASILIKA, gairah para wistawan untuk berkunjung ke Kabupaten Buton meningkat.

Walaupun pulau ini tidak begitu besar bila dibandingkan dengan pulau-pulau lain yang ada di Kepulaun Buton, pulau ini mampu memberikan nuansa yang unik melalui keindahan pantai dan pesona bawah lautnya. Garis pantai di sepanjang pulau ini dipenuhi hamparan pasir putih yang menakjubkan dan nuansanya menjadi lebih indah ketika berpadu dengan deburan ombak laut yang menyisir pasir tersebut.

Di samping itu, kekayaan alam bawah laut yang ada di pulau ini juga menarik untuk dikunjungi. Keanekaragaman terumbu karang dan biota bawah laut berpadu secara teratur dalam simponi keindahan panorama alam bawah laut.

POSUO

Tradisi Upacara Posuo yang berkembang di Sulawesi Tenggara (Buton) sudah berlangsung sejak zaman Kesultanan Buton. Upacara Posuo diadakan sebagai sarana untuk peralihan status seorang gadis dari remaja (labuabua) menjadi dewasa (kalambe), serta untuk mempersiapkan mentalnya.
Upacara tersebut dilaksanakan selama delapan hari delapan malam dalam ruangan khusus yang oleh mayarakat setempat disebut dengan suo. Selama dikurung di suo, para peserta dijauhkan dari pengaruh dunia luar, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Para peserta hanya boleh berhubungan dengan bhisa (pemimpin Upacara Posuo) yang telah ditunjuk oleh pemangku adat setempat. Para bhisa akan membimbing dan memberi petuah berupa pesan moral, spiritual, dan pengetahun membina keluarga yang baik kepada para peserta.
Dalam perkembangan masyarakat Buton, ada 3 jenis Posuo yang mereka kenal dan sampai saat ini upacara tersebut masih berkembang. Pertama, Posuo Wolio, merupakan tradisi Posuo awal yang berkembang dalam masyarakat Buton. Kedua, Posuo Johoro yang berasal dari Johor-Melayu (Malaysia) dan ketiga, Posuo Arabu yang berkembang setelah Islam masuk ke Buton. Posuo Arabu merupakan hasil modifikasi nilai-nilai Posuo Wolio dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. Posuo ini diadaptasi oleh Syekh Haji Abdul Ghaniyyu, seorang ulama besar Buton yang hidup pada pertengahan abad XIX yang menjabat sebagai Kenipulu di Kesultanan Buton di bawah kepemimpinan Sultan Buton XXIX Muhammad Aydrus Qaimuddin. Tradisi Posuo Arabu inilah yang masih sering dilaksanakan oleh masyarakat Buton.
Keistimewaan Upacara Posuo terletak pada prosesinya. Ada tiga tahap yang mesti dilalui oleh para peserta agar mendapat status sebagai gadis dewasa. Pertama, sesi pauncura atau pengukuhan peserta sebagai calon peserta Posuo. Pada tahap ini prosesi dilakukan oleh bhisa senior (parika). Acara tersebut dimulai dengan tunuana dupa (membakar kemenyan) kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa. Setelah pembacaan doa selesai, parika melakukan panimpa (pemberkatan) kepada para peserta dengan memberikan sapuan asap kemenyan ke tubuh calon. Setelah itu, parika menyampaikan dua pesan, yaitu menjelaskan tujuan dari diadakannya upacara Posuo diiringi dengan pembacaan nama-nama para peserta upacara dan memberitahu kepada seluruh peserta dan juga keluarga bahwa selama upacara dilangsungkan, para peserta diisolasi dari dunia luar dan hanya boleh berhubungan dengan bhisa yang bertugas menemani para peserta yang sudah ditunjuk oleh pemangku adat.
Kedua, sesi bhaliana yimpo. Kegiatan ini dilaksanakan setelah upacara berjalan selama lima hari. Pada tahap ini para peserta diubah posisinya. Jika sebelummnya arah kepala menghadap ke selatan dan kaki ke arah utara, pada tahap ini kepala peserta dihadapkan ke arah barat dan kaki ke arah timur. Sesi ini berlangsung sampai hari ke tujuh.
Ketiga, sesi mata kariya. Tahap ini biasanya dilakukan tepat pada malam ke delapan dengan memandikan seluruh peserta yang ikut dalam Upacara Posuo menggunakan wadah bhosu (berupa buyung yang terbuat dari tanah liat). Khusus para peserta yang siap menikah, airnya dicampur dengan bunga cempaka dan bunga kamboja. Setelah selesai mandi, seluruh peserta didandani dengan busana ajo kalembe (khusus pakaian gadis dewasa). Biasanya peresmian tersebut dipimpin oleh istri moji (pejabat Masjid Keraton Buton).
Semua Upacara Posuo dimaksudkan untuk menguji kesucian (keperawanan) seorang gadis. Biasanya hal ini dapat dilihat dari ada atau tidaknya gendang yang pecah saat ditabuh oleh para bhisa. Jika ada gendang yang pecah, menunjukkan ada di antara peserta Posuo yang sudah tidak perawan dan jika tidak ada gendang yang pecah berarti para peserta diyakini masih perawan.

TARI KALEGOA

Tarian ini adalah suatu tari tradisional yang menggambarkan suka duka gadis-gadis Buton sewaktu dalam pingitan dengan spesifikasi berupa gerakan memakai sap tangan.

Sudah menjadi suatu tradisi sejak zaman lampau seorang gadis yang menjelang dewasa haruslah menjalani masa Pingitan / Posuo. Selama 8 (delapan) hari 8 (delapan) malam.

Posuo sebagai suatu arena tempaan adat bagi mereka yang diikat dengan aturan dan tata krama serta sopan santun yang ketat untuk meninggalkan masa kegadisan bebas dan gembira karena telah dewasa dalam tempaan serta siap menerima kenyataan hidup.




TUKANG BESI BINONGKO

Jika mampir ke Pulau Binongko, jangan ragu mengunjungi lokasi para pengrajin besi. Dari para pengrajin inilah, Wakatobi dikenal sebagai kepulauan Tukang Besi.
Teng, teng, teng, teng…
BUNYI tempaan besi dipukul berkali-kali, terdengar bersahutan. Dari kebun berbukit di belakang perkampungan warga, suara itu berasal. Ada sejumlah gubuk kayu di sana. Di tiap gubuk, dua orang pandai besi tampak sibuk membuat bermacam alat dari logam, dari parang yang berukuran besar sampai pisau. Satu orang menahan parang yang baru dipanaskan, seorang lagi memukulnya keras-keras.
Itulah kegiatan sehari-hari para pandai besi di sebuah desa di Kecamatan Togo Binongko, Pulau Binongko. Di antara empat pulau utama di Kepulauan Wakatobi, Pulau Binongko terletak di paling ujung tenggara. Pulau ini juga paling jauh jaraknya
Warga Binongko telah menjadi pandai besi secara turun-temurun. Orang tua dan kakek mereka juga tukang besi. Memang, sebagian besar warga pulau ini menjadi tukang besi. Parang yang kuat dan tajam buatan mereka–kini disebut parang Binongko, dijual hingga ke daerah lain di Pulau Buton dan daratan Sulawesi. Bahkan dahulu kesultanan Buton memesan parang di sini.
Karena banyaknya warga yang menjadi tukang besi di Pulau Binongko, sejak puluhan tahun lalu pulau ini dinamai “Pulau Tukang Besi”. Penamaan itu kemudian melebar. Beberapa pulau lain–sekarang Kepulauan Wakatobi–juga dinamai “Kepulauan Tukang Besi”.
Pulau Binongko terbagi dua: Kecamatan Binongko dan Togo Binongko. Mulanya, pusat perajin besi itu berada di wilayah Kecamatan Binongko sekarang. Namun di daerah berpenduduk 10 ribu orang ini jumlah tukang besi itu semakin sedikit. Hanya tinggal beberapa orang.

PEKANDE KANDEA

Pekakande-kandea adalah salah satu acara tradisional yang diadakan oleh masyarakat dalam rangka menyambut kedatangan para Pahlawan negeri yang kembali dari medan juang dengan membawa kemenangan gemilang. Disamping itu acara ini merupakan pula acara pertemuan muda mudi karena hanya pada acara seperti inilah remaja putera dan puteri memperoleh kesempatan bebas untuk saling pandang.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat menyiapkan talam yang berisikan makanan tradisional seperti nasu wolio, kado minya, lapa-lapa, kasuami, dan makanan tradisioanal Buton lainnya, kemudian secara bersama berkumpul dalam satu arena yang telah ditetapkan.

Disinilah gadis remaja dengan menggunakan busana tradisional pula duduk menghadapi talam masing-masing. Setelah tiba saatnya, tampillah dua orang pelaksana untuk mengucapkan WORE, sebagai satu pertanda bahwa acara Pekakande-Kandea siap dimulai, selanjutnya disusul dengan irama KADANDIO dan DOUNAUNA dengan pantun awal:

“ Maimo sapo lapana puuna gau “
“ Katupana Mia bari ‘ amatajamo “

Selanjutnya terbukalah kesempatan bagi siapa saja untuk duduk menghadapi talam. Distulah remaja Putera menyampaikan isi hatinya melalui irama lagu berupa pantun, seraya menunggu saatnya pria melaksanakan tompa. Kemudia sebagai tanda terima kasih sang pemuda memBerikan hadiah pada sang Puteri yang memberikan suapan atau sipo kepadanya.

Sebagai rentetan dari acara ini kadangkala terjadilah kontak yang membawa nikmat antara kedua insan remaja, berupa proses adat tanah leluhur yang berbentuk pinangan.

TARI LARIANGI

Tari Lariangi merupakan bentuk tarian hiburan bagi masyarakat Wakatobi, tarian ini biasanya dimainkan oleh dua belas orang gadis remaja desa setempat. Tarian ini sangat eksotik terutama kostumnya. Nama kostum tarian ini sama dengan nama tarian yaitu Lariangi. Tarian ini dilakukan sambil bernyanyi. Dahulu tarian ditampilkan untuk menyambut para tamu kerajaan.

Dulunya, Lariangi dimainkan di istana raja yang berfungsi sebagai penerangan. Karena itu, Lariangi diwujudkan dalam gerakan dan nyanyian. Mereka bernyanyi dengan menggunakan bahasa Kaledupa kuno. Saat ini, bahasa ini sudah tidak dipergunakan dalam percakapan sehari-hari.

Lariangi terdiri dari dua suku kata. Lari dan Angi. Lari berarti menghias atau mengukir. Angi berarti orang-orang yang berhias dengan berbabagai ornamen untuk menyampaikan informasi, dengan maksud untuk memberikan nasehat. Bisa juga menjadi hiburan dengan gerakan tari dan nyanyian.

Sebagai perwujudan dari Lari adalah pakaian para penari yang terdiri dari kain, manik-manik, hiasan sanggul, logam berukir untuk gelang, kalung, dan hiasan sarung. Misalnya saja, hiasan sanggul yang dinamakan pantau seperti sebuah radar. Atau hiasan rambut yang rumit sekali membuatnya. Hanya orang tertentu yang bisa membuat hiasan rambut ini. Angi diwujudkan dalam bentuk gerakan dan nyanyian.

Tari ini bedurasi 10 menit. Selama sepuluh menit in, kami akan melihat sepuluh orang perempuan cantik menari dan bernyanyi. Tarian didominasi oleh gerakan duduk dan melingkar dengan mengibaskan lenso atau kipas.

Klimaks tarian ini ada di akhir. Yaitu gerakan yang dinamakan dengan nyibing. Nyibing dilakukan oleh dua orang penari lelaki. Mereka menari mengelilingi dua orang penari perempuan. Ini mengandung maksud, para lelaki, dalam kondisi apapun harus tetap melindungi para perempuan.

KARIA

Masyarakat di kecamatan kaledupa kabupaten wakatobi sulawesi tenggara punya tradisi tersendiri dalam menanamkan nilai-nilai etika moral dan spiritual terhadap anak laki-laki dan perempuan yang mulai beranjak remaja. Melalui tradisi karia setiap anak laki-laki dan perempuan yang akan melepas masa usia anak-anaknya dan akan memasuki usia remaja dikumpul bersama dan selanjutnya diantar keliling kampung oleh para pemangku adat dan masyarakat menuju kesebuah tempat penobatan. selain memberi makna spiritual tradisi ini juga menjadi ritual tiga tahunan yang mempertemukan seluruh masyarakat didaerah itu.
Dalam tradisi yang digelar setiap tiga tahun ini, seluruh sarahuu atau pemangku adat di kecamatan kaledupa mulai dari wilayah barat hingga wilayah timur datang dan berkumpul bersama untuk merayakan tradisi yang dianggap sebagai hari bergembira dan bahagia ini. tarian tamburu menjadi pembuka tradisi ini. Para pemangku adat yang datang dari berbagai kampung memainkan tarian tamburu yang berbeda pula. Pemangku adat dari wilayah timur memainkan tarian tamburu liumbosa sedangkan dari wilayah barat memainkan tarian tamburu liukosa. kedua tarian ini pada hakekatnya memiliki makna yang sama sebagai gambaran suka duka para anak-anak yang mengikuti tradisi karia ini dan sebentar lagi akan memasuki masa usia remaja.
Setelah seluruhnya berkumpul para pemangku adat selanjutnya memanjatkan doa di dalam masjid yang diikuti oleh para orang tua dan anak-anak yang ikut dalam tradisi ini. Sesuai adat yang diyakini oleh masyarakat kaledupa setiap anak laki-laki dan perempuan yang akan memasuki usia remaja diwajibkan menjalani tradisi karia ini. biasanya tradisi karia ini berlangsung dua hari bertuturt-turut. Hari pertama untuk anak laki-laki dan hari berikutnya khusus anak perempuan. Tradisi ini secara filosofis bertujuan untuk membekali anak laki-laki dan perempuan dengan nilai-nilai etika moral dan spiritual baik statusnya sebagai seorang anak ibu istri maupun sebagai anggota masyarakat.
Menariknya sebelum prosesi karia ini digelar terlebih dahulu diadakan selamatan dengan mengundang sanak keluarga kerabat dan handai taulan baik yang berada diwilayah wakatobi maupun yang berada diluar kota. Setelah semua prosesi dilakukan seluruh anak-anak baik laki-laki maupun perempuan kemudian diantar oleh para pemangku adat para orang tua anak dan seluruh masyarakat dengan berjalan kaki sepanjang lima kilometer diperkampungan menuju tempat penobatan terakhir berbagai tradisi lainnya juga ditampilkan saat dalam perjalanan.
Selain menyuarakan yel-yel para pemuda adat yang berada dibarisan paling depan juga menampilkan atraksi tarian balumpa. tak hanya itu para pemangku adat juga menggelar takbir disepanjang jalan yang diikuti dengan pembagian uang koin bagi masyarakat yang tidak ikut dalam barisan adat ini. selain untuk mempertebal nilai spiritual sang anak setelah memasuki usia remaja nanti kegiatan ini juga untuk mendoakan sang anak agar terhindar dari bala dan malapetaka. Tingginya animo masyarakat untuk merayakan tradisi tiga tahunan ini membuat suasana disepanjang jalan kecamatan kaledupa disesaki oleh ribuan manusia. bagi masyarakat kaledupa suasana seperti inilah yang dinantikan dimana semua masyarakat yang berasal dari seluruh penjuru berkumpul bersama dan merayakan tradisi berbahagia ini.
Tak heran hampir masyarakat rela berdesak-desakan saat memasuki tempat penobatan terakhir. sebagai simbol prosesi penobatan telah dilakukan seorang pria yang telah beranjak akil balik ditempatkan diatas sebuah kursi sambil diiringi alunan ayat suci alqur’an dari para pemangku adat

SUKU BAJO DI WAKATOBI

Masyarakat asli yang tinggal di sekitar taman nasional Wakatobi yaitu suku laut atau yang disebut suku Bajau (Bajo). Catatan Cina kuno dan penjelajah Eropa, menyebutkan bahwa manusia berperahu adalah manusia yang mampu menjelajahi Kepulauan Merqui, Johor, Singapura, Sulawesi, dan Kepulauan Sulu. Dari keseluruhan manusia berperahu di Asia Tenggara yang masih mempunyai kebudayaan berperahu tradisional adalah suku Bajau. Melihat kehidupan mereka sehari-hari merupakan hal yang menarik dan unik, terutama penyelaman ke dasar laut tanpa peralatan untuk menombak ikan.

TAMAN NASIONAL WAKATOBI

Taman Nasional Wakatobi seluas 1.390.000 hektar memiliki potensi sumberdaya alam laut yang bernilai tinggi, baik jenis dan keunikannya, yang menyajikan panorama bawah laut yang menakjubkan. Secara umum, perairannya mempunyai konfigurasi mulai dari datar, melandai ke arah laut, dan bertubir curam. Kedalaman airnya bervariasi hingga mencapai 1.044 meter dengan dasar perairan sebagian besar berpasir dan berkarang.

Taman nasional ini memiliki 25 buah gugusan terumbu karang dengan keliling total pantai sepanjang 600 km. Lebih dari 112 jenis karang dari 13 famili dijumpai di sini di antaranya:
– Acropora formosa,
– Hyacinthus,
– Psammocora profundasafla,
– Pavona cactus,
– Leptoseris yabei,
– Fungia molucensis,
– Lobophyllia robusta,
– Merulina ampliata,
– Platygyra versifora,
– Euphyllia glabrescens,
– Tubastraea frondes,
– Stylophora pistillata,
– Sarcophyton throchelliophorum, dan
– Sinularia spp.

Kekayaan jenis ikan yang dimiliki taman nasional ini sebanyak 93 jenis ikan konsumsi perdagangan dan ikan hias di antaranya:
– argus bintik (Cephalopholus argus),
– takhasang (Naso unicornis),
– pogo-pogo (Balistoides viridescens),
– napoleon (Cheilinus undulatus),
– ikan merah (Lutjanus biguttatus),
– baronang (Siganus guttatus),
– Amphiprion melanopus,
– Chaetodon specullum,
– Chelmon rostratus,
– Heniochus acuminatus,
– Lutjanus monostigma,
– Caesio caerularea, dan lain-lain.

Selain itu terdapat beberapa jenis burung laut seperti:
– angsa-batu coklat (Sula leucogaster plotus),
– cerek melayu (Charadrius peronii),
– raja udang erasia (Alcedo atthis);

Terdapat tiga jenis penyu yang sering mendarat di pulau-pulau yang ada di taman nasional yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Pulau Hoga (Resort Kaledupa), Pulau Binongko (Resort Binongko) dan Resort Tamia merupakan lokasi yang menarik dikunjungi terutama untuk kegiatan menyelam, snorkeling, wisata bahari, berenang, berkemah, dan wisata budaya.

Taman Nasional Wakatobi dapat dicapai melalui :
Kendari – Bau-bau (kapal cepat regular, dua kali/hari, 5 jam atau kapal kayu, 12 jam) – Lasalimu (berkendaraan , 2 jam) -Wanci (kapal cepat, 1 jam atau kapal kayu 2,5 jam). Wanci merupakan pintu gerbang pertama memasuki kawasan Taman Nasional Wakatobi.

Waktu yang disarnakan untuk berkunjung adalah bulan April s.d. Juni dan Oktober s.d. Desember.

TENUNAN BUTON

A. Asal-Usul

Sampai tahun 1960 yang dimaksud dengan orang-orang Buton menurut JW Schoorl, sebagaimana dikutip Yamin Indas, adalah mereka yang tinggal di Kesultanan Buton, yang meliputi pulau Buton, Muna, Kabaena, Kepulauan Tukang Besi, Rumbia dan Poleang di daratan besar jazirah Sulawesi Tenggara (Kompas, 22 Jul 2005). Saat ini, wilayah Kesultanan Buton telah terbagi-bagi ke dalam beberapa kabupaten dan kota, yaitu kota Bau-Bau, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana, dan Kabupaten Buton sendiri. Tidak hanya itu, seiring meningkatnya mobilitas orang akibat semakin mudahnya alat-alat transportasi, masyarakat Buton juga ternyata telah mendiami daerah-daerah di luar kawasan Kesultanan Buton. Uniknya, walaupun berbeda secara geografis dan administrasi pemerintahan, secara kultural mereka tetap satu. Hal ini terjadi karena masyarakat Buton mempunyai nilai-nilai budaya yang berfungsi sebagai pengikat dan perekat hubungan sosial antarmasyarakat Buton di manapun mereka berada. Menurut Indas, salah satu perekat sosial itu adalah kain tenun tradisional Buton (Indas, Kompas, 22 Juli 2005).

Tenun Buton mampu menjadi perekat sosial bagi masyarakat Buton karena dua hal. Pertama, tenun Buton merupakan pengejawantahan dari penghayatan orang-orang Buton dalam memahami lingkungan alamnya. Hal ini dapat dilihat dari corak dan motif yang terdapat pada tenun Buton. Menurut Hasinu Daa, sebagaimana dikutip Indas (Kompas, 22 Jul 2005), motif tenun Buton dibuat berdasarkan pengamatan dan penghayatan orang Buton terhadap alam sekitarnya. Misalnya, motif betano walona koncuapa yang terinspirasi dari abu halus yang melayang-layang hasil pembakaran semak saat membuka ladang; motif colo makbahu atau korek basah, motif delima bongko (delima busuk), motif delima sapuua, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, dengan melihat tenun Buton kita akan mengetahui bagaimana pemahaman orang Buton terhadap alamnya, dan pada saat bersamaan kita diajak bertamasya menikmati alam Buton.

Kedua, tenun Buton sebagai identitas diri dan sosial. Bagi orang Buton, pakaian tidak semata-mata berfungsi sebagai pelindung tubuh dari terik matahari dan dinginnya angin malam, tetapi juga berfungsi sebagai identitas diri dan stratafikasi sosial. Dengan melihat pakaian yang dikenakan oleh wanita Buton misalnya, kita bisa mengetahui apakah dia telah menikah atau belum. Melalui pakaian, kita juga dapat mengetahui apakah seorang perempuan dari golongan awam atau bangsawan. Misalnya, motif tenun kasopa biasanya dipakai oleh perempuan kebanyakan, sedangkan motif kumbaea yang didominasi warna perak biasanya dipakai oleh perempuan dari golongan bangsawan dengan gelar Wa Ode. Menurut Hasinu Daa sebagaimana dikutip oleh Indas (Kompas, 22 Jul 2005), dengan melihat tenun yang dipakai orang Buton, kita dapat mengetahui kedudukan seseorang dalam masyarakat Buton, seperti sapati atau kenepulu. Sebagai simbol kedirian orang Buton, maka sudah sewajarnya jika orang Buton menjaga agar simbol jati diri sosialnya tetap lestari. Salah satu cara yang digunakan untuk menjaga kelestariannya adalah dengan mengajari perempuan Buton tetanu (menenun) sejak mereka masih kecil, yaitu sekitar umur 10 tahun. Oleh karenanya, tidak heran apabila sebagian besar perempuan Buton, termasuk para istri sultan, mahir menenun (Kompas, 22 Juli 2005 dan 23 Januari 2009; http://produkboeton.blogspot.com).

Selain sebagai perekat sosial, faktor lain yang menjadikan tenun Buton tetap terjaga kelestariannya adalah fungsinya yang sangat vital dalam menopang keyakinan masyarakat Buton, yaitu sebagai pelengkap dalam pelaksanaan ritual masyarakat Buton. Sejak dilahirkan sampai meninggal dunia, orang Buton selalu menggunakan tenun Buton dalam setiap ritual yang dilakukan. Tanpa tenun Buton, kesakralan upacara adat Buton menjadi berkurang (http://orangbuton.wordpress.com).

Problem yang dihadapi oleh tenun Buton sebagaimana kain tradisional lainnya adalah serbuan produk-produk kain yang dihasilkan oleh peralatan modern. Mesin modern tidak saja menghasilkan kain-kain dengan corak yang lebih variatif dan atraktif, tetapi juga lebih efisien dalam waktu pengerjaan dan harganya jauh lebih murah. Dalam kondisi demikian, tenun Buton akan semakin tersisih. Mungkin sebagai perekat solidaritas sosial dan pelengkap ritual tenun Buton akan tetap lestari, tetapi ia akan kesulitan untuk berkembang. Ketika tenun sudah tidak lagi berkembang, maka ia akan tersisih digantikan oleh produk tenun lain dan segera dilupakan orang. Artinya, jika kondisi ini terus menerus dibiarkan bukan tidak mungkin tenun Buton akan hilang sama sekali.

Melihat fungsinya yang sangat besar bagi orang-orang Buton, maka sudah seharusnya semua pihak berpartisipasi untuk melakukan revitalisasi fungsi Tenun Buton. Jika selama ini tenun Buton hanya menjadi simbol perekat sosial orang Buton, penanda stratifikasi sosial, dan pelengkap ritual adat, maka perlu juga dilakukan eksplorasi lebih jauh terhadap nilai ekonomis yang terkandung dalam tenun Buton. Dengan kata lain, perlu upaya kreatif agar tenun Buton tidak sekedar menjadi identitas dan kebanggaan sosial, tetapi juga mampu menjadi sumber penopang ekonomi masyarakat Buton. Jika tenun Buton mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat Buton, maka dengan sendirinya masyarakat akan kembali bergiat untuk belajar menenun dan mengembangkan tenun Buton.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memunculkan potensi ekonomi tenun Buton. Pertama, mendokumentasikan dan memperkenalkan motif tenun Buton. Tenun Buton memiliki potensi ekonomi yang sangat besar untuk potensi ekonomisnya, karena tenun ini mempunyai yang sangat kaya. Konon, motif tenun Buton berjumlah ratusan, tapi belum terdokumentasi dan diketahui oleh masyarakat luas (http://www.sultra.go.id; http://profilesmakassar.blogspot.com; Kompas, 23 Januari 2009). Oleh karenanya, yang perlu dilakukan segera oleh segenap stake holder adalah melakukan inventarisasi terhadap semua motif tenun Buton dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas. Dengan cara ini, tenun Buton tidak saja akan lesatri, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai penopang kesejahteraan masyarakat Buton secara lahir dan batin.

Kedua, meningkatkan mutu dan kualitas tenun Buton agar bisa bersaing dengan produk tenun lainnya, misalnya dengan membuat tenunan Buton dari benang sutra. Dengan cara ini, tidak saja kualitas tenun Buton yang meningkat, tapi juga penghasilan para penenun juga akan naik. Harga kain sarung Buton misalnya, paling tinggi harganya Rp 150.000 per lembar, tapi jika dibuat dari benang sutra maka harganya bisa mencapai Rp 400.000 per lembar (http://profilesmakassar.blogspot.com).

Ketiga, memperbanyak jenis derivasi produk tenun Buton. Jika dulunya kain Buton hanya digunakan untuk busana, maka perlu kreativitas agar tenun Buton dapat multifungsi, seperti digunakan untuk membuat gorden, taplak meja, dan alat dekorasi. Semakin banyak fungsi yang dimiliki oleh Tenun Buton, maka semakin banyak manfaat yang bisa diambil dari tenun Buton. Jika tenun Buton semakin bermanfaat, khususnya sebagai penopang ekonomi masyarakat, maka akan semakin banyak orang atau kelompok yang akan ikut menjaga, melestarikan, dan mengembangkannya.

Keempat, memperluas wilayah pemasaran. Agar mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat Buton, maka hasil produk tenun Buton harus dapat diterima oleh masyarakat non Buton. Jika tenun Buton telah diterima oleh masyarakat non Buton, maka dengan sendirinya jumlah permintaan terhadap tenun Buton akan semakin banyak. Bertambahnya jumlah permintaan akan menjamin keberlangsungan produksi tenun Buton. Oleh karena itu, segenap stake holder harus bekerjasama agar tenun Buton bisa dikenal dan diterima oleh masyarakat non Buton, misalnya menjadikan tenun Buton sebagai souvenir resmi pemerintah daerah, aktif mengikuti pameran kain adat, dan lain sebagainya.

Keempat cara untuk menumbuhkan nilai ekonimis yang dikandung tenun Buton di atas akan berhasil jika masyarakat Buton sendiri mempunyai rasa bangga terhadap tenun mereka. Artinya, sebelum orang lain menggunakan tenun Buton, masyarakat Buton sendiri harus menjadi pengguna utama Tenun Buton. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa bangga dan memiliki terhadap tenun Buton, yaitu: pertama, melalui pendidikan, baik formal maupun non formal. Anak-anak Buton harus dikenalkan kembali terhadap khazanah kebudayaan mereka, misalnya melalui mata pelajaran muatan lokal. Mereka harus diajarkan bagaimana bentuk dan motif tenun Buton, makna filosofis yang dikandungnya, dan bagaimana membuatnya. Dengan cara ini, anak-anak akan mempunyai kecintaan dan kepedulian terhadap tenun Buton; kedua, mobilisasi secara formal. Cara ini dapat dilakukan, misalnya, dengan menjadikan tenun Buton sebagai seragam wajib pegawai pemerintah.

GUA LAKASA

Selain dikenal sebagai daerah eks kesultanan yang menyimpan banyak peninggalan sejarah masa lalu, Kota Bau-Bau juga kaya akan potensi wisata alam dan minat khusus. Salah satu lokasi permandian alam yang ada di Kota Bau-Bau adalah Gua La Kasa. Gua ini berada di Kelurahan Sulaa Kecamatan Betoambari, Bau-Bau.

Lokasi permandian gua La Kasa ini pertama kali ditemukan salah seorang warga yang bernama La Kasa. Itulah sebabnya gua yang memiliki kedalaman sekitar 100 meter tersebut diberi nama Gua La Kasa.

Untuk mengunjungi permandian Gua La Kasa sangatlah mudah. Jalur yang menghubungkan lokasi dengan jalan raya kini telah dibuka oleh pemerintah Kota Bau-Bau.

Hanya saja permandian alam yang indah ini berada di dalam perut bumi. Pintu masuknya hanya seukuran badan orang dewasa sehingga terkesan tertutup. Namun setelah masuk ke dalamnya ditemukan keindahan alam yang cukup mempesona. Di dalamnya terdapat hamparan air telaga yang jernih dan sejuk. Di sekelilingnya terdapat stalagtit dan stalagmite yang sangat indah. Ini menandakan proses kejadian telaga bawah tanah ini telah berusia berabad abad lamanya.

Menurut warga di kelurahan Sulaa kecamatan Betoambari, air dalam gua ini tak pernah kering dan diprediksi mampu mengakomodir kebutuhan air bersih bagi warga setempat.

Hanya saja, keindahan dan panorama alam serta sejuknya air di Gua La Kasa ini masih jarang dikunjungi masyarakat. Hal ini disebabkan lokasi yang berada di tengah hutan juga medannya yang cukup menantang. Jika berada di sekitar lokasi pintu masuk Gua La Kasa mungkin tak tampak ada tanda tanda jika dibawah pijakan kaki terdapat sebuah telaga biru yang memiliki panorama yang indah.

Meski jarang dikunjungi warga setempat, namun keberadaan Telaga biru di Gua La Kasa ini sudah sering dijadikan ajang rekreasi bagi masyarakat dari luar Kota Bau-Bau. para turis mancanegara pun tak melewatkan kesempatan untuk menikmati sejuknya air di telaga Gua La Kasa setiap kali berkunjung ke Kota Semerbak ini.

Jika selama ini, Kota Bau-Bau hanya dikenal memiliki beberapa lokasi wisata seperti Benteng Kraton yang terluas di dunia, Pantai Indah Nirwana yang memiliki dua warna yang sering digunakan warga Kota Bau-Bau sebagai klinik therapy air laut, pemandangan indah pantai Kokalukuna, permandian alam air jatuh di Kawasan Tirta Rimba, juga sebuah lokasi yang tak kalah menariknya adalah Telaga Biru di Gua La Kasa.

GUA MOKO

Gua Moko merupakan gua dengan permandian air payau memanjang sekitar 50 meter yang menyimpan keindahan dan misteri. Misteri? Eits… tunggu dulu, beberapa waktu lalu diadakan ekspedisi di gua ini dan ditemukan banyak keramik peninggalan Dinasti Ming. Seperti yang kita ketahui Buton dahulu merupakan kerajaan yang dipimpin seorang raja wanita yang berasal dari Negeri China. Kawasan gua moko yang baru dibuka oleh Pemkot Bau-Bau sebagai salah satu kawasan wisata kini jadi perhatian turis dari manca negara yang ada dari beberapa turis itu seperti Belanda dan Australia mengaku sudah kurang lebih 4 bulan melakukan penyelaman di kawasan wisata gua moko ini.Gua moko yang belum lama ini ditemukan ternyata memiliki keindahan yang luar biasa karena memiliki keunikan-keunikan yang tidak dimiliki oleh gua-gua yang lain. Karena itu, ke depan Pemkot Bau-Bau akan melakukan penelitian terkait benda-benda purbakala berupa keramik yang ditemukan di dalam gua moko. Memang sampai saat ini pertanyaan mengapa keramik-keramik itu ada di dasar Gua Moko masih menjadi misteri dan mungkin saja ada hubungannya dengan masa lalu Buton. Kita tunggu saja perkembangan berita selanjutnya.hubungannya dengan masa lalu Buton. Kita tunggu saja perkembangan berita selanjutnya.

PANTAI NIRWANA

Pantai nirwana sebuah kawasan obyek wisata bahari yang terletak di bibir pantai barat kota Bau-Bau yang dengan kekayaan dan keunikannya sebagai satu pantai yang memiliki berbagai keunggulan dalam dunia wisata bahari.
Lokasi wisata alam pantai Nirwana yang berada di kelurahan Sula kecamatan Betoambari Kota Bau-Bau selain memiliki panorama alam yang indah juga dapat dimanfaatkan untuk ajang olah raga Diving dan therapy untuk penyembuhan beberapa jenis penyakit.

Jika selama ini, warga Kota Bau-Bau hanya memanfaatkan lokasi Pantai Nirwana sebagai lokasi rekreasi dengan keindahan nyiur dan hamparan pasir putih sepanjang sekitar setengah kilometer kini warga juga dapat melakukan kegiatan penyelaman (Diving).
Hal ini terungkap setelah beberapa pekan terakhir mulai tampak aktivitas para turis mancanegara melakukan kegiatan Diving dan pemotretan bawah laut. Keindahan terumbu karang juga menjadi daya tarik tersendiri para turis untuk melakukan kegiatan wisata di Pantai Nirwana.

Bagi warga Kota Bau-Bau, pantai Nirwana tidak hanya sebatas lokasi rekreasi, namun ada yang memanfaatkannya sebagai kegiatan therapy untuk mengobati beberapa jenis penyakit seperti asma dan gangguan saluran pernapasan. Ini hanya dilakukan dengan cara berendam dalam kesegaran air laut Pantai. Meski belum banyak yang mengetahui, namun bagi mereka yang telah mencoba, khasiatnya telah dibuktikan.

Potensi wisata Pantai Nirwana tak cukup dengan pemandangan pantai dan indahnya terumbu karangnya. Namun, tak jauh dari lokasi pantai, juga terdapat sebuah Gua dengan permandian air payau memanjang sekitar 50 meter.

Masyarakat kelurahan Sula menyebutnya Gua Moko yang konon pada masa lalu lokasi ini digunakan sebagai sumber mata air yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari hari karena tak pernah kering. Lokasi gua ini berada pada bagian selatan Pantai Nirwana. Untuk menjangkau lokasi hanya dibutuhkan waktu tak kurang dari 10 menit dengan berjalan menelusuri pantai ke arah selatan.

Untuk memudahkan menjangkau lokasi Gua Moko, kini telah dibuka jalan masuk dari lokasi jalan umum dan dpat dilalui kendaraan. Jika ditelusuri, sepanjang kawasan Gua Moko menuju pantai nirwana terdapat terowongan memanjang dan dipenuhi sumber mata air payau. Anda penasaran? silahkan kunjungi Pantai Nirwana Bau-Bau dan nikmati pula segarnya air dalam Gua Moko.

PANTAI LAKEBA

Pantai ini memiliki ciri yang khas yaitu airnya yang jernih, pasir yang putih, dan lingkungan yang bersih. Pantai ini sangat baik untuk benjemur pada waktu siang, berenang, menyelam serta menikmati indahnya matahari terbenam. Selain sebagai obyek wisata, pantai ini juga mejadi tempat aktivitas nelayan pada saat akan melaut sehingga aktivitas nelayan dapat diamati oleh setiap wisatawan di pantai ini. Fasilitas yang ditawarkan di pantai ini yaitu resort dengan arsitektur rumah adat Buton yang menyediakan Children Play Ground, Banana Boat, Jet Ski, Parasailing, dan Restauran dengan live music. Menu yang disediakan yaitu Indonesian Food, American Food, dan Chinese Food. Lokasi berada lebih kurang 4 km dari pusat kota Bau-Bau dapat ditempuh dengan menggunakan taksi ataupun mobil sewaan.

HUTAN TIRTA RIMBA

Hutan Tirta Rimba merupakan hutan yang terdapat di Kota Baubau. Di hutan ini terdapat air terjun yang indah, serta keeksotikan flora dan faunanya.

MONUMEN NAGA

Monumen naga terdapat di pantai kamali. Mengapa naga? Sebab naga dan buah nanas adalah lambang Kesultanan Buton. Monumen ini di bangun untuk membangkitkan kembali semangat kejayaan Buton. Seperti yang diketahui, sebelum menjadi kesultanan yang didirikan oleh bebrapa tokoh Melayu dan Arab, Buton merupakan sebuah kerajaan. Raja pertamanya adalah seorang wanita dari negeri China, yang bernama Wa Kaa Kaa. Maka dari itu kebudayaan Buton memiliki banyak kemiripan dengan kebudayaan China diantaranya pakaian adat yang bernama Lonjo, memiliki kerah seperti Cheongsam dan berkancing khas China, serta rok sedada yang mirip Hanbok, pakaian nasional Korea Selatan Selain pada pakaian kemiripan dengan kebudayaan China lainnya seperti yang disinggung sebelumnya yaitu lambang dari Kerajaan dan Kesultanan ini yaitu naga dan nanas. Naga sendiri lambang dari kekuatan, kegigihan, dan kejayaan. Sedangkan nanas, memiliki filosofi sendiri yaitu buah nanas mudah tumbuh di mana saja, tahan banting seperti ciri khas orang Buton. Nanas juga memiliki payung dan sisik yang berarti raja memayungi rakyatnya. Selain itu buah nanas juga manis dan kaya manfaat yang melambangkan kemakmuran Buton.


BAUBAU LETTER

Baubau letter merupakan tempat wisata di Kota Baubau yang disediakan untuk anda yang ingin mengabadikan momen di belakang tulisan Baubau sebagai tanda pernah menginjakkan kaki di kota semerbak ini. Tempat ini berada di atas tebing sehingga kita dapat melihat panorama kota baubau beserta pulau Makassar di hadapannya.

WANTIRO



Jika menginginkan ketenangan menikmati indahnya panorama alam di Baubau, Wantiro adalah jawabannya. Seperti halnya pantai kamali, Wantiro juga merupakan merupakan kawasan wisata kuliner pada malam hari. Bedanya, wantiro menawarkan bukan panorama pantai tapi keindahan dari atas tebing. Dari tebing ini kita bisa melihat aktifitas Kota Baubau dan juga Pulau Makassar di depannya.

Area publik baru pelataran Wantiro di zona Warumuiso, Kecamatan Kokalukuna berubah menjadi lebih artistik. Dengan wajah itu, Kota Baubau semakin memamerkan diri sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia.

Keindahan pelataran Wantiro memang tak kalah menarik dibanding ruang publik lainnya di Kota Baubau. Di situ juga menjadi sentra kegiatan olahraga air seperti jet sky, banana boat, flying fish, lomba renang antar Pulau Makasar-Kota Baubau, perahu naga dan kegiatan atraktif lainnya.

Akses jalan menuju Wantiro hanya dapat dilalaui oleh taksi atau kendaraan pribadi sebab tidak ada angkot yang melewati tempat ini. Tempat ini menjadi tempat alternatif bagi mereka yang ingin menikmati pemandangan Kota Baubau dari atas tebing dan panorama laut dengan suasana bebas bising. Fasilitas yang disediakan yakni meja dan kursi yang nyaman. Kawasan ini juga bebas dari pungutan biaya.

PANTAI KAMALI



Pantai Kamali terletak di jantung Kota Baubau di dekat Pelabuhan Murhum merupakan kawasan wisata kuliner pada malam hari. Menu yang disediakan beraneka ragam mulai dari snack hingga makanan berat dengan harga terjangkau. Pantai ini merupakan pantai kebanggaan masyarakat Baubau layaknya Pantai Losari milik Kota Makassar, Sulawesi Selatan dan Kawasan Boulevard milik Kota Manado, Sulawesi Utara. Event-event penting sering diadakan di sini. Terdapat pula aneka jajanan khas kota ini di Pantai Kamali.

Pantai Kamali dapat diakses dengan menggunakan angkot, taksi, becak, dan kendaraan pribadi maupun sewaan. Fasilitas yang disediakan hotspot, arena bermain anak, bus wisata yang mengantar dari Pantai Kamali ke Benteng Keraton dan kembali ke Pantai Kamali, dan lantai refleksi. Di pantai ini pula terdapat Monumen Naga sebagai maskot Kota Baubau. Tidak perlu membeli tiket untuk ke kawasan ini.

TIANG BENDERA (KASULANA TOMBI)

Tiang bendera yang terletak di sebelah kiri Masjid Agung Keraton ini terbuat dari kayu berbentuk bulat dengan tinggi sekitar 21 meter terbuat dari kayu jati. Didirikan bersamaan dengan Mesjid Agung Keraton. Pada tahun 1870-an pada masa Sultan Muhammad Isa Kaimuddin tiang bendera ini disambar petir sehingga mengalami kerusakan, namun kemudian diperbaiki Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Salihi Kaimuddin tiang bendera ini digunakan kembali untuk mengibarkan bendera Kesultanan Buton yang disebut “Tombi Longa-longa” yang berarti “bendera warna-warni”.

Sumber

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: