THE GREAT BUTON 1

MAKAM KUNO 12 NISAN

Makam ini terletak kira-kira 150 meter arah Timur dinding Benteng Koro bagian barat. Terletak di Kabupaten Buton Utara, tidak seorangpun masyarakat yang mengetahui nama-nama yang dimakamkan.  Dikisahkan bahwa yang dimakamkan adalah seorang leluhur yang sakti dan 6 orang wanita hamil yang memangku beliau saat menghembuskan nafas terakhir.

Makam ini berada satu tembok pagar dengan ukuran panjang 4,50 meter dan lebar 4,20 meter. Batu-batu nisan terbuat dari batu kapur (stalastik) yang tertinggi 43 cm dan terendah 20 cm.

Makam ini dilindungi oleh sebuah cungkup yang terbuat dari kayu dan tidak berdinding. Oleh karena itu, kondisi bangunan makam tampak sangat bersih, tidak ada gangguan dari lumut maupun rerumputan
sumber: http://www.butonutarakab.go.id

BENTENG KORO

Benteng Koro dan 3 buah kompleks makam kuno terletak  kira-kira 1 km arah tengggara ibukota kelurahan Bonelipu, Buton Utara.  Benteng ini didirikan oleh Lakoni Koro dengan tujuan mempertahankan diri dari serangan musuh. Benteng Koro merupakan pusat pertahanan dan pemukiman masyarakat koro.  Benteng ini dibangun dengan teknologi yang sangat sederhana yakni susunan batu-batuan gunung  tanpa menggunakan bahan perekat.  Tinggi tembok benteng tergantung pada kondisi tanah yakni antara 1 – 130 meter.  Tebal tembok  bagian atas antara 25 – 40 cm tergantung dari besar  kecilnya batu.  Benteng ini menyerupai huruf L membujur Utara- Selatan dengan panjang 300 meter.  Karena dinding benteng berukuran sangat kecil, maka tingkat kerusakannya juga terus berlangsung.   Kerusakan nyata pada dinding benteng yakni runtuh dan batunya berhamburan akibat desakan akar-akar pohon maupun gangguan dari binatang liar . sumber: http://www.butonutarakab.go.id

MAKAM WANGKOLO

Makam ini terletak kira-kira 50 meter arah Benteng Koro, Buton Utara. Dikisahkan bahwa Wangkolo adalah salah seorang leluhur masyarkat Koro yang sangat sakti.  Tidak diketahui dengan pasti kedudukan kedudukan beliau pada masa itu. Yang jelas, makam ini masih sering diziarahi oleh sebagian masyarakat.  Makam ini hanya merupakan sebuah batu lepas berukuran besar (agak bundar) tanpa ada benda/artefak lain disekitarnya.  Peninggalan semacam  ini mengingatkan kita pada peninggalan masa Megalitik  pada masa Neolitikum.
sumber: http://www.butonutarakab.go.id

MAKAM JIN

Makam ini berada  dalam lingkungan Benteng Koro, Buton Utara yaitu sisi Timur dinding bagian Barat. Masyarakat tidak  mengetahui nama asli, ataupun kedudukan beliau dalam masyarakat pada masa itu.  Posisi makam ini membujur arah Utara-Selatan seperti makam-makam Islam lainnya.  Batu Nisan terbuat dari batu gunung yang posisinya tidak asli lagi akibat pengrusakan oleh manusia.  Makam ini dikelilingi tembok batu yang masih utuh.  Masyarakat beranggapan bahwa situs ini adalah merupakan temapt menimbun benda-benda berharga masyarakat zaman dahulu. sumbe: http://www.butonutarakab.go.id

BENTENG PINGILIA

Benteng Pangilia terletak + 3 km ke arah Tenggara Benteng Lipu, Buton Utara. Benteng ini didirikan oleh Sangia Rau dengan tujuan untuk mempertahankan diri dari serangan Suku Tobelo. Benteng Pengilia terletak di atas sebuah bukit yang menghadap ke laut lepas. Pemandangan ke arah Timur sangat indah sebab kapal-kapal yang melintas tampak sangat jelas. Di dalam kompleks benteng tidak ada peninggalan lain, kecuali sebuah jurang yang berada pada sisi Selatan yang diduga untuk persembunyian. Pohon-pohon besar maupun kecil tumbuh sangat indah baik di dalam maupun di luar benteng.

Benteng Pangilia dengan panjang dinding 823 meter merupakan benteng pertahanan terdepan dan tidak dihuni oleh penduduk pada masa itu. Dinding benteng dibangun dengan teknologi sederhana yakni batu-batu gunung disusun beraturan tanpa menggunalkan bahan perekat. Benteng ini dilengkapi dengan beberapa buah bastion dan beberapa buah trap (tangga) bersusun 2 sampai 4 buah. Tinggi tembok bervariasi antara 2 – 5 meter, sedangakan tebal bagian atas antara 2 – 3 meter.

Dinding bangunan Benteng Pengilia masih banyak yang utuh (+ 60 %). Umumnya kerusakan disebabkan oleh desakan akar-akar pohon yang tumbuh di sisi dalam maupun di sisi luar. Selain itu, banyak pula pohon-pohon kecil yang tumbuh di permukaan dinding benteng. sumber: http://www.butonutarakab.go.id

BENTENG LIPU (KERATON KULISUSU)

Benteng Lipu merupakan benteng utama pertahanan masyarakat Kulisusu yang dibangun dalam pusat pemerintahan Lakino Kulisusu sekitar abad ke XVII. Benteng ini didirikan atas prakarsa Buraku (Gaumalanga) yakni seorang penyiar agama Islam dengan tujuan untuk melindungi diri dari seragam musuh utamanya suku Tobelo dan bangsa Belanda.

Benteng Lipu terletak + 1 km dari ibukota Kecamatan Kulisusu, Buton Utara, dan berada di atas perbukitan dengan ketinggian + 60 meter dari permukaan laut. Luas keseluruhan Benteng Lipu adalah + 12,95 hektar yang dimanfaatkan untuk perumahan penduduk (bagian Selatan), sedangkan pada bagian Utara adalah kompleks makam-makam kuno dan bangunan bersejarah lainnya.

Benteng Lipu dan beberapa bangunan peninggalan di dalamnya telah dipugar oleh pemerintah provinsi selama 6 tahap dan berakhir pada tahun 2007. Adapun data-data benteng adalah sebagai berikut:

  • Panjang dinding Benteng Lipu adalah 1.883 meter.
  • Tinggi dan tebal tembok bervariasi tergantung pada kondisi tanah atau lereng bukit.
  • Terdapat 7 buah Bastion yang dibuat pada beberapa titik yang strategis.
  • Pintu masuk benteng (bentuk asli) saling menutupi.
  • Pada permukaan tanah di dalam kompleks benteng banyak ditemukan sebaran pecahan keramik asing dan gerabah

sumber: http://www.butonutarakab.go.id

KULISUSU (KULIT LOKAN)
 

Benda ini adalah yang melatarbelakangi penamaan Kulisusu, kini tinggal sebelah dan tertimbun hampir seluruh bagiannya. Konon ceritanya bahwa pasangan dari kulit Lokan ini diambil oleh suku Tobelo setelah masyarakat Kulisusu menderita kekalahan. Adapun ukurannya sebagai berikut: panjang 60 cm dan tinggi dari permukaan tanah 25 cm. Wisata sejarah ini terletak di Kompleks Benteng Lipu, Keraton Kulisusu, Kabupaten Buton Utara.

sumber: http://www.butonutarakab.go.id

RAHA BULELENGA

Bangunan ini sebenarnya hanya mempunyai satu tiang penyangga, namun karena pertimbangan ketahanan bangunan maka saat dilakukan pemugaran bangunan dengan ditambahkan beberapa tiang pembantu. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat Mancuana (pemimpin kampung) untuk meminta berkah akan keselamatan rakyatnya. Ukuran bangunan ini adalah 6,10 meter x 6,10 meter, terletak di kawasan Keraton Kulisusu. (sumber: butonutarakab.go.id)

MASJID KERATON KULISUSU

Keadaan fisik bangunan ini tidak asli lagi, kecuali dasar bangunan yang masih dapat diidentifikasi. Masjid ini merupakan masjid pertama yang dibangun setelah masyarakat memeluk agama Islam. Ukuran dasar bangunan yakni: panjang 18 meter, lebar 17,25 meter, tinggi 1,50 meter, dan terendah 1,30 meter. (sumber: http://www.butonutarakab.go.id)

BARUGA KOMPLEKS KERATON KULISUSU

Menurut cerita turun temurun bahwa pada mulanya bangunan ini merupakan tempat pembuatan perahu pada masa pra Islam. Setelah perahu selesai, bangunan pelindungnya dijadikan tempat musyawarah masyarakatnya. Bangunan ini sudah beberapa kali mengalami perbaikan  oleh masyarakat. Pada tahun 1995 bangunan ini dipugar oleh pemerintah provinsi sesuai ukuran aslinya yakni : panjang 15,65 meter dan lebar 7,75 meter. (sumber: butonutarakab.go.id)

WISATA YANG DITAWARKAN DI NGKARING-NGKARING
Mengapa harus repot-repot ke Bali?
“Bali Kecil” ini terletak sekitar 15 kilometer dari Baubau. Topografi yang menonjol adalah luasnya areal persawahan disertai dengan beberapa daerah yang bergunung-gunung.  Seperti halnya di Bali, anda bisa pula menyaksikan beberapa rumah peribadatan khas Bali alias Pura dimana tempat itu biasa dilakukan ritual pada hari-hari besar keagamaan seperti Galungan dan Kuningan.   Anda bisa pula menikmati  aneka tarian khas Bali seperti Panyembrana, Nelayan, Manukrawa, dan masih banyak lagi. Sekitar bulan Februari atau Juni, anda bisa menyaksikan sekaligus belajar cara menanam padi dan sekitar 3 bulan kemudian anda bisa melihat dan belajar cara memanennya.  Desa ini merupakan salah satu penyuplai beras terbesar di Baubau dan menjadi salah satu tempat favorit bagi para pengunjung, terutama para peserta Sail Indonesia.
SULAA

Terletak sekitar 7 kilometer dari pusat kota Baubau, tidak jauh dari pantai Nirwana.  Disini anda bisa menyaksikan langsung proses pembuatan sarung tenun khas Buton.  Tenunan khas Buton ini sangat unik dari sisi pembuatan serta rancangannya dan menghasilkan beragam motif dan warna.  Namun, motifnya sangat khas sehingga kita masih bisa mengidentifikasinya sebagai tenunan khas Buton (bila kita membandingkan dengan motif tenunan daerah lain).  Ciri lain yang menonjol dari perkampungan ini adalah budidaya rumput lautnya.  Bila anda melihat banyak sekali benda-benda terapung (biasanya dari botol-botol plastik air mineral) yang diikatkan pada tali dan tetap mengapung di atas permukaan air, itu berarti dibawahnya ada rumput laut yang sedang dikembangbiakkan.  Ini merupakan salah satu komoditi penting kota Baubau, dan Pemerintah Kota Baubau selalu mendukung adanya iklim investasi, baik swasta maupun asing, untuk komoditi yang satu ini.
Sumber: http://www.osiymobaubau.com

SORAWOLIO

Daerah ini dikenal dengan salah satu kawasan penutur bahasa Cia-Cia.  Bahasa ini merupakan rumpun bahasa  Austronesia yang banyak digunakan di daerah Kecamatan Sorawolio, seperti Karya Baru, Bugi dan Gonda Baru.  Pada tahun 2009, bahasa Cia-Cia mendapat sorotan media internasional karena anak-anak di kota ini telah mulai diajarkan bahasa Cia-Cia dengan menggunakan aksara Korea Hangul, dan Pemerintah Kota Baubau tengah mengadakan penjajakan terhadap adanya kemungkinan menjadikan aksara Hangul ini sebagai aksara resmi bahasa Cia-Cia.  Sebenarnya, bahasa Cia-Cia digunakan disekitar kawasan Sulawesi Tenggara, khususnya di daerah Buton selatan, Pulau Binongko, dan Pulau Batu Atas.  Dialek Wolio, yang merupakan penutur mayoritas masyarakat Kota Baubau, tidak lagi digunakan sebagai bahasa tulis untuk bahasa Cia-Cia oleh karena menggunakan aksara Arab, sedangkan aksara resmi yang digunakan oleh orang Indonesia secara umum adalah aksara Latin.  Dialek-dialek utama komunitas bahasa Cia-Cia adalah Kaisabu, Sampolawa, Laporo (Mambulu), Wabula  (beserta sub-dialeknya), dan Masiri.  Diantara dialek utama ini, dialek Masiri memiliki jumlah kosa kata yang terbanyak. (Sumber: http://www.osiymobaubau.com)

MELAI
 


Terletak di dalam benteng Keraton, sekitar 3 kilometer dari pusat Kota Baubau.  Di tempat ini anda bisa melihat kediaman resmi sultan yang disebut Malige,  yang dibangun tanpa sama sekali menggunakan paku.  Anda bisa pula mencicipi aneka makanan khas Baubau seperti Kaholeo rore, Kasoami, Kaumbai, onde-onde, baruasa, waje, kalo-kalo, kapusu nosu, nasu Wolio, parende dan tuli-tuli.  Hal lain yang patut anda lihat di lokasi ini adalah aneka kerajinan tangan khas Baubau, seperti sarung Buton, Panamba dan kerajinan kuningan. (Sumber: http://www.osiymobaubau.com)

PANTAI PALABUSA

Lokasi ini merupakan pusat budidaya kerang mutiara yang produk utamanya adalah dua jenis mutiara standar internasional, yaitu Pinctada Maxima (mutiara bulat utuh) dan Pteria Penguin (mutiara setengah bulat).  Anda bisa melihat langsung proses budidaya mutiara di lokasi ini. Berjarak 20 kilometer dari kota Baubau. (Sumber: http://www.osiymobaubau.com)

AIR TERJUN SAMPARONA

Tingginya mencapai 30 meter dan berjarak sekitar 13 kilometer dari Baubau. Untuk mencapai lokasi unik ini, pengunjung akan ditemani oleh seorang pemandu menyusuri belantara sepanjang dua sungai kecil. Dua air terjun mempesona menanti anda disana, yaitu La Mogawuna dan Wa Samparona. Mitos masyarakat setempat percaya bahwa keduanya adalah pasangan suami istri. Petualangan anda akan disuguhi dengan aneka flora dan fauna yang masih terjaga kelestariannya.  Anda tidak disarankan untuk berpetualang di lokasi ini bila anda bukan seorang petualang sejati yang kuat berjalan kaki.
sumber: http://www.osiymobaubau.com

TERUMBU KARANG KOLAGANA

Terletak sekitar 18 kilometer dari pusat kota Baubau di Kecamatan Bungi. Spot ini sangat menarik untuk aktifitas snorkeling dan terutama pecinta selam. Anda ditantang untuk menikmati aneka terumbu karang dengan berbagai spesies ikan. (sumber: http://www.osiymobaubau.com)

BARUGA KESULTANAN BUTON


Di masa pemerintahan Sultan Syakiyuddin Darul Alam atau yang juga dikenal dengan nama sultan Laelangi, banyak melakukan pembangunan salah satunya adalah pada Benteng Keraton terdapat Baruga. Baruga pada zaman dahulu pemerintahan Sultan Syakiyuddin Darul Alam berfungsi sebagai tempat bekumpul para sultan untuk melakukan upacara ataupun untuk membahas maslah-masalah Ekonomi, Politik dan lain-lain. (sumber artikel: http://sammunawir.blogspot.com)

MAKAM MUJINA KALAU


Dahulu ada sembilan orang Wali yang di kirim oleh Rasul untuk menyebarkan Islam. Salah satunya adalah Syekh Abdul Wahid dengan salah satu muridnya bernama “Mujina” beliau yang menyebarkan Islam yaitu di Burangasi sebagai wilayah pertama masuknya Islam di pulau Buton.
Pada masa pemerintahan Sultan ke-29, Mujina menjadi salah satu penyebar Islam yang diperintahkan oleh sultan dan beliau juga pernah mengikuti perang melawan Tobelo. Mujina adalah seorang perempuan dengan ciri-ciri fisik putih berikat sanggul di kepala dan silsilahnya berhubungan dengan sultan ke-29. Beliau juga suka memakai jubah berwarna biru dengan kain selempang, memakai pedang dan berkuda.
Turunannya dari sultan 17-29, warna kesukaanya warna kuning emas campur merah dan itulah yang merupakan simbol dari tempat duduknya berbentuk tiga lekungan. Hanya saja di saat Istana/Keraton mengalami perpindahan dari keraton lama ke keraton baru yaitu dimasa kekuasaan Sultan Murhum, semua benda milikinya hilang begitu saja bersama dengan keraton lama.
Makam Mujina kalau ini bertempat di kelurahan Melai, Kota Baubau dan berada di dalam area perumahan masyarakat Melai. Di dalam area tersebut terdapat banyak makam dan salah satunya adalah makam Mujina Kalau, yang dibatasi dengan pagar beton dengan lambang berciri khas Rumah Baruga tepat diatas pintu masuk area pemakaman beliau.
(sumber: http://sammunawir.blogspot.com)

MAKAM SULTAN NASIRUDDIN


La Ibi atau Pouta Masabuna Yi Walalengke atau Sultan Nasiruddin memerintah pada tahun 1709 – 1711 Masehi. Di riwayatkan Sultan Nasiruddin sebenarnya berat menerima jabatan sebagai Sultan. Beliau terpaksa menerima jabatan itu demi kehormatan kaumnya yaitu aliran bangsawan Tanai Londu. Makamnya dapat dijumpai di Kompleks Keraton Buton.
(Sumber: http://sammunawir.blogspot.com)

LONGA-LONGA BENDERA KERAJAAN BUTON


Asal mulanya Bendera Kerajaan Buton (Longa-longa), dan Longa-longa sebutan akrab penduduk setempat Keraton. Longa-longa sudah di kibarakan sejak Raja Pertama Buton yaitu Raja Wakaaka (Seorang wanita dari Tiongkok yang diangkat menjadi raja).
Panjang Longa-longa kurang lebih 5 M dan lebarnya 1 M. Konon ceritanya, Longa-longa di kibarkan pada saat jatuhnya tahta atau upacara adat yang akan di laksanakan .
Longa-longa di buat sebelum Islam (Agama yang kita anut sekarang ini) masuk di dalam kerajaan Buton (yangkemudian ditandai dengan terbentuknya Kesultanan Buton).
Sampai saat ini, belum ada yang tahu siapa yang membuat Bendera Longa-longa tersebut (Bendera Kerajaan Buton).(Sumber: http://sammunawir.blogspot.com

MAKAM SULTAN MURHUM


Sultan Murhum adalah raja terakhir Kerajaan Buton sekaligus sultan pertama dalam Kesultanan Buton. Makam Sultan Murhum, Sultan Buton I terdapat di dalam Benteng Keraton Buton di Kota Baubau. Lokasi makamnya terletak di bukit kecil pada kompleks Benteng Keraton Buton.
Sumber: http://www.kabarindonesia.com

GUA KAISABU


Gua ini terletak hanya sekitar 1 km dari tepi jalan kabupaten. Gua ini terletak pada dinding sebuah gunung karts. Untuk mencapai mulut gua wisatawan harus memanjat dinding tebing yang cukup terjal dengan ketinggian ± 100 meter


sumber: http://tukangngegame.blogdetik.com

Kerajinan Arguci Buton Raya


Sepintas, namanya mirip nama-nama merk top dari negeri pizza, Italia. Tapi jangan salah, arguci adalah seni menjahit dari bahan polos yang diisi dan dijahit menggunakan mote-mote dengan meniru bentuk seperti tumbuhan, hewan, biji-bijian maupun benda-benda lainnya sehingga menghasilkan sulaman payet berwarna cerah.

Hasil kerajinan ini biasa digunakan masyarakat local pada latar pelaminan pernikahan, baju pengantin adat, atau juga perlengkapan tata hias kamar pengantin.

Arguci merupakan kerajinan yang menjadi cirri khas daerah Sulawesi, khusunya Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Hasil kerajinan ini tidak dapat dipisahkan dari adat perkawinan etnis Buton yang ada di Kota Bau-Bau dan Kabupaten Buton. (sumber: http://dekranasdasultra.com/

Kemilau Kuningan dari Kota Baubau


Di Indonesia, kini tidak banyak lagi ditemukan perajin kuningan. Salah satu daerah yang masih bertahan dengan kerajinan kuningnnya adalah Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara.

Dikenal sebagai Kota Sejarah, pemerintahan kesultanan Buton masa lampau ini menjadi daya tarik wisata di Sultra. Kerajinan kuningan telah ada dan berkembang pada masa kejayaan kesultanan tersebut.

Sentra usaha kerajinan kuningan Kota Bau-Bau terletak di Kecamatan Murhum, Kelurahan Melai. Pengerjaannya masih menggunakan cara tradisional warisan leluhur mereka, dengan mengandalkan kemampuan tangan. Sejak dari proses pemanasan hingga menjadi produk yang siap pakai.

Hasil produksi berupa alat-alat tradisional khas Daerah Buton dan sekitarnya, seperti tala beserta perlengkapan, asbak, perkakas rumah tangga, juga aneka perhiasan seperti anting, dan gelang.

Harga pasaran produk kuningan ini bervariasi, mulai dari harga Rp. 25. 0000, hingga ratusan ribu rupiah. Bergantung besar kecilnya suatu produk.
(sumber: http://dekranasdasultra.com/)

DOLE-DOLE


Dole-Dole merupakan salah satu bentuk tradisi budaya yang dilaksanakan atas lahirnya seorang anak. Selain itu juga sebagai bentuk pengobatan tradisional. Menurut kepercayaan, anak yang telah di Dole-Dole akan terhindar dari berbagai macam penyakit. Prosesinya sang anak diletakan diatas nyiru yang dialas dengan daun pisang yang diberi minyak kelapa. Selanjutnya anak tersebut digulingkan diatasnya sehingga seluruh badan anak tersebut berminyak. Acara ini biasanya dilaksanakan pada bulan Rajab, Sya’ban dan setelah lebaran sebagai waktu yang dianggap baik. (sumber: http://azulfachri.wordpress.com)

TARI MANGARU


Tarian ini menggambarkan kobaran semangat ksatria yang lincah dan gesitnya menggunakan parang, keris, tombak dan senjata lainnya di medan perang. Dengan Konsentrasi yang penuh serta ketajaman hati dan pikiran akan mampu mematahkan keampuhan senjata lawan. Tarian ini apabila ditampilkan selalu diawali dengan WORE sebagai pembakar semangat akan kecintaan dan kesetiaan terhadap tanah leluhur. Tari ini biasanya dipertontonkan pada saat musim tanam-tanaman yang syukuran hasil panen. Namun, saat ini lebih sering ditampilkan sebagai tari penyambutan tamu.

KABENGKA


Kabengka merupakan upacara adat khitanan atau sunatan. Sebelum anak-anak menginjak usia remaja di Kulisusu, Buton Utara harus melalui satu acara ritual yaitu Kabengka dengan tujuan anak tersebut dalam mengarungi kehidupan kelak menjadi anak yang taat kepada kedua orang tua, agama, murah rejeki dan panjang umur. (sumber: http://butonutara.multiply.com)

Tags: , ,

One Response to “THE GREAT BUTON 1”

  1. great buton Says:

    Sebagai admin greatbuton.blogspot.com kami mengutuk keras blog ini karena tidak mencantumkan referensi alamat Great Buton ketika merepost konten blog kami. Kami meminta klarifikasi segera ke email kami jika tidak kami akan membawa ke jalur hukum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: