THE GREAT BUTON 2

Ngkaringkari, The Little Bali On Buton Raya

Kelurahan Ngkaringkari, Kecamatan Bungi, Kota Baubau menyimpan pesona budaya dari etnis pendatang. Masyarakat Bali yang datang ke Kota Baubau melalui program transmigrasi, turut membangun daerah ini serta tetap menjaga kebudayaan mereka. Masyarakat etnis Buton dan Bali hidup rukun di sini. Ngkaringkari sering disebut sebagai “The Little Bali”. Ini bisa dikatakan nilai plus bagi para wisatawan yang datang ke Buton Raya sebab, bila Anda ke Bali, anda cuma melihat budaya Bali. Tapi, jika berkunjung ke Baubau dan menyempatkan diri ke Ngkaringkari, Anda bukan hanya bisa melihat budaya Buton Raya tapi juga budaya Bali. Di Ngkaringkari, Anda bisa melihat pemandangan indahnya sawah dan lahan pertanian lainnya yang terlihat sejauh mata memandang. Suasana pedesaan beserta keramahan warganya merupakan hal menarik yang tak boleh Anda lewatkan. Waktu yang tepat untuk mengunjungi daerah ini ialah saat perayaan hari besar agama Hindu.
Mengarak Butha Kale dari ujung kampung ke ujung lainnya adalah salah satu ritual yang dilakukan oleh umat Hindu di Kelurahan Ngkaringkari, Kecamatan Bungi, Kota Baubau menjelang ritual nyepi. Semua umat Hindu di seluruh Indonesia melakukan hal serupa.
Ritual Ogoh-ogoh merupakan acara tahunan. Acara ini menjadi perhatian warga setempat bahkan sangat ramai karena warga dan wisatawan Kota Baubau berdatangan ke Ngkaringkari untuk menyakasikannya.
Butha Kale pada ritual ogoh-ogoh itu tidak hanya sekedar diarak oleh sepuluh pria berpakaian serba putih dan berikat kepala. Tetapi mereka juga melakukan gerakan menari diiringi gendang dan alat musik tradisional. Gerakan itu dilakukan sepanjang jalan dari ujung timur ujung barat lalu kembali lagi ke timur.
Setiap tempat yang dilalui Butha Kale diyakini bisa menghilangkan sial yang oleh masyarakat Kelurahan Ngkaringkari disebut aura negatif alam. Butha Kale adalah perwujudan iblis yang sangat besar (raksasa) berwarna merah, bertaring, memegang kapak, kuku kaki dan tangan tajam, berambut panjang dan ditemani dua ekor monyet.
Sehari sebelum ritual ogoh-ogoh digelar, umat Hindu Ngkaringkari melakukan melasti di Pantai Lamboro. Melasti adalah ritual membuang segala kekotoran alam semesta yang tertanam dalam jiwa manusia. Usai melasti, digelar pirse lalu sawer pesange yang bertujuan untuk memberi persembahan kepada Butha Kale.
Butha Kale bisa diartikan sebagai mahluk yang berada di bawah manusia. Sedangkan persembahan untuk Butha Kale bertujuan untuk menciptakan keseimbangan alam semesta sekaligus bisa dijauhi dari semua ganguan dalam bentuk apapun pada saat ritual nyepi.
Butha Kale pada ogoh-ogoh di Ngkaringkari terbuat dari gabus menyerupai raksasa setinggi kurang lebih 3 meter. Butha Kale diletakkan di atas beberapa bambu-bambu yang diikat menyatu menyerupai salah satu permainan dalam pramuka, lalu diarak sejauh kurang lebih 7 km
Selain Butha Kale ternyata ada dua orang pelengkap memakai topeng yang menyerupai Butha Kale ikut menari-nari. Dua orang ini juga menjadi salah satu pusat perhatian setiap orang yang menonton. Kebanyakan anak-anak takut untuk mendekatinya.
Butha Kale di penghujung ritual harus dibakar. Maksudnya, agar seluruh kesialan yang mengikut bersamanya ikut terbakar.
sumber: http://www.baubaupos.com

BATU YIGANDANGI/BATU WOLIO

Batu Yigandangi (biasa juga disebut batu Wolio ataupun batu Igandangi), terletak di tengah kawasan Benteng Keraton di kelurahan Melai kecamatan Murhum kota Baubau. Batu Yigandangi merupakan batu yang digunakan dalam rangkaian prosesi pelantikan Raja/Sultan yang dilantik pada hari Jumat. Sebelum pelantikan Sultan, tepatnya Kamis sore, empat orang Bonto Siolimbona mengambil air dari salah satu mata air sebanyak delapan ruas bambu. Air tersebut kemudian disiramkan ke Batu Yigandangi dan dipukulkan gendang. Air tersebut juga kemudian dicampurkan ke air mandi calon Sultan sebelum berangkat shalat Jum’at. Pelantikan Sultan dilakukan di dalam Masjid Agung Keraton Buton dan di Batu Popaua. Kini masyarakat setempat menganggap belum sampai ke tanah Buton jika belum menyentuh batu ini.
sumber: http://wolio.wordpress.com/

Liana Latoondu / Gua Arupalaka

Gua ini merupakan sebuah cerok kecil bentukan alam setinggi kurang lebih 1,5 m. gua ini pernah dijadikan sebagai tempat persembunyian Latoondu (Arupalaka) seorang raja Bone yang cukup berpengaruh ditanah Bugis. Ia melarikan diri ke Buton tahun 1660 dan menetap untuk waktu yang tidak begitu lama. Kemudian kembali ke Sulawesi selatan memimpin perlawanan menghadapi Gowa. (sumber: http://azulfachri.wordpress.com/)

BATU POPAUA
Batu Popaua, Batu pelantikan yang terletak di depan Masjid Agung, berbentuk batu ponu atau simbol kewanitaan, tempat Raja/Sultan dilantik oleh Dewan Mentri dengan cara memutarkan payung di atas kepalanya, batu ini dianggap suci dan keramat dan di percaya tempat pertama kalinya Raja Buton pertama Ratu Waa Kaa Kaa menginjakkan kakinya.
GORAANA OPUTA/MALUDJU WOLIO

Goraana Oputa atau Maludju Wolio merupakan akulutasi budaya dan Islam dalam menyambut kelahiran Nabi Muhamma SAW setiap malam 12 Rabiul Awal pukul 00.00 WITA hingga pukul 03.00 WITA dini hari. Maludju Wolio pada masa Kesultanan Buton selalu digelar di istana sultan. Kini digelar di Rujab Walikota Baubau.
sumber: baubaupos.com

PUNCAK INDAH MARDADI

Puncak yang terbentuk dari karang alami ini perlahan tapi pasti mendapatkan perhatian dari masyarakat sekitar, dan rata-rata tak kurang dari 100 orang mengunjungi tempat yang selain menyewakan gazebo dan pondok ini juga menjual makanan dan minuman. Nama Mardadi sebetulnya diambil dari nama daerah keramat yang berada tak jauh dari Puncak. Dari kejauhan, Puncak Indah Mardadi (PIM) ini terlihat seperti sebuah kapal dengan buritan kapal yang menghadap ke arah timur sehingga bagian depan dilengkapi dengan beberapa kanopi tempat anak muda bercengkerama sambil menikmati matahari terbenam. PIM pun dipercantik dengan aksesoris jangkar raksasa yang digantung di bagian depan sehingga memperkuat citra tempat ini sebagai puncak karang alami yang menyerupai sebuah kapal.(sumber: aci.detik.com)

MASJID BENTE KALEDUPA


Kepulauan Wakatobi dikenal sebagian besar penduduknya beragama Islam, sehingga tak heran jika bangunan masjid tua banyak ditemukan di sana. Di salah satu pulau terbesar di Wakatobi, Kaledupa tepatnya di Desa Ollo terdapat masjid tua yang sarat akan sejarah dan makna budaya setempat.

Menurut keterangan sesepuh setempat, terdapat beberapa kisah yang berkaitan dengan masjid tersebut diantaranya yaitu bahwa masjid ini dibangun oleh orang yang sama dengan pembangun masjid di Keraton Buton dan Ternate dalam waktu bersamaan. Tepat di titik tengah bangunan masjid ini terdapat tanda khusus yang sampai sekarang masih dijaga keasliannya yang menyerupai lafaz muhammad. Titik tengah ini juga diriwayatkan pernah menjadi lokasi pemakaman secara hidup-hidup putri setempat yang berbaju daerah sesaat sebelum dibangunnya masjid ini. Masyarakat setempat juga percaya bahwa masjid ini pernah dicoba untuk direnovasi 3 kali, namun ketiga orang yang mencoba merenovasi tersebut meninggal dunia.

Selain penuh dengan cerita yang berbau legenda, masjid ini pun memiliki banyak makna pada setiap bagian bangunannya. Contohnya adalah adalah jumlah anak tangga menuju halaman masjid yang berjumlah tujuh, melambangkan 4 unsur tingkatan derajat manusia sesuai budaya setempat ditambah dengan 3 unsur pengawal raja. Batu penyusun anak tangga tersbut pun terbuat dari bahan yang berbeda-beda, menyesuaikan dengan filsafat tiap anak tangganya. Jumlah pintu dan jendela masjid ini pun berjumlah 17 yang melambangkan jumlah kewajiban rakaat yang harus dipenuhi setiap muslim.

Seakan tak ada habisnya memang jika mencoba untuk menguak setiap detil yang ada di masjid bersejarah warga Ollo ini, tapi warga setempat tidak terlalu ambil pusing dengan sejarah yang rumit atas masjid tersebut dan mengembalikan ke fitrahnya sebagai sebuah tempat ibadah sehari-hari, sebuah sikap sederhana yang terkadang patut ditiru.(sumber: aci.detik.com)

PEMANDIAN BUNGI


Kota Bau-Bau kian hari semakin berkembang, seiring ekonominya yang semakin meningkat tentu kebutuhan warganya akan tempat rekreasi pun semakin meningkat. Salah satu alternatif tempat wisata di Bau-Bau adalah pemandian Bungi.

Sebetulnya tempat ini hanyalah tempat warga sekitar melakukan aktivitasnya yang berkaitan dengan kebutuhannya akan sebuah sungai. Tapi lama kelamaan seiring meningkatnya keinginan warga untuk mendapatkan tempat wisata yang baru, beberapa tahun belakangan ini tidak hanya warga setempat tapi juga dari wilayah lain di Bau-Bau juga mengunjungi tempat ini sehingga secara perlahan tempat ini dikenal sebagai salah satu tempat wisata di Bau-Bau.

Pada sore hari dan musim liburan biasanya banyak warga yang datang untuk menikmati Pemandian Bungi ini. Alasan lain warga berkunjung ke tempat ini adalah sebagai alternatif bagi warga yang kurang berkenan dengan keramaian di Air Terjun Tirta Rimba karena jarak kedua tempat ini yang berdekatan. Selain itu pemandian yang terletak di Kecamatan Bungi Kota Bau-Bau tidak memungut biaya sama sekali kepada pengunjung, lagi-lagi biaya menjadi faktor utama dalam pariwisata di Indonesia.(sumber: aci.detik.com)

AIR TERJUN TIRTA RIMBA


Orang Bau-Bau menyebut air terjun sebagai air jatuh, sedangkan yang dimaksud air jatuh disini adalah Air Terjun Tirta Rimba. Tidak banyak memang air terjun di kota ini, dan Tirta Rimba merupakan salah satu yang paling populer bagi warga sekitar.

Air Terjun yang merupakan aliran Sungai Kokalukuna ini mempunyai ketinggian hanya sekitar 6 meter dengan lebar aliran sungai sepanjang kurang lebih 5 meter. Air mengalir dari atas melalui batu-batu besar menuju kolam yang telah dibentuk dengan ukuran sekitar 10×7 meter lengkap dengan papan tempat meluncur layaknya kolam renang. Tempat ini menjadi favorit terutama bagi anak-anak dan biasanya dikunjungi pada hari libur, sehingga bila berkunjung pada hari kerja suasana sepi dan damai akan kita dapatkan disana karena hanya terdapat beberapa pengunjung saja.

Air Terjun yang terletak 4 km dari kota Bau-Bau ini menjadi favorit warga sekitar karena selain letaknya yang strategis juga murah meriah. Pengunjung hanya dikenakan tarif sebesar Rp.2.000 dan bahkan pada saat di luar musim liburan pengunjung tidak dikenakan tarif sepeser pun. “Biasanya hanya hari libur saja ada yang jaga dan mengutip (memungut uang retribusi), itu pun tidak tentu kadang dari Dispenda, kadang dari Kehutanan, kadang dari instansi lainnya”, tutur salah satu warga yang sering berkunjung ke sana.

Cara terbaik untuk menikmati Air Terjun Tirta Rimba ini adalah dengan berdiri di bawah aliran air dekat batu-batu besar, karena airnya tidak terlalu deras sehingga cukup nyaman untuk berdiri di bawahnya. Air di sini juga sangat jernih karena memang tempat ini merupakan salah satu daerah konservasi yang berada dalam pengawasan Kementerian Kehutanan. Beberapa meter dari air terjun ini telah dibangun saluran khusus yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mirip aliran sungai alami yang berundak-undak dan ketika musim hujan tiba, seluruh aliran tersebut tertutupi air sehingga musim hujan terkadang menjadi waktu terbaik untuk mengunjungi Air Terjun Tirta Rimba.(sumber: aci.detik.com)

PUSAT KEBUDAYAAN WOLIO

Berada tidak jauh di luar kompleks keraton, terdapat istana Sultan Buton ke-38 yang kini menjadi museum atau Pusat Kebudayaan Wolio. Gagasan pendirian museum datang dari putra Sultan Buton ke-38 Drs. H. La Ode Manarfa Kaimuddin KK pada 1980. Saat ini Museum Kebudayaan Wolio dikelola oleh keluarga keturunan Sultan Buton ke-38. Koleksi museum terdiri atas benda-benda peninggalan dari Kesultanan Buton ke-38, berupa alat-alat upacara seperti tempolong, altar, vas bunga, senjata atau alat-alat peperangan seperti tombak, meriam, alat kesenian, alat rumah tangga, keramik, foto-foto dan lainnya.

Jika ingin mengetahui seluk-beluk Kesultanan Buton, menghunjungi Pusat Kebudayaan Wolio merupakan pilihan yang tepat. Tempat ini memang sengaja menjaga sejarah keslutanan Buton tidak hanya dalam bentuk benda-banda besejarah tapi juga kisah-kisah yang siap diungkapkan oleh keluarga yang menjaganya serta tak kalah penting nilai-nilai falsafah kehidupan orang Buton sendiri.

Cukup banyak falsafah hidup orang Buton yang sarat akan makna, diantaranya adalah Empat Aturan Dalam hidup bernegara dan berbangsa mereka memegang teguh empat aturan, yaitu Inda inda mo arata somanamo karo artinya, korbankan harta demi keselamatan diri. Kemudian Inda inda mo karo somana mo lipu, artinya korbankan diri demi keselamatan negeri, kemudian Inda inda mo lupu somanamu syara, artinya korbankan negeri yang penting pemerintahan. Terakhir adalah Inda inda mo syara somanamu agama artinya biarlah pemerintahan hancur yang penting agama.

Falsafah perjuangan kerajaan Buton ini tidak menentukan agama apa yang harus dibela, karena agama apapun sama saja, jika itu sudah menjadi pilihan orang atau negara yang bersangkutan. Selain falsafah negara, Orang Buton mempunyai falsafah hidup, yakni Po Mae Maeka, artinya sesama manusia harus tenggang rasa. Po ma ma siaka, artinya tiap manusia harus saling menyayangi, Po angka angka taka artinya tiap manusia harus saling menghargai dan Po pia piara artinya tiap manusia harus saling memelihara. Karena falsafah ini maka pasangan suami istri di Buton sangat awet dan takut sekali bercerai, mungkin prinsip ini perlu diadopsi banyak orang jaman sekarang yang sedikit bermasalah dengan yang terakhir ini.(sumber: aci.detik.com)

TAKIMPO LIPUOGENA


Pada acara ritual puncak pesta adat tahunan Takimpo Lipuogena, Parabela selaku Ketua Adat memimpin acara yang diawali dengan pelepasan rombongan Ande-ande, Gilisoria, Lakadandio serta rombongan Kalambe yang akan berjalan mengelilingi kampung.
Ande-ande mengambarkan kelompok anak yang baru belajar merangkak dan masih berada dalam dekapan sang ibu. Hal tersebut disimbolkan dengan gerakan tangan sejajar dada dengan suara laksana bayi. Kelompok kedua yang disebut Gilisoria menggambarkan anak yang sudah dapat berjalan dan disimbolkan dengan gerakan tangan ke atas. Selanjutnya, kelompok ketiga yang disebut Lakadandio menggambarkan kelompok anak lelaki yang telah beranjak dewasa. Yang terakhir yaitu kelompok Kalambe, menggambarkan kelompok wanita yang telah dewasa
Empat rombongan yang dilepas oleh parabela mempunyai makna, kelak nantinya anak akan meninggalkan rumah. Prosesi pelepasan diiring dengan nasehat yang disebut Lakedo. setelah rombongan yang dilepas pergi mengelilingi kampung, mereka kembali ke Baruga. Kemudian Parabela dan pendampingnya yang disebut Waci menerima kembali keempat kelompok dan diberi nasehat kembali yang disebut “Lakedo”.
Prosesi selanjutnya yaitu, Lawapulu yang berati dialog antara parabela dengan parabela pemuda, yang dimulai dengan mengucapkan salam penghormatan dengan tokoh adat dan tokoh agama. dua rangkaian ritual adat berturut-turut yang dilakukan yaitu lantun syair Ndo-ndo yang dilagukan oleh syara adat dan syara hukumu. Kemudian ritual Pidao’a yang dianalogikan proses jual beli. Prosesi ini dilakukan dengan tukar menukar barang (barter). Pelaksanaan prosesi ini dilaksanakan oleh kelompok kalambe. Ritual adat yang terakhir dilakukan yaitu Posanga’a yang artinya pamitan parabela Ana moane. Seluruh rangkaian pesta adat tersebut diadakan untuk menghimpun doa kepada maha kuasa agar saat musim tanam mendapat berkah dan hasil yang baik.

SAMPARONA

Samparona yang terletak di Desa Kaesabu Kecamatan Sorawolio, Kota Baubau telah menjadi tempat pelaksanaan Perkemahan Putri Nasional (Perkempinas) I dan telah masuk ke dalam kategori standar Nasional yang dapat menampung 1500 peserta pramuka.

Lokasi ini sebelumnya merupakan areal hutan pinus. Dengan dijadikannya tempat ini sebagai kawasan perkemahan, selain dapat digunakan sebagai tempat rekreasi juga dapat dimanfaatkan sebagai arena outbond training.

TARI HONARI MOSEGA


HONARI MOSEGA adalah tarian perang asli asal Liya, Kabupaten Wakatobi yang dahulu kala dijadikan sebagai tarian pengintai musuh yang diperkirakan mulai terjadi sejak pertengahan abad XI di pulau Oroho. Tarian ini dahulu kala dikembangkan oleh para Hulubalang dan Bajak Laut yang bermukim di pulau tersebut dalam rangka mempertahankan wilayah kekuasaan mereka dari para musuh yang akan memasuki daratan. Dan pengintaian ini akan nampak pada pasukan pengawal sejumlah 40 orang yang seluruhnya membawa tombak dengan hulu tajam, yang mana dikomandoi oleh seorang pembawa bendera berwarna kuning dengan memakai topi yang berhiaskan cermin. Antara isyarat yang diberikan oleh gerakan HORANI MOSEGA dengan prajurit pengawal 40 orang ini merupakan suatu kesatuan komando yang dinampakkan pada saat penghormatan para panari tersebut.

Dalam lingkungan keraton Liya penari HONARI MOSEGA ini pertama-tama menghadap ke Mesjid Agung Keraton Liya dan memberi hormat, kemudian setelah itu mulai teriak dan menari samnil membuka penghormatan arah Makam Leluhur sebelah utara dan melanjutkan gerakan tarian arah selatan dan diujung memberi hormat para penduduk dan kemudian melanjutkan kerakan menuju makam leluhur kembali sambil memberi hormat terakhir dilanjutkan bergerak menuju arah Baruga (tempat pertemuan Raja) dan menyerahkan katompide ditamsilkan barat mayat seorang yang sudah ditombak.

Katompide ditaruh ditanah sambil di beri perhatian 3 kali apakah mayat ini masih bergoyang atau tidak dan terus diawasi dengan bergerak mundur memutar melingkar dan maju kembali untk menonbak sambil mengambil tangkisan tersebut dan meloncat teriak dan berpaling dan menuju ke arah mesjid menombak sambil memutar dan terakhir memberi hormat.

Pada masa lalu sering tarian HONARI MOSEGA ini diserta dengan Makandara, yakni setelah penari memberi penghormatan terakhir, lalu masuklah pasulan SARA sebanyak 40 orang yang mengawal HONARI MOSEGA ini lalu mereka Makandara melakukan gerakan-gerakan silat layaknya peperangan melawan musuh lalu dilakukannya penikaman antara sesama pasukan dengan senjata tombak dan keris namun kesemua perlakuan ini tak ada satupun yang cedera dimakan oleh senjata tombak atau keris.

Pada kondisi demikian ini seluruh warga Liya yang sedang menonton semuanya lari kocar kacir menyembunyikan diri karena mereka merasa takut melihat ujung-ujung tombak yang dihantamkan pada dada atau perut seseorang dengan diserta bunyi namun orang yang ditombak tersebut tidak dimakan senjata tombak ibarat bunyi gemercingan besi diterima oleh tubuhnya. Namun perlakuan Makandara semacam ini masa kini sudah tidak lagi bisa dipakai mengingat ilmu-ilmu kebal sudah mulai agak funah di Liya dan Sara yang mempunyai kemampuan untuk mengatasi mara bahaya dari kagiatan ini sudah pada meninggal dunia.

Dalam tarian aslinya simbol-simbol gerakan diciptakan dengan tujuan dan maksud-maksud tertentu dan ketika itu hanya para perajurit pengawal 40 orang dan para hulubalang dan bajak laut yang mengetahui isyarat-isyarat itu untuk pemberian sebuah komando apakah menyerang atau menyambut lawan dengan baik.

TARI LUMENSE


Tarian ini menampilkan sejumlah simbol perilaku sosial masyarakat tradisional di Kabaena, salah satu pulau besar setelah Buton dan Muna di Provinsi Sulawesi Tenggara. Klimaks dari tarian ini adalah sebagian penari menghunus parang tajam, lalu batang-batang pisang pun rebah ke tanah!

Seperti kebanyakan seni tari tradisional yang masih orisinal, tarian lumense kurang mengeksplorasi tubuh melalui gerakan-gerakan yang dapat lebih mengekspresikan simbol-simbol keseharian masyarakat pendukung kesenian tersebut.

Gerak para penari hanya mengandalkan gerakan dasar dengan dukungan irama musik dari tetabuhan gendang dan bunyi gong besar (tawa-tawa) dan gong kecil (ndengu-ndengu). Namun, secara artistik, gerak tari lumense tetap memenuhi kriteria tontonan.

Terdapat tiga penabuh gendang, tawa-tawa, dan ndengu-ndengu yang bertugas membunyikan instrumennya, sebaris penari, dan anakan pohon pisang dalam jarak tertentu. Jumlah pohon disesuaikan dengan jumlah pemain ”putra”.

Kelompok penari lumense biasanya berjumlah 12 wanita muda: enam berperan sebagai pemain putra, dan sisanya sebagai putri. Semua pemain menggunakan busana adat Kabaena dengan rok berwarna merah maron. Baju atasnya hitam. Baju ini disebut taincombo, yang bagian bawah mirip ikan duyung.

Khusus para penari lumense, taincombo dipadu dengan selendang merah. Kelompok putra ditandai adanya korobi (sarung parang dari kayu) yang disandang di pinggang sebelah kiri. Parang atau ta-owu yang disarungkan di korobi dibuat khusus oleh pandai besi lokal dan selalu diasah agar matanya tetap tajam.

Tarian ini diawali gerakan-gerakan maju mundur, bertukar tempat, kemudian saling mencari pasangan. Gerakan mengalir terus hingga membuat konfigurasi leter Z, lalu diubah lagi menjadi leter S. Pada tahap ini ditampilkan gerakan lebih dinamis yang disebut momaani (ibing).

Pada saat itu tarian ini akan terasa amat menegangkan. Pasalnya, parang telah dicabut dari sarungnya dan diarahkan ke kepala penari putri sambil masih terus momaani. Dalam sekejap parang itu kemudian ditetakkan (ditebaskan) ke batang pisang. Dalam sekali ayun semua pohon pisang rebah bersamaan.

Tarian lumense ditutup dengan sebuah konfigurasi berbentuk setengah lingkaran. Pada episode ini para penari membuat gerakan tari lulo, dengan jari yang saling mengait sedemikian rupa sehingga telapak tangan masing-masing saling bertaut, lalu secara bersama digerakkan turun-naik untuk mengimbangi ayunan kaki yang mundur-maju.

Sekadar diketahui, tari lulo adalah tari pergaulan masyarakat Sultra di zaman modern ini. Tari yang dimainkan secara massal itu adalah tari tradisional masyarakat Tolaki di daratan jazirah Sultra, juga masyarakat Kabaena dengan perbedaan pola atau versi gerakan yang tipis.

Sebagian besar penduduk Pulau Kabaena sampai saat ini adalah petani tradisional. Membuka hutan untuk berladang atau berkebun adalah pola pertanian yang masih berlaku, terutama di pedalaman. Korobi atau sarung parang yang disandang penari ”putra” merupakan pengungkapan dari aktivitas keseharian masyarakat agraris yang masih tradisional itu.

Ada pula pihak-pihak yang menyebut tarian lumense tidak ramah lingkungan, itu hanya karena menampilkan adegan menebas pohon pisang. Namun, bagi masyarakat Kabaena, pohon pisang tidak bisa diganti dengan properti lain. Pasalnya, pohon pisang dipersonifikasikan sebagai bencana yang harus dicegah.

Bencana bisa dalam bentuk banjir, tanah longsor, wabah penyakit, dan kerusuhan sosial. Maka, ketika pohon pisang telah rebah, artinya bencana telah dapat dicegah, dan warga pun akan hidup dalam suasana yang aman dan tenteram.

Kekompakan dan rasa kekerabatan juga menjadi komitmen dalam kehidupan sosial masyarakat tradisional Kabaena. Hal itu disimbolkan dengan konfigurasi tarian massal lulo tadi.

Pada zaman dahulu (tarian) lumense ditampilkan dalam suatu acara ritual yang disebut pe-olia, yaitu penyembahan dalam bentuk penyajian aneka jenis makanan kepada roh halus agar roh halus yang disebut kowonuano (penguasa/pemilik negeri) berkenan mengusir segala macam bencana bagi ketenteraman hidup manusia. Penutup atau klimaks dari upacara sesajen tersebut adalah penebasan pohon pisang.

Tarian ini juga sering ditampilkan pada masa Kesultanan Buton. Kabaena dan Buton memiliki hubungan yang kuat dan tidak dapat dipisahkan karena Kabaena merupakan salah satu wilayah kesultanan Buton.

TARI LINDA

Tari Linda merupakan salah satu tari tradisional Buton, yang ditarikan gadi-gadis sebagai bagian dari ritual Posuo, yakni setelah 7 hari 8 malam para gadis menjalankan ritual tersebut. Adapun tarian yang berasal dari Kelurahan Waborobo Buton ini memperagakan gerakan dengan mengenakan selendang.



PANTAI TOPA

Topa adalah sebuah kampung antara Pantai Nirwana dan Pantai Lakeba. Tempat ini berada di dekat Bandara Betoambari, Kota Baubau. Para masyarakat setempat menyebut tempat yang baru saja rampung ini dengan sebutan Pantai Topa. Di sini pengunjung dapat menikmati keindahan laut dan juga tentunya berenang.



DANAU TEI LALO

Danau Tei Lalo menjadi salah satu obyek wisata kebanggaan masyarakat Kadatua. Jauh dari bibir pantai, dengan mengandalkan pasang surut air laut, menjadikan danau berbentuk telapak ini menambah khazana obyek wisata di Kecamatan Kadatua, Kabupaten Buton. Jarak ratusan meter dari bibir pantai dengan sumber air yang bergantung pada pasang surutnya air laut membuat masyarakat Kadatua mensakralkan lokasi tersebut. Sesuai dengan namanya, Tei Lalo dengan sumber mata air yang berasal dari laut, rasa air danau tei lalo sama dengan asinnya air laut. Bentuknya yang mirik tapak kaki, danau tei lalo dikisahkan masyarakat Kadatua bahwa danau tersebut merupakan jejak atau tapak kaki orang-orang terdahulu saat menginjakan kakinya di pulau tersebut. Sejumlah pohon beringin yang tumbuh dengan rindangnya dibibir danau membuat suasana menjadi sejuk saat menikmati panorama danau yang tidak jauh dari Kantor Camat Kadatua ini. Hidup berbagai jenis ikan dan penyu atau kura-kura danaui ini menjadi menarik untuk jadi obyek wisata alam Kadatua. Sebagai obyek wisata yang belum dikenal dimasyarakat luas, danau tei lalo masih dikunjungi masyarakat sepulau Kadatua. Danau ini mulai ramai pengunjung saat lebaran. Untuk masayarakat Kadatua, danau tei lalo memiliki fungi ganda selain obyek wisata juga sebagai lokasi latihan olahraga renang. Tidak heran, sejumlah atlit renang Kadatua mampu mengharumkan nama Kabupaten Buton pada iven-iven olahraga renang baik ditingkat provinsi maupun skala nasional.

PANTAI WARAA


Pantai Waara dekat kawasan Pelabuhan feri Wamengkoli menyimpan potensi menjadi tempat wisata jika dikelolah dengan baik. Hal ini terlihat dari kondisi pantai dengan pasir putih serta air yang bening ditambah lagi terumbu karang yang ada di pantai tersebut punya daya tarik tersendiri. Setiap penumpang yang sedang menunggu feri pasti menyempatkan untuk pergi ke pantai tersebut apalagi jaraknya yang berdekatan dengan Pelabuhan feri. Ikan-ikan yang terdapat di kawasan pantai tersebut juga beragam dan unik. Rata-rata orang yang datang di pantai itu penumpang feri yang menghilangkan kejenuhan menunggu feri yang belum datang. Suasana di pantai ini sangat menyenangkan dan cocok sekali menjadi tempat bersantai. Apalagi pemandangan disekitar pantai cukup indah.

Pantai Membuku


Pantai kawasan wisata Membuku merupakan salah satu obyek wisata yang dibanggakan warga Buton Utara. Pantai Membuku yang terletak di tepi laut Banda akan menjadi tujuan wisata primadona.

BRI PARK BAUBAU (TAMAN BRI BAUBAU)


Taman inovasi Pemkot dan BRI Baubau ini merupakan pilihan alteranatif yang tepat untuk refresing sambil menikmati makanan ringan. Pemandangan laut, rindangnya pepohonan, dan aktifitas pelabuhan Murhum tampak dari atas menjadi keunggulan yang ditawarkan taman tersebut.

Taman hijau diseputaran Jalan Letter Buton ini dapat digunakan sebagai tempat santai dengan nuansa alam yang indah. Banyak pemandangan yang menyejukkan di sini. Selain itu tempat yang baru saja diresmikan sebagai salah satu taman wisata yang berada di Kota Baubau ini juga bisa digunakan sebagai tempat olah raga, baik secara pribadi maupun keluarga.

Tags: , ,

One Response to “THE GREAT BUTON 2”

  1. Great Buton Says:

    Saya senang Anda merepost isi konten blog saya. Tapi saya mohon, tolong lampirkan url saya sebagai tanda kita menghargai hak atas kekayaan intelektual. Saya tidak masalah jika anda merepost asalkan Anda mencantumkan sumber greatbuton.blogspot.com

    terima kasih sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: