Wisata Alam dan Budaya Bumi Lakipadada Tana Toraja

Wisata Alam dan Budaya Bumi Lakipadada Tana Toraja

Bumi Lakipadada, Tana Toraja. Daerah primadona wisata Sulsel ini juga dijuluki surganya wisata alam dan budaya, karena memiliki kekayaan dan keindahan obyek wisata budaya yang termasyhur di dunia.
Wilayah Tana Toraja memiliki luas 3.205,77 km2, terdiri dari 15 kecamatan, 116 lembang (desa), dan 27 kelurahan.

Kondisi topografi Tana Toraja berada di daerah pegunungan, berbukit dan berlembah. Yang mana areanya terdiri dari 40% pegunungan dengan ketinggian antara 150 m s/d 3.083 m di atas permukaan laut (dataran tinggi 20%, dataran rendah 38%, rawa-rawa dan sungai 2%). Bagian terendah kabupaten ini, berada di Kecamatan Bonggakaradeng dan tertinggi Kecamatan Rindinggallo. Kondisi tersebut menjadikan kabupaten ini kaya akan keragaman obyek wisata alam dan budaya yang hingga kini tetap terjaga dan terpelihara. 

Tana Toraja memiliki kekayaan budaya warisan leluhur yang tidak akan dijumpai di belahan bumi lain selain di Tana Toraja.
obyek wisata Kambira (kuburan pohon khusus bayi), Londa, Kete Ke’su, Batutumonga, Lemo Buntang, Bori, Lo’ko Mata, Perkampungan Buntao, Nanggala, Marante, Pekampungan Seni Ukir, arum jeram di Sungai Sa’dan, dusun Patane dan keragaman budaya upacara kematian (rambu solo) dan pesta syukuran (rambu tuka), Silaga Tedong atau pun atraksi Sisemba (adu kaki). 

Wisata Alam dan Budaya    

Kambira (Kuburan Bayi di dalam Pohon)   

Obyek wisata satu ini sangat unik, karena jenazah bayi yang sudah meninggal dimasukkan ke batang pohon. Sebelum jenazah dimasukkan ke dalam batang pohon, terlebih dahulu batang pohon itu dilubangi, dengan ketentuan lubang tidak boleh menghadap ke arah kediaman keluarga yang meninggal. Mayat bayi lalu diletakkan ke dalam, dan ditutupi dengan serat pohon dari bahan pelepas enau (kulimbang ijuk). Pengunjung yang bertanda di perkampungan ini, bisa melihat langsung kuburan para bayi yang dimakamkan di atas pohon. Pohon tersebut bernama Tarra, pohon yang menyerupai pohon buah sukun dengan lingkaran batang pohon sekitar 3,5 meter. Pohon ini telah berumur sekitar 300 tahun dan tersimpan puluhan jenazah bayi berusia 0-7 tahun di dalamnya. Obyek wisata Kambira berada di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 km dari Kota Rantepao. Saat ini pohon tempat menyimpan mayat bayi tersebut sudah tidak digunakan lagi. Namun pohon Tara tersebut masih terlihat tegak berdiri, sehingga menjadi data tarik yang banyak dikunjungi wisatawan lokal mau pun mancanegara.   

Dusun Patane   

Tempat wisata ini menarik untuk dikunjungi. Karena dapat dijumpai setiap kali kita melewati beberapa dusun atau perkampungan warga. Patane adalah kuburan dari kayu yang berbentuk rumah Toraja. Biasanya dalam satu dusun, memiliki area Patane yang memang sudah dipersiapkan secara berkelompok. Di mana satu Patane, biasanya digunakan oleh satu keluargga yang akan menyimpan mayat keluarganya didalam lebih dari satu jenazah, bahkan biasa ada yang lebih dari lima jenazah. Dan itu dilakukan warga dengan ketentuan kelompok yang mereka buat tersendiri, yang juga disesuaikan dengan kesetaraan status sosial berkelompok yang berbeda-beda. Misalnya Patane Pong Massangka yang merupakan turunan bangsawan, di makamkan di dalam Patane, yang dilengkapi dengan patung (tau-tau) dirinya, terbuat dari kayu. Obyek wisata ini menjadi keunikan tersendiri buat wisatawan domestik dan mancanegara, yang selalu menyempatkan diri berkunjung ke Dusun Patane.   

Lokomata   

Obyek wisata ini disebut Lokomata, karena berbentuk bulat dan menyerupai kepala manusia. Batu raksasa alam ini digunakan sebagai liang (kuburan) oleh masyarakat yang bermukim di sekitar Desa Pangden, dengan cara membuat lubang pada baru raksasa. Ukuran lubang disesuaikan dengan ukuran peti jenazah yang nantinya akan di masukkan ke dalang liang. Lokasi Lokomata berada di desa Pangden ±30 km dari Kota Rantepao, atau berada di lereng Gunung Sesean, dengan ketinggian kurang lebih 1.400 meter di atas permukaan laut. Tempat wisata ini begitu unik, menawan, dan fantastik untuk dikunjungi. Karena selain melihat liang, pengunjung juga disuguhkan panorama alam yang begitu indah, serta deru arus sungai di bawah kaki kuburan terlihat begitu alami.   

Sungai Sa’dan, Mai’ting, Maulu dan Ma’dong   

Arus air di sungai ini diakui sangat menarik. Karena para wisatawan dapat melakukan wisata alam, yakni arung jeram secara alami. Segala fasilitas dan perlengkapan arung jeram dapat disewa di seputaran sungai. Tentu saja dengan tarif yang terjangkau bagi pengunjung.   

Permandian Makula dan Air Terjung Ranteballa   

Obyek wisata air panas Makula berada tidak jauh dari Kota Rantepao, jaraknya sekitar 28 km. Di tempat ini tersedia kolam anak dan dewasa yang dapat digunakan untuk berendam air panas setelah perjalanan jauh atau lelah mengunjungi beberapa obyek wisata yang ada di Rantepao. Untuk masuk ke Makulan pengunjung dikenakan biaya Rp 10.000 (dewasa) dan Rp 5.000 (anak-anak).     

Selain permandian air panas Makula, juga ada air terjun asin di Kampung Ranteballa, Kecamatan Bittuang. Menariknya air terjun itu terbilang langka. Pasalnya selain tingginya mencapai sekitar 50 meter, debit airnya juga tidak pernah berkurang sekalipun musim kemarau. Airnya ini sangat sejuk dan asri. Kedua obyek ini, sangat ayik dinikmati sehabis berkunjung ke obyek wisata Kambira, Dusun Patena, Lokomata dan bermain arung jeram.   

Wisata Unik dan Menghibur   

Selain beberapa obyek wisata yang dapat Anda kunjungi di Tana Toraja, keragaman atraksi wisata juga menjadi daya tarik unik dan menghibur bagi wisatawan yang berkunjung. Seperti dapat menyaksikan upacara pemakaman jenazah (rambu solo) dan pesta syukuran (rambu tuka) yang merupakan kalender tetap tiap tahun, tidak terkecuali di program kolosal dari Pemprov Sulsel, yakni Lovely Desember yang baru-baru diadakan tahun 2008 kemarin. Selain mengunjungi wisata di upacara kematian rambu solo dan rambu tuka, ada juga atraksi Sisemba dan Silaga Todong. Dalam atraksi ini, puluhan pemuda Tana Toraja, berseragam putih dan biru saling serang dengan menggunakan kaki. Aksi ini bukanlah tawuran, melainkan sebuah seni beladiri masyarakat Tana Torja yang unik. Dimana kaki kedua kelompok saling beradu, mengejar, dan kembali beradu kaki. Biasanya atraksi Sisemba, ditampilkan secara massal di perayaan pesta panen atau pesta kematian.   

Suvenir Khas Toraja   

Setelah menikmati keindahan panorama obyek wisata alam dan budaya, Anda bisa mampir di toko-toko pada pusat Kota Rantepao untuk membeli beragam cinderamata dan makanan khas Toraja, seperti Depa Tori, makanan yang terbuat dari beras ketan dicampur gula merah. Bentuknya kecil, garing dan manis. Ada juga ukiran Toraja, yang bisa dibawa pulang dan jadikan oleh-oleh untuk sanak keluarga, sahabat dan mitra kerja Anda, seperti kain tenun, patung, golok, dan rumah-rumahan tongkonan dari yang kecil sampai yang besar. Harganya dijamin murah dan menjangkau dompet pengunjungnya. Jadi tunggu apa lagi, Bumi Lakipadada siap setiap saat menanti kunjungan Anda.

Sumber : galeriwisata.wordpress.com

4 Responses to “Wisata Alam dan Budaya Bumi Lakipadada Tana Toraja”

  1. abdi Says:

    wow.. jadi pengen kesitu..
    ^_^

  2. Seto_Bori Says:

    Mantappp………

  3. Adel Toraya Says:

    Ditunggu di Toraja ya…

  4. putrihanum Says:

    keren jadi pengen ke situ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: