THE GREAT BUTON 3

TARI GALANGI

Tarian Galangi hingga kini masih menjadi kebanggaan masyarakat Buton. Tarian ini sudah ada sejak masa kesultanan. Pasukan Galangi merupakan pasukan pengawal Sultan Buton

PINDUAANO KURI

Piduaano kuri adalah sebuah ritual budaya yang di lakukan oleh masyarakat Wabula, Kecamatan Wabula Kabupaten Buton. Kegiatan ini merupakan kegiatan penutup dari keseluruhan rangkaian kegiatan adat dan budaya masyarakat wabula selama satu tahun.

Secara harafiah Pidoaano Kuri berarti pembacaan doa untuk keselamatan hidup, sehingga keseluruhan acara tersebut dilandasi oleh doa syukur kepada Allah atas Rahmat dan Hidayah-Nya sejak tahun lalu hingga sekarang dan permohonan doa untuk tahun yang akan datang.











KADAL TERBANG

Foto-foto kadal terbang yang ditemukan di hutan Lambusango, Buton, Indonesia. Bagian yang seperti sayap adalah bagian dada yang melebar. Karena ukurannya yang kecil, kadal ini sering pula disebut cicak. Corak tubuhnya menyerupai kulit kayu, yang berfungsi untuk melindungi diri dari cekaman musuh. Buton memang merupakan salah satu daerah yang masuk dalam zona Wallacea yang terkenal akan fauna endemik salah satunya ialah kadal terbang ini.




HUTAN MANGROVE BUTON UTARA


Sekitar 8.000 hektare areal hutan bakau dari 25.000 hektare luas hutan di Kabupaten Buton Utara (Butur), akan dikembangkan menjadi kawasan wisata andalan guna menarik arus wisatawan ke daerah tersebut. Hutan bakau, dapat memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat sekitarnya. Disamping juga memberi manfaat ekologis seperti mencegah abrasi, meminimalisasikan dampak gelombang pasang, dan terpenting adalah dapat membantu mengurangi pemanasan global. Kawasan hutan bakau yang berada di dua kecamatan yakni di Teluk Kulisusu Dalam dan wilayah Buranga pusat ibukota kabupaten, kini dalam tahap desain penetapan wilayah sekaligus akan mengubah kabupaten itu sebagai pusat kawasan budi daya laut “marine culture estate”. Program budi daya laut dimaksudkan agar bakau yang ada di kawasan itu tetap terjaga kelestariannya dengan memadukan program diversifikasi untuk pengembangan kepiting bakau, keramba apung tikus dan budidaya rumput laut (agar-agar).

BONGKAANA TAO

Secara harfiah, Bongkaana Tao berarti membongkar tahun. Acara tersebut merupakan pesta panen dan ritual menolak bala (bahaya. Akan ada upacara melabuhkan sesajen ke lautan sambil berdoa agar segala bencana bisa lenyap dan hilang di lautan lepas. Ada dua maksud digelarnya acara tersebut. Pertama adalah ungkapan rasa syukur atas rezeki yang dicurahkan Allah kepada warga sekitar. Kedua adalah memanjatkan doa agar dijauhkan dari segala bahaya dan sial yang bisa datang sewaktu-waktu. Jadi Bongkaana Tao artinya menutup masa panen dengan penuh suka cita sambil berharap agar tahun berikutnya lebih mendatangkan rezeki dan pengharapan.

Sesajennya berbentuk perahu dan di haluan terdapat kayu berbentuk kepala buaya, sedangkan di bagian buritan atau belakang perahu sesajen tersebut, terdapat patung ekor buaya. Menurut hikayat, dahulu di dasar sumur itu berdiam seekor buaya yang sakti sehingga sumur itu dianggap keramat. Hingga satu saat, buaya tersebut lenyap kemudian ada warga yang seakan mendapatkan wangsit agar setiap tahun diadakan ritual di sumur tersebut agar membuang sial dan mendoakan semua warga agar selalu bahagia dan bertambah rezekinya. Warga yang mendapatkan wangsit itu, selanjutnya menjadi pemimpin doa. Hingga bertahun setelah dia meninggal, posisinya akan digantikan oleh keturunannya.

Isis sesajen biasanya berupa makanan khas Buton seperti lapa-lapa, telur, dan aneka lauk-pauk. Setelah itu, seorang moji datang membawa tempat dupa, kemudian acara itu dimulai. Mereka lalu membakar dupa di kemenyan lalu sama-sama berdoa. Doa disampaikan dalam bahasa Arab dan diselingi dengan bahasa Indonesia. Saya mendengar beberapa kalimat yang diucapkan seperti jamaliyah, jalaliyah, yang kesemuanya adalah manifestasi sifat-sifat Tuhan. Kata tersebut sering diucapkan mereka yang mendalami tasawuf dan tarekat.

Usai berdoa, mereka lalu mengusung sesajen tersebut, kemudian membawanya ke laut. Mereka lalu berjalan menuju ke dekat lapangan tempat pekande-kandea, lalu ke dekat laut dan melepaskan perahu sesajen tersebut secara bersama-sama.

BENTENG PATUA


Sebelum memasuki benteng, terdapat gapura sederhana bertuliskan welcome to Patua, yang belakangan baru dibuat masyarakat setempat. Untuk menjangkau benteng, bisa menggunakan ojek dan angkot. Benteng pertahanan Patua menggambarkan adanya prajurit (militer) terorganisir ketika itu, prajurit salah satu negara di Jazirah Sulawesi Tenggara dengan pusat pimpinan di Wolio. Tomia masuk dalam wilayah Bharata Kaledupa (Kahedupa) daerah otonom di Bawah Pemerintahan Kesultanan Buton.
Hefafoa atau lazimnya disebut henangkara, kini tinggal sebuah bekas perkampungan tak berpenghuni karena sudah berabad-abad lamanya ditinggalkan. Pemimpin ketika itu La Ode Abu, memilih membangun benteng di bukit terjal di sebelah Timur Desa Kollo Patua. Benteng yang kira-kira seluas satu setengah lapangan sepak bola itu, berada di ketinggian kira-kira 100 meter di atas permukaan laut.
Sekedar untuk diketahui, La Ode Abu merupakan bontona Waha, putra kandung La Burukeni Taeni yang merupakan keturunan langsung dari La Ode Guntu asal Wolio dari golongan bangsawan Tanailandu. “Tahun 1830, distrik pertama dipimpin putra kandung La Ode Abu yang dikenal dengan nama La Mboge. La Mboge mempunyai lima orang anak dari hasil perkawinannya dengan Wa Ana, yakni La Hatibi, Tambusae, Lamasinae, La Taudu, dan Wa Tairu. Selanjutnya Kepala Distrik secara terus-menerus dijabat oleh keturunannya. Mulai dari La Masinae (H Ismail), dan H Muh Isa (anak La Hatibi).
Beralih ke Benteng Patua. Jika berada di atas benteng, dengan mudah kita dapat melihat bentangan laut banda, indahnya karang atol yang tampak putih muncul mungil dari kedalaman laut, teguhnya Pulau Runduma, Kaledupa, Wangi-Wangi, dan tampak samar Pulau Buton. Rupanya tempat itu cukup strategis untuk pencitraan jauh, melihat setiap lalu-lintas bajak laut dan kapal-kapal musuh yang dapat diantipasi jika sewaktu-waktu mengancam eksistensinya ketika itu.
Pulau Tomia yang terletak di Laut Banda, merupakan jalur menuju Barat dan Timur Nusantara menjadi salah satu tempat yang disinggahi oleh pelaut dan pedagang dari daerah lain ketika itu. Karena memiliki sebuah pemerintahan, maka didirikanlah benteng yang dijaikan sebagai fasilitas untuk mempertahankan eksistensi, sekaligus bisa dikatakan sebagai satu-satunya bangunan megah di sana beberapa abad yang lalu.
Konstruksi Benteng Patua terdiri dari batu gunung yang disusun menyerupai dinding, ketebalan satu hingga 1,5 meter dengan ketinggian berfariasi dari 0,5 hingga 3 meter. Pintu masuk benteng menghadap Timur dengan bentuk zigzag. Jika anda datang tanpa dipandu, salah-salah anda masuk hutan dan tak dapat masuk ke bagian dalam benteng.
Bisa dikatakan kekuasaan ketika itu sudah tersentuh oleh Islam. Karena di salah satu bagian benteng, terdapat bekas masjid. Entah bagaimana arsitekturnya, namun bisa dibayangkan mesjidnya tidak terlalu megah, namun sisa lantai yang rata dari kapur masih ada. Menurut tokoh budaya, La Maode, yang secara sengaja saya berkunjung ke rumahnya tahun lalu, saya masih ingat ia mengatakan masjid di dalam benteng ketika itu konstruksinya sagat sederhana. Yakni beratapkan daun nipa serta berdinding jalaja.
Di dalam benteng juga terdapat kuburan keramat orang nomor satu ketika itu. Di bagian tengah, terdapat takhta raja yang terdiri dari lempengan batu yang licin dan terlihat sangat istimewa. Ya bisa dipastikan jika batu itu adalah altar raja yang membelakangi tebing dan gorong-gorong yang tampak aman untuk dijadikan tempat berlindung. Sejurus dengan takhta itu, terdapat jalan pintas berbentuk rongga tembus ke hutan belantara menuju arah selatan benteng.
Sebuah rongga yang menembus dasar benteng. Sepanjang rongga itu, terdapat batu halus berwarna cerah tersusun rapi menyerupai pengerasan jalan dari kerikil, namun lebih artistik tak bercampur tanah sedikit pun. Ketika wartawan koran ini mencoba memasuki rongga itu, sekitar 10 meter lebih dengan instan tiba-tiba kami sudah berada di balik benteng dan berada di hutan dengan pokok kayu besar dan banyak. Spontan saya bayangkan, jika dalam keadaan darurat, betapa mudahnya untuk menyelamatkan diri dengan melewati lorong rahasia itu.
Di bagian Selatan benteng dengan ketinggian hingga tiga meter, terdapat sejumlah lubang mengintai serta bekas dudukan meriam (stan) meriam. Dari sejumlah stan meriam, hanya satu terdapat meriam. Meriam yang tersisa bernama bhadili La Faturumbu. Konon La Faturumbu jika membidikkan bedilnya, Pulau Tomia bergetar hingga piring-piring di rumah warga berbunyi gemerincing.
Bedil-bedil serupa banyak ditemukan di beberapa desa dan kelurahan di Tomia. Tapi yang pasti salah satu meriam dari Patua kini sedang berada di Pulau Runduma. Menurut cerita masyarakat setempat, bedil tersebut dipindahkan oleh Danramil Tomia pada tahun 70-an. Kini bedil itu diletakkan di depan Masjid Runduma.
Benteng Patua hanya bisa dikenang dari kebesaran namanya, sejauh ini belum pernah mendapat sentuhan, apalagi pemugaran. Bahkan pos jaga prajurit yang konstruksinya juga dari batu, telah ludes diambil oleh orang yang tak bertanggung jawab dan tidak paham apa arti dari situs bersejarah itu. Entah untuk pelebaran jalan, atau untuk membangun rumah, yang jelas semua bebatuan di pinggir benteng terancam.
Yang perlu dijaga, jangan sampai kumpulan batu yang membentuk benteng itu pun ikut diratakan untuk dijual. Maka dari itu, perlu uluran tangan pemerintah dan instansi terkait. Karena bagaimana pun juga, benteng patua merupakan situs bersejarah dan memiliki nilai sejarah dan daya tarik yang kuat. Bahkan berkali-kali benteng yang ditumbuhi semak-semak itu dikunjungi toris mancanegara, bahkan pelajar sejumlah pelajar untuk untuk tugas ekstrakurikuler dan mempelajari peninggalan peradaban masalalu masyarakat Tomia.

TARI MERERE


Tari Merere merupakan tari tradisional yang berasal dari Kulisusu. Sedangkan kata merere dalam bahasa Kulisusu disebut, membuat dinding pembatas yang berarti seseorang yang belum balig harus melaksanakan prosesi merere.
Merere adalah pelaksanaan prosesi adat untuk mengislamkan agar diberi pengetahuan ilmu keagamaan dengan diajarkan mengucapkan dua kalimat sahadat sebagai pertanda telah sah menjadi penganut agama Islam sejati.
Konon, sebelum acara merere digelar terlebih dahulu dilaksanakan upacara kegembiraan pada siang dan malam hari, yakni pertunjukan seni budaya balumpa, ngibi, dan pencak silat. Usai kegiatan tersebut, dilanjutkan dengan berziarah ke Mata Morawu sebagai simbol asal mula nama Kulisusu yang letaknya terdapat di dalam Benteng Keraton. Ritual ini menandakan bahwa seseorang telah tiba di Kulisusu.
Setelah seluruh ritual adat dilaksanakan, maka dimulailah upacara merere yang dilaksanakan pada malam hari. Itupun masih melalui beberapa tahapan, seperti mebulili (memutar), mehungki (pertanda acara memere telah selesai), moato (diarak keliling kota yang diiringi dengan bunyi-bunyian alat musik tradisional), me uhu (pemberian doa selamat kepada orang yang telah melaksanakan merere).
Sedangkan puncak dari pagelaran Tari Merere, saat dua penari putra, mengusung dan mengarak-arak seorang gadis. Gadis ini menutupi wajahnya dengan sehelai selendang berwarna biru sehingga raut wajahnya tidak terlihat jelas membuat penonton penasaran. Sepanjang mengitari panggung, gadis itu dipayungi dengan kain sutera berwarna kuning keemasan. Selanjutnya diikuti enam penari cantik, Sambil diiringi dengan musik tradisional, enam wanita cantik ini terus menerus menampilkan setiap gerakan Tari Merere. Proses selanjutnya, gadis itu diturunkan dan secara perlahan-lahan selendang yang menutupi wajahnya dibuka.

TARI LULO ALU

Tari Lulo Alu yang merupakan tarian khas masyarakat Kabaena. Tarian ini dibawakan 12 penari yang dibagi atas dua peranan. Delapan penari putra memegang alu (Penumbu Padi) yang menggambarkan pria yang menumbuh padi dan empat orang penari perempuan memagang nyiru sebagai alat penapis beras, ditambah sapu tangan yang menggambarkan proses penapisan.
Tari tersebut memiliki kaitan erat dengan Kesultanan Buton. Katanya, pada zaman dahulu Kabaena merupakan bagian dari Kesultanan Buton dan penghasil beras sebagai pilar penguat Kesultanan Buton yang jaya pada masanya. Oleh karena daerah tersebut merupakan penghasil beras yang sangat signifikan maka putra Kabaena berinisiatif menciptakan tari tersebut sebagai tarian yang melambangkan kesukuran kepada tuhan yang maha esa atas melimpahnya rezki dari hasil panen.
Dilihat dari gerakan yang dilakukan penari, tari lulo alu sesungguhnya simbolisasi kepemimpinan. Pasalnya, gerakan yang digunakan sangat energik yang berarti untuk mencapai hasil yang maksimal diperlukan energi yang tinggi. Pakaian yang digunakan dalam tari tersebut merupakan ciri khas Kabaena yang memiliki kaitan erat dengan pakaian adat Buton. Misalnya dasar pakaian yang berwarna hitam ditambah warna kekuning-kuningan dan kemerah-kemerahan.
Kabaena memang memiliki kaitan erat dengan Pulau Buton. Bahkan daerah ini memang sulit terpisahkan dengan Buton.

BATU POARO

Merupakan batu yang menjadi pertanda hilangnya penyiar agama islam di Buton yang bernama Syech Abdul Wahid di pesisir pantai Buton. Disebut Batu Poaro karena oleh masyarakat Buton menyebutkan bahwa Syech Abdul Wahid “Apoaromo te Opuna” yang artinya ia telah berhadapan dengan tuhannya dan batu ini dianggap sebagai makam beliau. Obyek Wisata ini terletak di Kelurahan Wameo Kecamatan Murhum 2 Km dari Pusat Kota Bau-Bau.

KABURABURANA


Kaburaburana berarti busa air yang ditimbulkan gesekan aliran sungai, mengalir dan jatuh di setiap teras hingga tujuh tingkatan. Alirannya sangat lembut terasa bagai air syurga ketika kaki ini mulai melangkah di atas bentukan endapan kapur dialiri air yang tipis, hanya kira-kira sampai mata kaki.

Sungguh indah ciptaan Tuhan yang satu ini. Hanya kecebong dan berbagai ikan kecil bermain lincah menikmati air jernih tampak di beberapa kolam yang terdapat hampir di setiap tingkatan. Terpesona aku melihat mahakarya yang hampir terlupakan itu, dialah permandian yang mepunyai nama besar dan cukup akrab di hati masyarakat Metro Baubau dan Buton Raya. Terletak di Desa Lawela Selatan, Kecamatan Batauga, hanya 20 menit perjalanan menggunakan sepeda motor dari Kota Baubau.

Kaburaburana mempunyai ruas aliran air yang cukup lebar kira-kira 30 meter. Akses masuk masih berupa pengerasan, jaraknya kurang lebih 1 km dari tepi jalan poros Batauga. Lahan lapang beberapa meter dari tangga turun cukup luas untuk menampung ratusan sepeda motor dan kendaraan roda empat. Dari kejauhan, suara desahan air terasa bagai memanggil untuk menjamahnya dan menikmati kelembutannya. Terdapat 104 anak tangga, di kaki bukit terdapat bangunan tua yang telah usang tempat berganti pakaian yang mulai dirimbuni semak belukar. Di depannya terdapat prasasti yang juga di balik semak-semak bertuliskan TMD Tentara Manunggal Desa 1992/1993.

Fasilitas Kaburaburana sangat sederhana dan apa adanya. Meski demikian, tetap saja memiliki aura cantik sejak dulu inilah alasan kenapa permandian alam Lawela ini ramai dikunjungi. Pemerintah baru menyadari Kaburaburana memiliki potensi menambah PAD. Sejauh ini baru tahap membuat rancangan perda tentang penarikan retribusi.

BANGKA MBULE MBULE

Bangka Mbule-Mbule adalah upacara melarung hasil bumi ke laut yang dilakukan oleh masyarakat Desa Mandati. Berbagai hasil bumi itu diantaranya padi, jagung, dan pisang. Sebelum dilarung ke laut, ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, hasil bumi diletakkan dalam perahu kayu yang dihiasi dengan sepasang orang-orangan sebagai simbol kejahatan. Kedua, perahu yang sudah berisi hasil bumi ini kemudian diarak keliling kampung guna mengusir mara bahaya yang akan mengganggu desa. Nah, perahu yang membawa hasil bumi yang akan dilarung ini disebut Mbule-Mbule.
Tujuan dari acara Bangka Mbule-Mbule adalah untuk mengucapkan syukur sekaligus menghindari bencana, seperti bencana alam, mewabahnya penyakit, atau persoalan sosial yang dapat mengakibatkan gangguan di masyarakat.

BALIARA

Baliara ialah tempat peristirahatan raja-raja. Baliara ini kurang lebih setinggi 3 m dengan luas juga kurang lebih 12 m x 12 m yang dahulu kala digunakan sebagai tempat pertemuan khusus para raja-raja. Baliara terletak di Desa Liya Kabupaten Wakatobi

LAWA LARO TUGO


Pintu masuk ini merupakan salah satu pintu gerbang benteng keraton liya yang seluruhnya terdapat sebanyak 12 buah ditambah 1 buah pintu rahasia yang keseluruhannya masih diperlukan sentuhan para arkiologis guna merenovasi dan meningkatkan kembali kondisinya sesuai aslinya dalam rangka pelestarian nilai-nilai budaya Liya di Wakatobi

Masjid Tua Mubaraq


Masjid Tua Mubaraq Desa Liya merupakan campur tangan Kesultanan Buton setelah Buton (Wolio) menganut Islam ± Tahun 1500 abad ke 15. SyekhAbdul Wahid mengislamkan Sultan Buton pertama Murhum dan mengutus Ulama ke Pulau Wangi-Wangi dan pertama tiba di Pulau Oroho, sebagai tempat pemukiman pertama masyarkat Liya pada tahun 1401. Ulama mengajarkan Islam di Pulau Oroho. Masyarakat di Pulau Oroho pindah di daerah Liya Togo karena kekurangan air. Dan setelah mereka tiba di Liya Togo maka didirikanlah masjid dan benteng ternama ini. Bahan-bahan perekat pondasinya dibuat dari kapur yang ditumbuk, dicampur dengan benalu di sebuah batu yang berbentuk yang dalam bahasa Wangi-Wangi dinamakan “Tumbu’a”(Lesung). Alat ini masih ada di depan masjid. Masjid Mubaraq memiliki ukuran Panjang Pondasi seluruhnya 15.80 m, Lebar 15.70 m, Tinggi 2.20 m, Panjang Badan Masjid 13.50 m, Lebar Badan Masjid 13.35 m, Panjang Mimbar Masjid 1.85 m danLebar Mimbar Masjid 4.00 m.

TUTURANGIANA ANDALA

Tutturangiana Andaala (persembahan ke laut), merupakan ritual kesyukuran masyarakat Pulau Makasar pada Sang Pencipta, atas keluasan rezeki yang terhampar luas disektor kelautan. Seperti ritual lainnya, yang banyak menggunakan penganan sebagai sesaji ritual, sesaji diletakkan disebuah perahu yang akan dilepas kelaut kemudian diiringi ratusan kapal/armada nelayan menuju “kolam laut” antara Pulau Makasar dan Kota Bau-Bau. Disanalah, sesaji itu dilepaskan diiringi doa-doa para tetua adat. Penyelenggaraan sesajen ini dilaksanakan diempat titik, yakni Sukanayo-Liwutu, ujung timur Pulau Makasar, dan kawasan Bukit Kolema.

MATAA

Pesta adat ini merupakan ritual adat yang umumnya digelar masyarakat etnik Laporo (Cia-cia), sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil panen yang diperolehnya dalam kurun waktu satu musim panen. Ritual adat ini, diselenggarakan disebuah Baruga (aula pertemuan) dipimpin oleh para tetua adat setempat, dengan pakaian khas dan tetabuhan irama yang mengiringi syahdunya ritual.

Masyarakat yang terlibat langsung pada ritual ini biasanya menyuguhkan berbagai panganan hasil panen mereka untuk dinikmati secara bersama-sama.Ritual Mataa ini umumnya diselenggarakan selama tujuh hari (sepekan) siang dan malam, dengan kegiatan-kegiatan atraktif dari masyarakat seperti tarian Linda dan Pencak Silat yang diperagakan oleh tua-muda etnik Laporo.

KABUENGA

Kabuenga ialah salah satu tradisi yang cukup sering diadakan di Pulau Wangi-Wangi dan hanya ada di pulau ini. Peminat dan penontonnya sangat banyak sampai berjubel dan memanjat daerah ketinggian. Inti sari acara ini adalah mempertemukan para perjaka dan perawan yang ingin mencari jodoh. Tiang bambu yang berdiri ini adalah tiang ayunan yang sudah didirikan satu bulan sebelum acara ini diselenggarakan yang diperuntukkan buat muda-mudi untuk saling mengenal satu sama lain. Kemudian pada acara puncak ini para lelaki akan saling mengungkapkan perasaan sukanya melalui bingkisan yang dibawa. Ada yang membawa kebutuhan wanita dan ada juga yang menunjukkannya melalui rupiah. Pot bunga yang dihiasi uang seratus ribuan itu asli. Sementara mereka yang berkeliling menjajakan minuman adalah para puteri yang belum sempat saling mengenali dengan calon pasangannya sehingga harus menebar pesona dengan menjajakan minuman. Lelaki yang menaruh minat akan memberikan uang yang cukup banyak untuk menarik perhatian sang pujaan hati.
Masyarakat di Wakatobi, punya cara dan tradisi tersendiri dalam mencari pasangan hidup. Melalui tradisi kabuenga, kaum muda-mudi di daerah itu dipertemukan secara langsung dilapangan terbuka. Dalam tradisi ini, kaum laki-laki dan perempuan yang telah akil balik dan telah berikrar bersama untuk menempuh jalan hidup bersama disandingkan diatas ayunan yang ditempatkan ditengah lapangan terbuka sehingga semua masyarakat bisa menyaksikannya.
Prosesnya, altar atau ayunan kabuenga lebih dulu dipersiapkan untuk menjadi media pertemuan bagi muda-mudi di kabupaten kepulauan itu saat tradisi Kabuenga dirayakan. Tradisi pencarian pasangan hidup yang dinanti-nantikan oleh seluruh masyarakat di kecamatan wangi-wangi, kabupaten Wakatobi ini selain telah menjadi ritual tahunan tradisi ini juga menyuguhkan tontotan unik dan menarik. Para pasangan mudi-mudi yang selama ini tidak memiliki saluran untuk berkomunikasi melalui tradisi ini mereka secara langsung bisa saling bertemu dan menyatakan ikrar untuk menjadi pasangan hidup.
Dalam tradisi kabuenga ini, kaum perempuan yang sudah akil balik berkumpul melingkari altar kabuenga sambil menggunakan pakaian adat khas wakatobi dan menyiapkan sajian makanan tradisional yang dihiasi dengan beragam aksesoris namun nilai naturalnya tetap terjaga. Tarian pajoge yang diiringi irama gendang dan bunyi gong mengawali proses sakral ini. Selain kaum muda mudi, kalangan orang tua juga memainkan tarian ini. Bagi laki-laki yang ikut serta dalam tarian ini, diwajibkan untuk merogoh kocek dan memberikan uang kepada kaum perempuan.
Makna filosofis tarian pajoge ini, menceritakan kehidupan setiap kaum laki-laki di kabupaten kepulauan wakatobi yang sebagian besar hidupnya selalu menjadi perantau. Dalam perantauan, kaum laki-laki bernazar saat pulang kampung halaman wajib menyumbangkan sebagian pendapatannya kepada para penari-penari yang menyambutnya. Untuk mengiringi prosesi kabuenga, para pemangku adat kemudian mengelilingi ayunan kabuenga yang berdiri ditengah lapangan terbuka sambil mengalunkan irama lagu tradisional. Prosesi ini sebagai sebuah simbol penghayatan nilai-nilai sakral ritual ini yang melambangkan kekuatan jiwa dan kebersamaan masyarakat wakatobi.
Proses selanjutnya, para kaum wanita baik tua dan muda berjalan bersama mengelilingi altar kabuenga sebanyak 7 kali sambil melantunkan syair dan pantun serta membawa minuman ringan yang akan dipersembahkan kepada setiap laki-laki yang nantinya akan menjadi calon pasangan hidup kaum wanita didaerah ini. Selain dalam momentum seperti ini , biasanya tradisi balas pantun ini dilakukan saat memasuki puncak bulan purnama dimana para kaum wanita hanya berada didalam rumah sedangkan kaum laki-laki hanya berada diluar rumah. Proses akulturasi masyarakat didaerah ini lambat laun telah mengubah tradisi kabuenga yang diwariskan oleh nenek moyang masyarakat dikepulauan wakatobi ini. Pencarian pasangan hidup tidak lagi dilakukan seperti dulu dimana seluruh prosesi harus dilakukan secara tertutup.
Kini tradisi itu mulai berubah dan dilakukan secara terbuka. Meski demikian, tradisi ini tetap dianggap sakral karena tradisi ini tidak semata hanya menjadi ajang pencarian pasangan hidup, tetapi menjadi wahana untuk memperkuat nilai kebersamaan masyarakat di kepulauan wakatobi. Kaum perempuan yng berada dalam barisan ini disebut sebagai kelompok kadandio. Setiap perempuan yang membawa minuman ringan dipersembahkan kepada seorang laki-laki yang diyakininya akan menjadi pasangan hidupnya. Dalam tradisi ini, setiap perempuan harus memperlihatkan prilaku sopan santun kepada seorang laki-laki yang akan mendapat suguhan minuman persembahan sang perempuan. Tradisi ini disebut sebagai adat posambui. Setelah kaum perempuan kini giliran kaum laki-laki yang mengelilingi altar kabuenga. Bila para kaum perempuan membawa minuman ringan para kaum laki-laki pun melakukan hal serupa, namun bedanya para laki-laki mempersembahkan beragam sajian makanan dan barang seperti sarung dan pakaian. Dalam proses ini kaum laki-laki juga mengelilingi altar sebanyak 7 kali sambil melantunkan pantun.
Setelah balas pantun antara kaum laki-laki dan perempuan digelar setiap laki-laki dan wanita yang telah mengikrarkan diri untuk menempuh pasangan hidup diantar menuju ayunan kabuenga. Setiap pasangan duduk diatas ayunan sambil diayun oleh pemangku adat yang sejak awal telah mengelilingi altar ini. Irama syair dan pantun yang dinyayikan oleh para pemangku adat terus bersahutan mengiringi setiap pasangan yang berada diatas ayunan. Khusus untuk perempuan ayunan kabuenga ini menjadi ajang penilaian bagi setiap laki-laki yang akan menjadi calon pasangan hidupnya. Calon laki-laki pasangan mereka masing-masing sudah bisa melihat apakah sicalonnya memiliiki etika dan moral yang santun atau memiliki karakter yang lemah lembut termasuk sifat baik dan buruknya.
Inti sari acara ini adalah mempertemukan para perjaka dan perawan yang ingin mencari jodoh. Tiang bambu yang berdiri ini adalah tiang ayunan yang sudah didirikan satu bulan sebelum acara ini diselenggarakan yang diperuntukkan buat muda-mudi untuk saling mengenal satu sama lain. Kemudian pada acara puncak ini para lelaki akan saling mengungkapkan perasaan sukanya melalui bingkisan yang dibawa. Ada yang membawa kebutuhan wanita dan ada juga yang menunjukkannya melalui rupiah. Pot bunga yang dihiasi uang seratus ribuan itu asli. Sementara mereka yang berkeliling menjajakan minuman adalah para puteri yang belum sempat saling mengenali dengan calon pasangannya sehingga harus menebar pesona dengan menjajakan minuman. Lelaki yang menaruh minat akan memberikan uang yang cukup banyak untuk menarik perhatian sang pujaan hati. Bagi calon pasangan laki-laki dan perempuan, setelah melalui proses kabuenga ini selanjutnya tinggal menunggu pembicraan lebih lanjut ditingkat keluarga untuk menuju kepelaminan.

TIKAR LIPAT WAKATOBI

Satu lagi kerajinan asli Kepulauan Wakatobi yang rasanya pantas untuk dibicarakan adalah seni anyaman tikar lipat dari Feruke. Dengan bahan dasar daun pandan yang dikeringkan, dan kemudian dianyam menjadi tikar. Banyak penduduk desa Feruke mencoba menjualnya ke turis yang biasa datang ke sana. Biasanya baru setelah dijemur selama tiga hari. Daun pandan siap untuk dianyam menjadi tikar liap. Harganya juga tidak terlalu mahal,berkisar antara 25 – 50 ribu saja, kita telah memiliki sebuah tikar lipat seukuran badan orang dewasa. Rasa sejuk yang keluar saat kita tidur di atasnya, menjadi daya tarik tersendiri di tengah teriknya udara lautan di sana

SUAKA MARGA SATWA BUTON UTARA

SM Buton Utara terletak pada ketinggian 0-600 m (dpl). Topografi datar, landai bergelombang hingga berbukit-bukit, dengan kelerengan 0-30%. Jenis tanah mediteranian dan podzolik merah kuning, di beberapa tempat sering dijumpai batu karang atau coral, dengan top soil tipis. Tipe iklim C, musim hujan biasanya jatuh pada bulan Januari-Juni dan musim kemarau pada bulan Juli-Desember dengan curah hujan tahunan sebesar 2.286 mm, dengan jumlah hari hujan rata-rata 106 hari. Suhu tertinggi mencapai 34°C, suhu terendah hingga 22°C, dengan kelembaban sebesar 80 %.
Kawasan konservasi jni memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan yang cukup tinggi. Jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan antara lain dolipo (Terminalia copelandil), soni (Dillepia megalantha), gito-gito (Diospyros pilosenthera), cendrana (Pterocarpus indicus), kaba (Canangium odoratum), bengkali (Anthocephallus indicus), Kenari (Canarium vulgaris), Bintangur (Dillenia serrata), dao (Dracontomelon dao), dan beberapa jenis anggrek (Acanthepipium sp, Bulbophyllum sp, Dendrobium sp, dan Eria floribunda).
Sedangkan satwaliar yang berhabitat dalam kawasan antara lain: anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), anoa pegunungan (B. quarlesi), rusa (Cervus timorensis), monyet Buton (Macaca brunnences), kus-kus (Phalanger sp.), dan maleo senkawor (Macrocephalon maleo).
Kekayaan jenis flora dan fauna ini didukung oleh tipe ekosistem yang ada, yaitu hutan bakau, hutan pantai, hutan dataran rendah, dan hutan pegunungan rendah.

HUTAN LAMBUSANGO

Hutan Lambusango merupakan salah satu hutan lindung yang terdapat di Sulawesi Tenggara dengan luas 65.000 ha. Hutan ini secara geografis terletak pada 05°13‘05°24‘ Lintang Selatan (LS) dan 122°47‘122°56‘ Bujur Timur (BT) dengan ketinggian antara 5 m sampai 300 m dari permukaan laut (dpl). Hutan ini memiliki topografi alam datar hingga berbukit dengan curah hujan yang turun per tahun rata-rata berkisar 1.980 mm, suhu udara berkisar di antara 20°C hingga 34°C serta kelembapan sekitar 80%.
Pada tahun 1982, melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian Nomor 639/Kpts/9/Um/1982 tertanggal 1 September 1982, kawasan Hutan Lambusango ditetapkan sebagai hutan lindung.

Keputusan tersebut mengatur kawasan hutan ini untuk dikelola sebagai Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, seperti konservasi alam dan penelitian hutan. Melalui surat keputusan itu juga, kawasan Hutan Lambusango dibagi ke dalam 3 wilayah, yaitu Suaka Margasatwa dengan luas area sekitar 28.510 ha; Cagar Alam Kakenauwe dengan luas sekitar 810 ha; dan Kawasan Hutan Lindung dan Produksi yang terletak di sekitar kawasan konservasi hutan dengan luas area sekitar 35.000 ha. Semenjak tahun 1984, oleh pemerintah setempat kawasan Hutan Lambusango dipercayakan pengelolaannya pada Resort KSDA (Konservasi Sumber Daya Alam) Lambusango yang ditugaskan untuk menjaga kelestarian hutan serta melakukan upaya konservasi pada area yang dipergunakan untuk hutan produksi.

Hutan Lambusango memiliki keindahan alam yang menawan. Keindahannya tercipta dari perpaduan hamparan aneka flora dan fauna yang menjadi ciri khas satwa dan tumbuhan di Sulawesi Tenggara. Jenis flora yang terdapat di hutan tersebut mewakili jenis tumbuh-tumbuhan, seperti kayu besi (mitocideros petiolata), kuma (palaquium obovatum), wola (vitex copassus), bayam (intsia bijuga), cendrana (pterocarpus indicus), bangkali (anthocephallus macrophyllus), kayu angin (casuarina rumpiana), sengon (paraserianthes falcataria), dan rotan (calamus spp.). Sementara, aneka jenis fauna di hutan ini meliputi, anoa, kera hitam, rusa, kus-kus, sapi liar, biawak, merpati hutan putih dan abu-abu, musang sulawesi, serindit sulawesi, dan beraneka satwa lainnya.

Oleh karena memiliki kekayaan flora dan fauna yang beragam, Hutan Lambusango juga sering dimanfaatkan oleh para ahli sebagai tempat penelitian. Penelitian dilakukan dalam rangka mencermati kehidupan hayati, kondisi ekologi, sampai upaya konservasi alam. Para peneliti yang datang ke kawasan Hutan Lambusango tidak hanya berasal dari dalam negeri, melainkan juga datang dari luar negeri.

Tags: , ,

One Response to “THE GREAT BUTON 3”

  1. Great Buton Says:

    Saya senang Anda merepost isi konten blog saya. Tapi saya mohon, tolong lampirkan url saya sebagai tanda kita menghargai hak atas kekayaan intelektual. Saya tidak masalah jika anda merepost asalkan Anda mencantumkan sumber greatbuton.blogspot.com

    terima kasih sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: